Review buku: Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung
April 12, 2008 by verdinand
Filed under Diplomasi, HAM dan Demokrasi
Buku ini saya beli ketika DR. Dr. Siti Sadilah Supari, Sp.JP (K) sang penulis buku yang kini sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia berkunjung ke FISIP UI untuk memberikan seminar mengenai avian diplomacy. Saya hanya 15 menit berada di dalam ruangan seminar (Datangnya telat) dan langsung tergugah dengan diskusi seminar itu. Saya memutuskan untuk membeli buku yang ditulis beliau yang konon menjadi kontroversial dan laku keras di beberapa negara Asia, Eropa dan Amerika. Dan benar adanya, saya sangat menikmati buku ini meskipun harganya cukup mahal bagi saya, Rp. 50.000 (ini udah harga diskon).
Bagi Anda yang masih percaya akan adanya nasionalisme dan keadilan global dalam hubungan internasional maka wajib hukumnya untuk membeli buku ini. Buku ini sebenarnya catatan harian dari Ibu Menteri ketika memperjuangkan transparansi dan keadilan dalam organisasi kesehatan dunia, WHO (World Health Organization). Ceritanya berawal ketika banyak negara (termasuk Indonesia) dilanda bencana virus Flu Burung. WHO mewajibkan negara-negara yang menderita virus Flu Burung untuk menyerahkan virusnya ke laboratorium mereka. Namun anehnya, hasil penelitian dari virus tidak diberikan kepada negara penderita (affected countries). Tiba-tiba vaksinnya sudah ada dan dijual secara komersial. Vietnam, contohnya, memiliki banyak penderita penyakit Flu Burung. Vietnam pun memberikan sampel virusnya ke WHO. Tidak ada vaksin yang didapat malah terpaksa untuk membeli vaksin Flu Burung dari salah satu perusahaan farmasi AS dengan harga mahal. Darimana vaksin itu berasal kalau bukan dari sampel virus flu burung Vietnam?
Ibu Menteri mencium aroma kapitalistik dari negara-negara maju, sebut saja, Amerika Serikat. Jelas saja ini akan sangat merugikan Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya apabila memberikan virus Flu Burung namun tidak mendapatkan vaksinnya. Ada dugaan kalau WHO justru menjual kembali virus itu kepada perusahaan farmasi AS untuk dibuatkan vaksinnya yang akan dijual secara komersial kepada negara-negara yang menderita pandemi Flu Burung. Hal ini semakin jelas ketika pihak WHO yang diwakili Dr. Heyman mendatangi Ibu Menteri Kesehatan memaksa Ibu Siti Fadilah untuk memberikan sampel virus Flu Burung Indonesia kepada WHO. Dari hasil sebuah penelitian, virus Flu Burung ala Indonesia memiliki tingkat keganasan yang sangat tinggi. Vaksin flu burung yang sudah ada waktu itu tidak mampu mengatasi virus Flu Burung ala Indonesia. Ibu Menteri Kesehatan menyadari bahwa virus Flu Burung ala Indonesia yang sangat dibutuhkan WHO adalah sebuah bargaining power untuk mereformasi WHO yang tidak adil dan menguntungkan AS saja.
Dimulailah pertarungan antara Daud dan Goliat. Daud yang diwakili Menteri Kesehatan RI melawan Goliat yang diwakili WHO dan AS. Sangat seru membaca bagaimana Ibu Menteri Kesehatan berjuang menghadapi perwakilan WHO yang sangat ngotot meminta RI memberikan virus Flu Burung tanpa syarat. Meskipun berlatar belakang dokter, Ibu Menteri berusaha belajar bagaimana berdiplomasi multilateral di tingkat organisasi internasional. Untunglah DEPLU RI bersedia membantu Ibu Siti Fadilah dalam menggalang dukungan dari negara lain untuk proposal Indonesia. Bu Siti Fadilah pun cukup lihai dalam menggunakan media internasional untuk menyudutkan WHO dan AS. Beberapa kali media internasional seperti The Economist, Guardian mendukung dan memuji perjuangan Ibu Siti Fadilah. Anehnya, media nasional dan anggota DPR justru mencaci maki gerakan ini (mungkin karena keterbatasan informasi dan sibuk buat “UUD“).
Sangat seru membaca dialog-dialog antara Ibu Siti Fadilah dengan pejabat-pejabat WHO seperti David Heyman dan Margareth Chan. Terjadi beberapa kali pertemuan menegangkan antara Ibu Siti Fadilah Supari dengan WHO. Bahkan, pejabat-pejabat senior AS sendiri sempat bertemu dua kali dengan Ibu Siti Fadilah membujuk Ibu Siti Fadilah membatalkan niat Indonesia untuk mereformasi WHO. Meskipun berdarah Jawa, bagi saya Ibu Siti Fadilah ini orang Batak tulen. Tidak ada basa-basi, langsung menusuk ke inti persoalan. Bahkan ketika memberikan pidato di depan majelis sidang World Health Assembly, Ibu Siti Fadilah tidak sungkan menuduh pabrik farmasi AS dapat membuat senjata biologi melalui virus Flu Burung ini. Telinga pejabat AS pun panas mendengar hal ini. Ibu Siti Fadilah pun sangat tegar dalam prinsip dengan cerdas mencari solusi permasalahan. Dalam beberapa sidang, deadlock hampir terjadi. Pak Makarim Wibisono, duta besar Indonesia untuk PBB pun sempat menyerah terhadap situasi sidang. Tetapi Ibu Siti Fadilah tetap tegar dengan mencari berbagai senjata ampuh untuk menaklukkan AS. Dan akhirnya ketemu satu senjata ampuh untuk tidak terjadi deadlock!
Menarik juga untuk mengikuti sisi religius dari perjuangan reformasi WHO ini. Ketika ketika terjadi keterlambatan penerbangan dari Iran ke Jenewa, Ibu Siti Fadilah hampir tidak bisa mengikuti proses sidang World Health Assembly yang menentukan apakah agenda Indonesia diluluskan atau tidak. Tapi untungnya, sidang WHA pun terlambat sehingga Ibu Siti Fadilah dapat menyampaikan pidatonya untuk meyakinkan proposal Indonesia. Ada satu kejadian seru lagi dimana ketika memasuki persidangan, agenda Indonesia tidak mendapat satupun dukungan (co-sponsorship) dari negara-negara anggota WHO. Namun menjelang detik-detik akhir, Iran datang dan menandatangi co-sponsorship dan membantu mencarikan dukungan dari negara-negara muslim dan sosialis. Indonesia akhirnya didukung oleh semua negara anggota WHO dan tidak ada yang mendukung AS. Luar biasa! Ibu Siti Fadilah sangat yakin kalau Tuhan yang Maha Kuasa berada di balik perjuangannya.
Bagi yang penasaran dan ingin mengetahui bagaimana AS melalui WHO berupaya membujuk Indonesia membatalkan rencana reformasi WHO, segeralah membeli buku ini. Akan terlihat sangat nyata bahwa AS di berbagai arena internasional memiliki segudang pengaruh untuk merealisasikan kepentingan negaranya. Entah melalui pemberian uang, bantuan atau bahkan sanksi. Saya sungguh menikmati buku ini, bahkan beberapa kali saya merinding ketika membaca buku ini. Rupanya masih ada satu kejadian dimana kapitalisme egoistik global yang biasanya memangsa negara berkembang bisa dipadamkan oleh seorang pejabat senior di Republik Indonesia. Terima kasih Ibu Siti Fadilah Supari atas perjuangannya!


Verdinand, itu bukunya dijual di Gramedia atau tidak? Sangat menarik memang seperti yang sudah saya dengar sebelumnya, beliau benar-benar berani menyerang mereka pihak yang memanfaatkan kasus flu burung Indonesia untuk keuntungan sendiri.
“Meskipun berdarah Jawa, bagi saya Ibu Siti Fadilah ini orang Batak tulen.”
Maksudnya apa? Saya pikir ini bukan penjelasan yang baik. Culture, dalam beberapa hal, tidak bisa secara serta merta menjelaskan strategies of action seseorang, terutama dengan keadaan kompleks yang outcomenya tidak bisa ditelusuri berdasarkan pemahaman culture sebagai suatu hal di mana orang itu bertindak. Ada hal-hal yang berkait dengan etos dan settlement. Just beware. Lain hal nya kalo dimaksudkan untuk becanda.
^sebenarnya sudah sangat jelas Drew, itu becanda.
@Sherwin: gue belum menemukan buku ini di Gramedia Depok. Mungkin ada di Gramedia lain. Kalau sampai tidak ada, mungkin Gramedia juga kaki tangan WHO, hahahahaa
@Andrew: nggak penting ahh, Like Tirigan said: It’s just a joke dude!
buku ini emang menarik, untungnya bu mentri mengemasnya dengan gaya tulisan populer jadi ga membosankan. gw sebenarnya pengen beli, tapi kayanya mahal.
dan satu hal lagi yang perlu dikonfonfirmasi ver, teman gw bilang dia lulusan biologi ugm… tapi katanya dokter, yang benar yang mana ya? soalnya nyokap teman gw tu dulu sekampus.
^
ga tau juga ya, tapi dia beneran spesialis jantung kok
kertasnya bagus ^^
Gw blom baca bukunya seh Ver…
Uda skimming dikit dan kekna emank buku nya bagus, secara yg ngasi comment juga org2 ternama di republik ini, mulai dari Menteri2 sampe sastrawan.
Tapi entahlah, gw merasa ada yg “kurang” aja dalam presentasinya kemaren, lebih ke masalah bahasa kali ya, banyak pake istilah Jawa…
Gw yakin pas dia nulis bukunya apsti byk disunting ma editor, haha…
Btw, review nya bagus, gw jadi tertarik untuk membaca buku itu yg cover depannya narsis bgt! (setelah gw slesai dgn S*****I!)
yah, kalau pada mengharapkan buku ini buku ilmiah sih siap2 gigit jari (atau merespon seperti si Andrew barusan :D:D:D, no offense lho Drew..hehehe). Ini buku pop non-fiction based on scientific facts, containing arguments on conspiracy.
nah lhu….
Setuju!
namanya juga catatan harian
mungkin ada yang tertarik menjadikannya skripsi?
biar jadi lebih ilmiah?
maaf semua,,,,,ikut nyelonong dikit,,,,
btw,menarik sekali apa yang diulas sdr Siahaan diatas.tp,,,,udah banyak yang tau blm ya??saya blm baca bukunya.mudah2an keberanian beliau (ibu fadilah) menjadi salah satu pintu keadilan di dunia.(yang gak habis pikir,WHO kok tega banget) udah tau dunia lagi gonjang-ganjing masalah pangan mpe ada isu (bs sj tjd perang),ternyata oh ternyata flu burung juga memendam segudang misteri gunung penyakit.ups,,,,,,,,>_<
Hi Rani!
Ada cerita menarik yang diceritakan Bu Menteri pada saat seminar mengenai launching buku ini. Kata Bu Menteri, beliau udah dari waktu yang lama launching buku ini di Indonesia dan mengundang banyak wartawan kita.
Cuma anehnya, dua minggu setelah launching nggak ada beritanya. Buku ini keluar justru pertama kali di media Australia. Dan emang akhirnya booming disana dan merembet ke negara lain. Baru deh media Indonesia masukin ulasan buku ini.
Makin gawatnya lagi, buku ini belum bisa dibeli online. Gue cek dua book shop online di Indonesia dan tidak ada buku ini. Nanti saya cek ke Gramedia ahh
Wah, gawat nih. DImana-mana ada WHO.
ngeri juga ya..
Apakah perjuangannya sendirian?
Semoga kita2 dapat seperti Ibu Siti.
Tapi aku juga pengen liat apabila Ibu Siti siapa dan akan tegar jika ditekan atau ekstrimnya disuruh mundur dari jabatannya oleh SBYyang pro kapitalist atau oleh DPR yang mata ijo dengan perut buncitnya yang makan uang rakyat?
Pak Amien yang puasa Daud memang mengalahkan Goliat Soeharto, tapi dia gak bisa jadi presiden. seorang kritikus atau tukang azhan ya mungkin akan tetap seperti itu. Ibu Siti seorang pendobrak & ‘pemberontak’ apakah sudah cukup kuat mental, yang kita semua belum tahu apakah dia juga puasa Daud yang secara mistis sangat mujarab mengalahkan Goliat negara Maju (AS)? Walaupun secara sekuler puasa Daud memang tak ada pengaruhnya?
hai hai hai hai hai,,,,,,,,,(ketawa khas ala tuan Krab)
sdr Siahaan,buku ‘ibu’ terbit tgl berapa,pnrbitnya apa?(hanya ingin tau saja).
bisa saja suatu waktu nanti jadi lebih dikenal masy. kita.(atau bisa nongol di kick andy.hehehehehe,,,,,,,kyk andrea hirata gitchuuuu….)
ikutan nii….
yg pada blum baca buku bu Siti,,cepetan deh baca..
kalo mau saya ada channel bwt mesen buku ini,,ya kertas bukunya bagus
harganya 70ribu..,
bu Siti g sendiri ko..banyak org2 yg mdukung geraknya…menteri luar negri aja salut sama dya..baru dy kali yg berani nentang amerika segitu terbukanya
masalah pas launching bukunya itu,,inget g beritnya ditutup sama kasus susu enterobacter sakazaki,yg lebih booming
ya,..begitu kali ya di media massa juga dah byk bercokol kaki tangan Barat Amerika Kapitalis penjajah,hehe..mereka kan punya jutaan cara licik…
saya bli buku nii waktu ada bedah buku dya..
waktu itu acara FKSK (Forum kajian Sosial Kemasyarakatan)..pembicaranya beliau..dan dr Jose Rizal Jurnalis,,pembina MErC…keren…keren banget..
Oya bwt temen2 yg cewe,,ada lagi bedah bukunya di UI SAlemba,,yg ngadain Formit..Forum Muslimah untuk Indonesia Sehat..tgl 8 Mei…..cewe only hehe—
Thanks Sammy atas infonya.
Ayo, ada yang tertarik ikutan bedah buku Saatnya Dunia Berubah?
tgl 8 Mei di Salemba!
mas bukunya dimedan lom ada……………, maklum dimedan banyak kaki tangan WeeeHaaaaOoooo………., Mas kalo jumpa bukunya tlg dikirim ya…………., soalnya menteri mau datang kemedan tgl 19 Juni & mau bedah buku…….. kan sedap kalo kita dah punya duluan
Beres Mas Kamto.
Nanti dikirim paket pos ekspres aja. Dua hari langsung sampai.
Titip salam ama Bu Menteri nanti ya,
HORAS!!
For your information, bu Siti Fadilah lulusan kedokteran UGM n asli dari Solo.
katanya pernah plagiat, bener?
saat Indonesia berani bicara, melawan ketidakadilan …..
punya prinsip, tegas, tidak terpengaruh dengan pihak asing….
seperti mental2 pejabat korup…. yg dalam otaknya hanya duit-duit dan duit ….
Menkes orang solo, sama kaya saya …
Saya bangga juga ternyata Indonesia punya kemampuan buat menentang kebijakan WHO yang notabene alat conspiracy global. Tapi ada satu hal yang perlu amat kita ketahui yaitu ternyata adanya virus2 model baru ini memang adalah senjata biologis yang sedang dikembangkan untuk mengeruk uang negara2 dunia ketiga membuat mereka miskin dan menderita dan membuat bertekuk lutut memohon belas kasihan. Sehingga harga diri akan dijual kepada mereka dengan harga murah, menurut apa saja yang mereka inginkan. Dan menunggu untuk di musnahkan. Saya rasa dr. Siti Fadilah Sapari pun mengetahui bahwa memang virus2 ini mereka lah yang buat dan dibuat vaksin untuk dikomersilkan.
Teman-teman bisa baca suatu berita yang sangat mengguncangkan tentang conspiracy 21 Dec 2012 ini bisa menjawab teka-teki ini semua
http://swaramuslim.net/galery/conspiracy/index.php?page=Control_Population
http://swaramuslim.net/galery/more.php?id=6319_0_18_0_M