Kenaikan Harga Minyak Dunia dan Peluang Keberkahannya

November 6, 2007 by Wahyu Setyawan  
Filed under Ekonomi

Kenaikan harga minyak dunia yang hampir menyentuh angka 100 dollar Amerika Serikat (AS) per barrel, telah memberikan dampak luar biasa pada perekonomian global saat ini. Bisa dikatakan bahwa tidak ada satu negarapun yang menerapkan sistem ekonomi terbuka yang tidak merasakan dampak kenaikan harga minyak dunia tersebut. Adapun penyebab utama dari kenaikan harga minyak dunia ini ditengarai sebagai kombinasi dari adanya faktor ketegangan di Timur Tengah—antara Turki dan Irak yang penghasil minyak—serta masalah baru antara AS dan Iran, ditambah jatuhnya cadangan minyak AS menjelang musim dingin, serta keraguan akan penambahan produksi OPEC (Kompas, 27/10/07). Seiring dengan kenaikan tersebut, kemudian bermunculanlah berbagai dampak atas kenaikan harga minyak dunia tersebut. Seperti yang dapat kita lihat di Indonesia bahwa kenaikan harga minyak dunia ini telah menyebabkan industri manufaktur domestik terpukul telak. Namun demikian, tidak semua negara dengan adanya kenaikan harga minyak dunia ini lantas mengalami dampak negatifnya. Beberapa negara penghasil minyak dunia justru mengalami keuntungan dari kenaikan harga minyak dunia ini. Keuntungan dari kenaikan harga minyak ini kemudian banyak ditanamkan dalam bentuk Sovereign Wealth Funds (SWFs). Read more

Arah Baru Isu Perdamaian

October 22, 2007 by Wahyu Setyawan  
Filed under Lingkungan, Pertahanan Keamanan

Perubahan logika.
Sekiranya terminologi tersebut cukup pantas untuk menggambarkan tentang apa yang terjadi di ajang raihan Nobel Perdamaian 2007 yang baru saja berlangsung.Al Gore Mengapa demikian? Dikatakan sebagai perubahan logika mengingat yang memenangkan Nobel Perdamaian tersebut adalah Albert Arnold Gore atau yang lebih populer dengan sebutan Al Gore dan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), yang selama ini dikenal bergerak dalam isu pemanasan global dan perubahan iklim. Kontroversi pun berkembang seiring dengan jatuhnya penghargaan tersebut ke ranah yang selama ini dianggap sebagai isu “kelas dua” dan berada diluar aras kajian perdamaian. Read more