Who Wants to be a Diplomat?

August 13, 2007 by Supriyanto Suwito  
Filed under Prospek Karir

Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata “diplomat”? Jalan-jalan ke luar negeri, gaji dolar, penampilan stylish & dandy lengkap dengan jas dan dasi, kehidupan glamour, pintar bersilat lidah dengan bahasa-bahasa bersayap? Atau mungkin anda sepakat dengan adagium lama bahwa diplomat identik dengan protokol, alkohol, dan kolesterol? Imajinasi anda memang tidak terlalu salah, tapi juga tidak mencerminkan profesi diplomat secara benar dan utuh. Profesi diplomat jauh lebih luas dari sekadar hal-hal yang sering diimajinasikan oleh orang awam.

Siapakah Diplomat?

Siapa sebenarnya diplomat itu? Tanpa harus merujuk pada konsep-konsep yang kompleks atau tinjauan sejarah yang panjang, secara sederhana diplomat bisa disebut sebagai seseorang yang bekerja di kementerian luar negeri dan ditempatkan di suatu negara untuk menjalankan fungsi yang terkait dengan hubungan negaranya dengan negara lain. Seseorang diplomat bisa saja berasal dari instansi di luar kementerian luar negeri (contoh atase militer, atase pendidikan, atase perdagangan, dll), tapi ia berada di bawah koordinasi dan otorisasi kementerian luar negeri. Sebaliknya ada juga pegawai kementerian luar negeri yang bekerja di luar negeri tapi ia bukan diplomat, contohnya staf lokal, pegawai administrasi dan komunikasi. Singkatnya, diplomat adalah suatu profesi yang spesifik dengan karakter dan fungsi tertentu.

Pertanyaan selanjutnya, apa sebenarnya yang dikerjakan seorang diplomat? Secara konseptual diplomat memiliki empat fungsi utama, yaitu (1) mewakili (representing) pemerintah negaranya di negara tempat ia ditugaskan (negara akreditasi); (2) mengembangkan (promoting) hubungan baik antara negaranya dengan negara akreditasi; (3) melindungi (protecting) warga negaranya atau kepentingan negaranya di negara akreditasi; (4) merundingkan (negotiating) berbagai hal terkait dengan hubungan negaranya dengan negara akreditasi; dan (5) mendapatkan (ascertaining) informasi terkait dengan perkembangan negara akreditasi kemudian melaporkannya kepada pemerintah negaranya.

Konkritnya seorang diplomat mengerjakan hampir semua hal yang terkait dengan hubungan negaranya dengan negara lain. Jangan bayangkan kerja diplomat hanyalah kerja-kerja yang “keren” seperti menjadi delegasi di PBB, menghadiri sidang ASEAN, atau juru runding perjanjian RI dengan negara lain, dll. Diplomat juga harus menjalankan dengan tugas-tugas yang bersifat pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat seperti pelayanan visa atau perlindungan warga RI di luar negeri. Jadi, seorang diplomat juga harus siap mengurus TKI bermasalah dari mulai mengunjungi penjara, menyediakan bantuan hukum, memproses pemulangan, bahkan termasuk mengantar jenazah WNI ke tanah air. Deplu saat ini memberikan prioritas yang tinggi terhadap upaya pelayanan dan perlindungan WNI di luar negeri dengan semangat “kepedulian dan keberpihakan”. Bukan zamanya lagi diplomat hanya tampil necis di KBRI dan acara-acara seremonial. Bukan waktunya lagi diplomat yang angkuh dan arogan terhadap warga sendiri di luar negeri. Diplomat RI harus siap menggulung lengan baju dan terjun langsung melayani masyarakat kita di luar negeri. KBRI adalah rumah Indonesia di luar negeri yang bisa diakses oleh WNI setiap saat.

Mengingat tuntutan tugas yang beragam, seorang diplomat dituntut untuk memiliki kecakapan yang komplit. Pertama, dari aspek mental harus dicamkan bahwa pada dasarnya seorang diplomat adalah seorang pegawai negeri atau aparat negara. Diplomat bukan pegawai swasta, akademisi, jurnalis, atau aktivis LSM. Sebagai aparat negara ia adalah abdi dan pelayan kepentingan rakyat. Terkait dengan hal ini seorang diplomat minimal harus memiliki dua karakter utama. Pertama, ia harus memiliki mental melayani kepentingan masyarakat. Mentalitas birokrat lama yang lamban dan justru ingin dilayani harus dibuang jauh-jauh. Kedua, seorang diplomat dengan sendirinya haruslah seorang nasionalis. Artinya, ia memiliki kepekaan terhadap masalah kemasyarakatan dan kebangsaan dan memiliki komitmen yang tinggi untuk memperjuangkan kepentingan bangsanya dalam hubungan antarbangsa. Selain itu karena merupakan aparat negara dan bagian dari birokrasi maka seorang diplomat juga harus taat dengan prosedur dan mekanisme kerja pemerintahan yang memiliki jenjang dan hierarki tertentu, tanpa harus menjadi birokratis. Jika anda tidak memiliki semangat pelayanan atau kesiapan dengan struktur birokrasi, ada baiknya anda bekerja di tempat lain apakah sebagai peneliti, aktivis LSM, atau di sektor usaha.

Kedua, dari sisi intelektualitas seorang diplomat dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas mengenai berbagai hal. Yang pertama dan paling utama, seorang diplomat harus paham dan mengenal betul negerinya sendiri. Ia harus menguasai pengetahuan tentang sejarah, sistem dan dinamika perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya, geografi negerinya sendiri dengan baik. Untuk mahasiswa Hubungan Internasional hal ini perlu diperhatikan, karena terkadang karena terlalu “asyik” dengan segala hal yang berbau internasional, justru kurang memperhatikan perkembangan-perkembangan di dalam negeri. Selain pemahaman masalah dalam negeri, pemahaman masalah-masalah internasional juga mutlak diperlukan mulai dari isu-isu politik, keamanan, ekonomi, lingkungan, hinga masalah-masalah sosial budaya. Memiliki keahlian di satu aspek yang khusus sangat baik, akan tetapi seorang diplomat harus tetap memiliki pemahaman memadai terhadap semua masalah. Dengan kata lain seorang diplomat dituntut untuk menjadi seorang generalis sekaligus spesialis.

Ketiga, karena lingkup tugasnya berhubungan erat dengan hubungan antarindividu, dari sisi keterampilan, seorang diplomat dituntut untuk memiliki kemampuan komunikasi dan interaksi yang baik. Penguasaan bahasa Inggris yang baik, bahkan mendekati sempurna, adalah suatu keharusan. Akan menjadi nilai lebih jika memiliki kemampuan bahasa asing lainnya, khususnya bahasa yang digunakan di PBB (Arab, Perancis, China, Jepang, Spanyol, Jerman, atau Rusia). Kecakapan berbicara di depan publik (public speaking) juga merupakan suatu keharusan bagi seorang diplomat. Yang juga tidak kalah pentingya bagi seorang diplomat adalah kemampuan berinteraksi, termasuk interaksi interkultural. Seorang diplomat harus luwes bergaul dengan siapa saja dan dari latar belakang apa saja. Karena itu, seorang diplomat juga memiliki pikiran yang terbuka serta fleksibilitas dalam berinteraksi. Singkatnya, seorang diplomat harus tegas dalam prinsip namun fleksibel dalam pendekatan. Seorang yang dogmatis dan kaku tidak cocok untuk menjadi seorang diplomat. Dengan kemampuna komunikasi dan interaksi yang baik, seorang diplomat akan mampu membangun hubungan dan jaringan yang luas di mana saja yang sangat penting untuk mendukung tugasnya.

Siapkan Strategi Pertempuran

Jika kualifikasi tersebut sudah anda dimiliki, berarti anda sudah layak untuk menjadi seorang diplomat. Sekarang masalahnya adalah bagaimana anda bisa masuk ke Departemen Luar Negeri. Di manapun di seluruh dunia, profesi diplomat selalu memiliki tingkat kompetisi yang tinggi, apalagi di Indonesia dimana tingkat penganggguran sangat tinggi. Sebagai ilustrasi, pada perimaan tahun 2006 yang lalu, terdapat sekitar 15.000 pendaftar, sementara yang diterima hanya 100 orang.

Dalam hal ini strategi dan taktik menembus ujian sangat menentukan. Karena ada kalanya kemampuan yang baik tidak selalu berarti anda bisa lulus ujian. Anda boleh memiliki semua prasyarat sebagai diplomat yang ideal, tapi ketika Anda tidak mempersiapkan ujian dengan baik, bisa saja anda gagal dan kalah dari orang yang kemampuannya biasa-biasa saja tapi memiliki persiapan dan strategi ujian yang baik. Karena itu kata kuncinya adalah persiapan, strategi, dan taktik!

Ada empat tahapan seleksi ujian Deplu. Pertama, seleksi kelengkapan administrasi, mulai dari ijazah, bukti identitas diri (KTP, Akte Kelahiran), hingga surat-surat keterangan lainnya. Dalam tahap ini yang dilihat hanyalah kelengkapan dan kesesuaian dengan syarat yang dibutuhkan. Karena itu, anda harus cermat dan teliti, jangan sampai ada dokumen yang salah atau tertinggal.

Setelah seleksi administrasi lolos, tes tahap kedua adalah ujian subtansi tertulis mengenai masalah-masalah nasional dan internasional, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Biasanya soal terdiri dari tiga kategori, yaitu pilihan berganda, pertanyaan dengan jawaban pendek, serta pertanyaan esai opini. Secara umum anda harus menguasai isu-isu nasional dan internasional terkini (minimal satu tahun terakhir dan enam bulan ke depan). Pada pertanyaan kategori pertama dan kedua, anda harus menguasai pengetahuan yang bersifat detail (contoh: siapa Sekjen ASEAN sekarang, di mana KTT ASEAN XII diadakan, berapa kali Indonesia jadi anggota DK PBB, siapa Sekjen WTO, kapan Amandemen Ketiga UUD, sebutkan visi Kabinet Indonesia Bersatu, berapa negara dan sebutkan seluruh anggota ARF, dll). Oleh karena itu Anda dituntut bukan saja memahami tapi juga hafal data-data yang detail mengenai suatu peristiwa. Pertanyaan kategori tiga adalah pertanyaan dengan jawaban esai mengenai berbagi isu nasional dan internasional kontemporer (contoh: Jelaskan pendapat Anda mengenai penanganan TKI; Bagaimana peran Indonesia dalam DK PBB, dll).

Seleksi tahap ketiga adalah kemampuan bahasa. Anda bisa memilih bahasa Inggris saja, atau bahasa-bahasa PBB lainnya yang dikuasai (Arab, Perancis, Spanyol, China, Jepang, Jerman, dan Rusia). Peserta bahasa asing selain Inggris memang lebih sedikit, tapi umumnya mereka yang memilihnya memang menguasai dengan baik. Jadi jika pemahaman bahasa asing selain Inggris anda sedang-sedang saja, sebaiknya pilih bahasa Inggris saja. Tes kemampuan bahasa adalah tes tertulis standar TOEFL atau EPT (biasanya di LIA) dengan standar minimum 550. Akan lebih baik jika sebelum ujian anda berlatih tes yang sejenis sehingga bisa mnegukur kemampuan.

Tes keempat terdiri dari tiga jenis tes, (1) tes psikologi tertulis dan wawancara ; (2) tes kemampuan teknologi informasi, dan (3) wawancara substansi. Tes psikologi akan menilai apakah secara psikologis anda cocok menjadi diplomat. Dengan kata lain anda akan dinilai apakah memiliki kepribadian yang terbuka, kemampuan komunikasi yang baik, kemampuan mengidentifikasi kelemahan, kelebihan, dan tujuan hidup, dll. Tidak ada jawaban yang benar atau salah dalam tes ini. Yang perlu dipersiapkan adalah kepercayaan diri, ketenangan dan daya tahan, karena tes berlangsung cukup lama dan melelahkan. Tes pengetahuan teknologi informasi (IT) pada waktu yang lalu dilakukan secara tertulis. Pertanyaan seputar istilah-istilah IT yang banyak digunakan (misalnya WiFI, LAN, blackberry, dll), software maupun pemrograman, atau cara-cara menjalankan operasi komputer.

Tes terakhir dan biasanya paling menentukan adalah tes wawancara substansi. Setiap orang akan menghadapi satu panel yang terdiri dari tiga interviewer. Wawancara berlangsung maksimal 30 menit. Pertanyaan seputar masalah nasional dan internasional dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selain kemampuan menjawab pertanyaan, dinilai juga penampilan dan tingkah laku. Jadi selain mempersiapkan substansi, anda juga harus tampil dengan baik.

Jika anda lulus tahap terakhir ini, maka Selamat anda telah menjadi calon diplomat !!!

The First Step of Long Journey

Lulus seleksi adalah awal dari perjalanan anda menjadi diplomat. Bersuka cita selama bulan-bulan pertama boleh-boleh saja. Akan tetapi setelah itu anda harus melalui tahapan-tahapan panjang dalam karier sebagai diplomat. Satu tahun pertama calon diplomat harus mengikuti Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) selama sekitar tujuh bulan dilanjutkan dengan magang di luar negeri selama tiga bulan. Selama Sekdilu, para calon diplomat akan mendapatkan materi seputar pengetahuan tata organisasi Deplu, substansi hubungan internasional, politik luar negeri, diplomasi dan masalah-masalah domestik, serta keterampilan-keterampilan diplomasi (negosiasi, public speaking, korespondensi diplomatik, bahasa asing dll)

Setelah selesai mengikuti pendidikan, maka para diplomat muda akan ditempatkan di unit-unit di Deplu selama selama sekitar tiga tahun. Selama periode tersebut, para diplomat muda juga diberi kesempatan untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi (S-2 atau S-3). Deplu sangat mendorong para diplomat untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Setelah sekitar tiga tahun di dalam negeri, para diplomat muda ditempatkan ke perwakilan-perwakilan RI di luar negeri selama tiga tahun. Setelah itu mereka harus kembali ke tanah air selama dua sampai tiga tahun, dan kemudian ditempatkan lagi di luar negeri. Demikian seterusnya hingga pensiun.

Dalam perjalanan karier seorang diplomat, ia akan mendapat ranking diplomatik secara berjenjang. Dari mulai terendah sampai tertinggi adalah: attaché, third secretary, second secretary, counselor, minister counselor, minister, dan ambassador. Duta besar adalah karier puncak seorang diplomat, meskipun tidak semua diplomat bisa mencapai karier puncak tersebut. Selain itu, karena merupakan jabatan politis maka duta besar juga bisa diisi oleh mereka dari luar diplomat karier. Untuk mencapai puncak karier diplomat juga terdapat jenjang-jenjang pendidikan yang harus dilalui seperti Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu) untuk tingkat madya dan Sekolah Pimpinan Departemen Luar Negeri (Sesparlu)

Nah, bagaimana dengan kesejahteraan? Selama bertugas di dalam negeri gaji diplomat sama seperti pegawai negeri pada umumnya tergantung pangkat dan golongan (mulai dari Rp.1 juta hingga 3 juta). Dibanding dengan sektor swasta tentu gaji pegwai negeri relatif lebih kecil. Selama di luar negeri memang seorang diplomat digaji dengan mata uang dollar Amerika Serikat. Mengingat standar kehidupan di luar negeri yang relatif cukup tinggi dan status sebagai wakil negara, diplomat mendapatkan penghasilan yang cukup tinggi dibanding standar pegawai negeri di dalam negeri. Di luar negeri, rata-rata seorang diplomat bergaji mulai US$ 3000 hingga US$ 6000 per bulan. Akan tetapi, ketika kembali ke tanah air maka gajinya kembali ke standar tanah air. Yang pasti, pendapatan sebagai seorang diplomat relatif mencukupi sehingga tidak ada alasan untuk tidak bekerja secara optimal apalagi untuk korupsi.

Demikianlah gambaran mengenai karier sebagai diplomat. Terlepas dari masalah prospek karier dan tingkat kesejahteraan, mestinya pilihan karier didasarkan pada minat, kemampuan, dan idealisme. Satu hal yang pasti, seorang diplomat adalah penyambung lidah rakyat, pelayan dan pengabdi rakyat. Karena itu diplomat harus peduli, berpihak, dan bekerja keras memperjuangkan kepentingan bangsa, negara dan rakyat!!!! Selamat menjadi diplomat!!!!

Enter Google AdSense Code Here

Comments

102 Responses to “Who Wants to be a Diplomat?”
  1. Rahadhian T Akbar says:

    Thx ya verdi,

    U can call me Dian

    as my other closest friends do..

    wish u all d best, smoga menjadi diplomat yang mengharumkan nama bangsa..

  2. hits-musik says:

    terima kasih nih.. atas infonya untuk diterima jadi diplomat di deplu.

    kalau selain jadi diplomat di deplu misalnya jadi jadi petugas komunikasi nya deplu. apakah sama langkah-langkah atau persiapan yang harus diambil supaya diterima di bagian itu?
    mohon kalau bisa dijawab diemail saya soalnya saat ini saya sedang mengikuti test deplu untuk posisi petugas komunikasi. :em32: terima kasih sebelumnya..

  3. Arys Aditya says:

    Diplomat?
    Aq malah mmbayangkan seorang Ph.D berjas yang berapi-api mengegolkan kepentingan Indonesia.
    Kalau pinjem kata2nya pak Juwono
    “Fact or imagine?”

  4. Astari says:

    Wah kesimpulan tulisannya keren banget. Kalau semua calon diplomat dan diplomat muda punya pandangan/kesadaran seperti Supriyanto, korps diplomatik kita bakal menjadi bintang terang yang ikut meninggikan citra Indonesia di mata dunia ( bukannya makin menambah buruk citra kita di luar).

    Oya, aku juga mendukung kebijakan baru Deplu yang mulai menempatkan diplomat unggulan di wilayah keras ( yang banyak TKI-nya), bukan semata ditempatkan di pos-pos gemerlap ( Eropa dan AS). Akan lebih baik lagi bila diplomat yang bertugas di wilayah keras, tunjangannya lebih besar.

  5. musa says:

    Iya Supri emang sangat cemerlang. Tapi di tanggapain dong pri komen-komen kita ini…Walo sibuk ngurus dirjen, pergi ke New York, jur kasih waktu dikit buat kita doang ah,
    Fun club kamu, he3x

  6. AGUNG PAMUNGKAS says:

    wow..that’s the first word coming from me!

    ehmmmmm..

    saya anak hi-ui 2008. memang belum tau secara detail ttg kehidupan seorang diplomat. tapi setelah membaca comment, koq persepsi seorang diplomat di mata saya jd berubah total ya. ternyata, tugas diplomat itu lebih mulia dari apa yg saya bayangkan.

    saya setuju sekali dengan pendapat anda bahwa diplomat seharusnya down to earth, bukan menjadi kaum elitis yang tidak mendengarkan rakyatnya di luar negeri, yang mungkin sedang kesusahan.

    saya berdoa agar calon diplomat Indonesia dapat menjadi orang2 terbaik yg dapat mewakili Indonesia di dunia internasional.

    saya sangat cinta Indonesia & Indonesia sendiri butuh kita untuk tetap survive di kemudian hari.

    =)

  7. dudu says:

    pri,loe jangan hiperbola githu lah …hehehehehehe

  8. cilllllla says:

    yeeesss. :em51:
    it helps a lot. builds my spirit from now. another 2 years to do it! good luck

  9. Dd says:

    kuL d HI bisa jadi menlu….

  10. franz says:

    besok, saya akan mengikuti tes-nya. kira-kira siapa yang bisa share-info ya? apa saja yang harus saya persiapkan… :em52: 081367792916

  11. Warlord says:

    Besok? Tes ap? Lo g tes jg ver?

  12. verdinand says:

    mungkin tes pns lainnya. Deplu mah tanggal 6 Oktober, hee sebentar lagi euy! Warlord, lo ikut penerimaan CPNS BAppenas nggak?

    Gue males jadi PNS selain DEPLU, lagipula, udah telat. Mana ijazah belum jadi. Bye Bappenas! :em32:

  13. taufik mulyadi says:

    after reading text above, i’m very motivated to be a diplomat, and now i still have three years to prepare my self, illa dzalika astathii’u a atakallama lughotaani, ‘,wa ata’allamu fii jaami’atil wathoniyyah, , and i ‘ll represent my beloved country in International Youth Leadership Camp in sydney Australia on december 2008, so i’m very confident to pass a test to department of foreign affairs RI,buat seluruh tman2ku di HI UIN jakarta, be the best, mudah mudahan kita bisa bikin ikatan alumni HI UIN di Deplu, amin

  14. andrew says:

    Apaan tuh ikatan alumni HI UIN di Deplu? Fungsinya buat apa? Semoga tidak menjadi erosi terhadap sistem merit yang seharusnya berjalan. Atau memang ada semacam geng-gengan di dalam Deplu sendiri?

  15. taufik mulyadi says:

    i mean that although we are first and second generation in HI UIN , but we can proove that we are able, that’s above only to support my friends, idza sodaqol ‘azmu wadhohassabiilu,

  16. saiful says:

    saran dari saya buat anak Hi, janganlah hanya terfokus untuk masuk deplu,kan masih banyak profesi lain yang tidak kalah menariknya, semisal bekerja di multi national corporation, LSM internasional, NGO, public relation, young executive, itu menandakan bahwa prospek dari jurusan HI ini sangat luas karena mampu masuk ke semua bidang profesi,

  17. alexander says:

    gw setuju ama komentar saiful

    tapi tetep incaran utama gw ya deplu :em47:
    kalo yang laen jadi serep aja kali ta…

  18. Nana says:

    Nice piece, bener2 ngasih insight buat yg pengen jadi diplomat.
    Sekaligs memulihkan nama baik diplomat itu sendiri.
    Gw sendiri ngadepin first hand diplomat qta which is ga lain bokap gw sendiri.
    Suka sebel kalo dipandang sebelah mata Qta2 yg jadi keluarga diplomat. Kesannya Qta borjuis ato sombong, padahal di dalem negeri ya Qta keluarga PNS biasa, di luar negeri juga bergaul sama warga n masyarakat Indo yg disana.

    Saran gw sih kalo mo jadi Diplomat oke banget, yg tough ya kalo mo berumah tangga, partner harus siap pindah2 tiap 4 tahun sekali. Anak harus diajarin punya mental yg kuat. Untuk cewe yg mau jadi Diplomat, siap2 pisah sama suami 4 tahun, cause suami kan pastinya tetep kerja di Jkt. Unless si suami mau ikut n kerja di sana juga… agak ribet ya =).

    Sukses perjuangannya jadi Diplomat =)

  19. yoshirei says:

    terima kasih banyak atas infonya,,,

    saya sekarang ini sedang mempertimbangkan fakultas apa yang akan saya pilih, karena nantinya saya ingin menjadi diplomat…

    senang sekali mengetahui kalau fak sastra bisa diterima…

  20. yoshirei says:

    setelah membaca dengan teliti dan lebih teliti lagi…

    diplomat jadi tidak seperti yang saya bayangkan…

    namun, cita-cita adalah cita-cita, kalau saya tidak bisa mendapatkannya, maka hadapilah!!! hhahahaha

  21. nez says:

    trus.. soal pengetahuan teknologi informasi/komputer teh ttg apa yak? so far udh sampe tahap ini.. ga paham tes apaan.

    trus tes wawancara substantif apa? psikotes teh psikotes beneran apa TPA jg?

    nggilani nihh.. tes kali ini koq 4 hari berturut2.. :((

  22. reza says:

    ui…tes IT nya ditanyain apaan tu???
    gw mau ikut ni taun depan..ghehe

  23. dody says:

    tolong kl da info dari deplu kirim e mail ke heil_ubay@yahoo.co.id
    makaciii

  24. nura says:

    gak jadi diplomat gak apa2, saya kok keder dengan syarat2nya. pusing sayah. wes lah jadi aktivis lsm aja..heheheh :em56:

  25. ditaa says:

    thx bgt infonya !
    gw ini mahasiswi baru adm.fiskal yg citacita mentoknya, jd diplomat.
    dan gw maqin yaqin kayanya gw slh jurusan.
    so,apakah gw harus spmb ulang ?anak fiskal bs kerja d deplu g ?
    hahaa.

  26. Francisco Vital Ornai says:

    wah klo jadi diplomat, enak bangat loh dan bisa menjangkau dunia jg byk kenalannya. meskipun kerja di Ministry for Foreign Affair bisa tak merngenal waktu, itulah namanya diplomat pelayang masayrakat dari dalam maupun luarnegeri.
    ada yg pinging diplomat nyoba aja deh, kalo di Indonesia (DEPLU) tiap tahun pasti ada perekrutan calon2 diplomat.
    bagi yg ingin diplomat silakan berjuang……

    Halooo teman…Suprianto Suwito, sukses iya dan selamt atas artike kamu diatas.

    Dari Alumni SEKDILU 32

  27. lei says:

    thanks, this’s valuable informtn… i have to fight against my doubt whether or not i want to follow the lengthy process of recruitment. now, i’m working hard on my english. but, i’m not confident abot d computer test, what’s it about? anyone knows?

  28. lei says:

    i will try next year. does a student of literature have a big chance? it seems to me that IR students and law students have bigger chance than any other candidates.

  29. Verdinand says:

    Tes komputernya itu sekitar fitur-fitur Microsoft Office, kayak bagaimana cara menyimpan file atau nge-print. I think this will not be so hard. Cukup mengingat sekilas saja apa yang biasa dilakukan dengan komputer.

  30. Peter says:

    Mas Verdinand saya berniat mo ambil jurusan development studies di Unimelb fakultas sosial science, kira-kira diterima ga ya jurusan ini di deplu? Klu ga salah di webnya deplu ilmu ekonomi studi pembangunan fakultas ekonomi adalah salah satu jurusan yang diterima, apa beda mas?

  31. Verdinand says:

    Saya kira bisa diterima.
    Tapi lebih pastinya, tanyakan kepada orang Deplu saja.
    Sorry Peter, out of my reach.

  32. krisna says:

    kalo dari jurusan selain HI, kira-kira bisa jadi diplomat nggak ya? thanx

  33. reza says:

    @krsina..
    ya bisa la mas..malah bnyk..deplu tu nerima dari Hukum, sastra, administrasi negara, komunikasi, ilmu politik dll…jadi ga hanya HI doang,, malah anak2 HI biasanya pada dikit yg lulus,,,kebanyakan hukum..

  34. miemy says:

    ya ampunn,, thx yah bwt tulisannya..
    Emm,, br kmren jur gw ngadain short diplomatic course gtu ngebhas ARF in maritim security..
    duh,, trnyta jd diplomat ga gampang..
    tp diriqu smkn smgt n obsesi bwt jd diplomat..
    hahaha!! mdh2an sja bnr2 trjdi=)

  35. anne says:

    boleh nanya gak??

    ntar jadi diplomat umurnya berapa ya???

    tua??

  36. dipLoMat loVers says:

    SteLah saiia mbca yg d atas saiia jd sdkit pham about diplomat… dlu saiia cma tw klw mjd diplomat saiia dpt jln2 kli2ng dnia… but ckrg saiia tw klw btuh skli krja kras tuk jd diplomat… tp saiia ttap ingn mncpai cita2 saiia t jd dplomat… wlw saiia tw mnjd sorg diplomat i2 tdklah gmpank!!

  37. bambang says:

    Pak, mau iseng tanya, kalo petugas komunikasi kerjaannya kayak pegimana ya pak, terimakasih

  38. Seltabo says:

    Thx ya. artikelnya bagus and inspiring. Saya setuju sekali dengan pendapat penulis bahwa diplomat adalah penyambung lidah rakyat dan bukanlah kaum elit. Sukses!!

  39. yulia says:

    Artikelnya bagus bgt,,
    Yulia jd lbh tau klu tuk jd diplomat itu ndak gampang,,
    Tp walau pun susah yulia tetap akan tetap
    berusaha bwt jd diplomat.
    Itu cita2 dr SMA soalnya,
    Tp yulia mo nanya klu dr fak.sastra bs ndak jd diplomat?
    Ndak harus dari HI kan?
    Trs tes IT nya tntg pa aja ya?
    Trs tes tntg pengetahuan yg mencakup isu nasional ama internasional dpt dipelajari darimana aja ya selain internet?
    Emang yulia br semester 1 tp yulia mo dr skrg bljr bwt jd diplomatnya.

    ^_^

  40. bintangTH says:

    ah bung Selwas bisa saja :). Anyway,artikel yang sangat bagus dan tepat. luar biasa. semoga sukses :)

  41. verdinand says:

    There is an error for the latest comment on this article.

    Apology for the mistake.

    Thanks,

    Verdinand (Admin)

  42. septian says:

    wagh.. aku juga mau jadi diplomat.
    habis nya mereka keren sih.. menjalin kerja sama dgan negara lain.. tugas2 yg psti sulit..
    aku nge fans sama diplomat dri jepang bpk.HASASHI OWADA
    dia slah stu diplomat yg aku kagumi.. org yg tegas ,cermat,pintar dan bijaksana yg skrg mnjdi hakim di PBB..
    putri sulungnya juga adlh diplomat yg cermat ,pintar ,dn baik.. MASAKO OWADA yg skrg mnjdi putri mahkota JEPANG.. diplomat pintar dng gelar “MAGNA CUM LAUDE” Dri HARVARD UNIVERSITY ,, klo bleh tanya gmna sigh cara jdi diplomat?????????? tolomg dibalas yah.. artikelnya keren….

  43. Rajez says:

    wah keren,,,, tapi kalau say bukan dari ank Jurusan HI gmn???? bisa ga ya jadi diplomat????????

    thx,,,,

    Editor: Bisa. Asalkan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Kemlu.

  44. rev says:

    saya bercita2 menjadi diplomat ,saya sekarang duduk di bangku SMA ,pada saat SMA ini apa yg harus saya lakukan utk menjadi diplomat yg handal dan diperhitungkan oleh departmen yg menugaskan nantinya???
    apakah dgn bersekolah di sekolah internasional dapat lebih berpeluang? kalo iya dimanakah??

    thanks

  45. whw_tepa says:

    Mas, saya mau nanya dong

    saya lulusan s1 teologi dari sekolah teologi yg terakreditasi A. Termasuk lulusan terbaik dan saya punyakemampuan bahasa inggris yg baik.

    Apakah saya dari latar belakang pendidikan teologi bisa mengikuti tes utk diplomat? Pernahkah ada pelamar/calon diplomat dari latar belkang teologi?

    Terima kasih banyak Mas untuk penjelasannya. Saya sangat berharap penjelasan dari Mas.

    Verdinand: Kalau melihat persyaratan yang diajukan Deplu, S1 Teologia tidak masuk mas..

    Mas bisa mengemail penjelasannya ke whw_tepa@yahoo.com

  46. carantian says:

    diplomat sebagai penyambung lidah rakyat…kok gaji nya cuman kecil? he he…aku jadi agak gimana gitu buat jadi diplomat…emang sih tujuan utama buat jadi abdi rakyat…tapi kan kewajiban n tugasnya lebih berat dari pns biasa

  47. boy says:

    woowww….
    keren penjelasannya….
    tapi kalo mo jadi diplomat emang harus kuliah di jurusah HI ya…??? jurusan lain memungkinkan gak untuk jd seorang diplomat??
    tks jawabannya….
    salam kenal….

    Verdinand: Tidak selalu Mas. Banyak juga dari jurusan lain seperti komunikasi, ekonomi, psikologi, dll.

  48. joe says:

    Para pembaca dan netter yang terhormat,

    Melalui internet kita telah membaca mengenai kisah-kisah para pejabat
    Perwakilan R.I. di luar negeri yang lucu-lucu (seperti Perw. R.I. di
    Amerika Latin/Selatan), dimana Dubesnya menggasak uang jalan sopir
    dinasnya, juga di KBRI Tokyo dimana Dubesnya katanya, Luar Biasa tetapi
    KBTU-nya berkuasa penuh. Dan lagi-lagi ceritera dari Perwakilan R.I. di
    Hamburg yang Konjen-nya suka pesta berfoya-foya di hotel-hotel mewah dan
    Diplomat RI di London (pada hal intel lho) yang bisa dijebak badut
    intelek terkenal Inggris, Mark Thomas. Dari ceritera-ceritera di
    Perwakilan-Perwakilan tersebut dapat disimpulkan betapa para pejabat
    Perwakilan RI masih mengamalkan pahaman “mumpung” sebagaimana merupakan
    warisan orde baru. Mumpung dalam (meminjam istilah bahasa Melayu)
    “serba-serbi”, mumpung berkuasa, mumpung bisa ini mumpung bisa itu dsb.
    Dengan azimat mumpung itu kalau perlu semuanya dikorbankan.

    Bagaimana dengan Perwakilan RI (KBRI) di Kuala Lumpur?

    Sebagai W.N. Indonesia yang harus mencintai Republik (sebagai tanah air
    dan tumpah darah), walau dalam keadaan apa sekalipun Republik kita
    dewasa ini dimana negara kita masih akan menghadapi zaman ruwet dan
    rumit yang akan berkepanjanan walau setelah Pemilu mendatang sekalipun
    (pra-kiraan hampir semua orang), penulis akan mencoba menurunkan
    tulisan secara bersambung yang diharapkan akan dapat merupakan sumbangan
    bagaimana KBRI di Kuala Lumpur yang pada hemat penulis sama sekali belum
    terjamah angin reformasi, sehingga perangkatnya, baik yang lunak maupun
    yang keras perlu direformasi demi mengembalikan citra Perwakilan RI di
    luarnegeri yang dapat diandalkan. Peduli sangatkah? Mungkin jawabannya
    ya dan tidak.
    Ya, karena apa salahnya masukan seseorang yang telah “mengalami” (ini
    barangkali istilah yang tepat, untuk tidak perlu dikatakan sudah
    pengalaman lho, kalau yang ini mah lain) dan bekerja lama, sedikit
    banyak bisa terpakai. Dan jawabannya bisa tidak karena dalam kaitan ini
    penulis sangat pesimis apakah tulisan penulis ini bisa terpakai.
    Meminjam istilah orang Jakarte, boro-boro terpakai dibaca orang saja
    sudah Alhammdullilah. Penulis bisa mengatakan demikian karena biasanya
    tulisan dari orang seperti penulis hanyalah “sesuatu bisikan di hutan
    belantara” (a voice, if not a whisper, in the wilderness”). Bisikan
    orang kecil yang jelas tidak akan digubris. Paling tidak itu dalam
    kaitan ini penulis hanya meng-echo-kan imbauan para pejabat tinggi
    negara belakangan ini yang mengatakan bahwa “kritik” itu perlu (JP
    1/3). Tanpa kritik , orang cenderung akan khilaf karena tidak akan ada
    yang mengawasi. Ini seorang Menteri yang ngomong lho. Hanya saja Menteri
    ini Menteri zaman sekarang, Menteri zaman reformasi. Bukan Menteri order
    baru dan semua onderbouwnya yang budayanya masih budaya Soeharto yang
    takut dikritik. Bagi penulis apakah itu zaman orde lama-kah, baru-kah
    (bukan jaman orlaba, orde lama baru, “ora laba” /tidak untung) atau
    zaman orde reformasi-kah, kritik memang harus perlu di sesuatu negara
    yang mengamalkan pemerintahan demokrasi. Namun akhirnya tujuan penulis
    hanya satu yaitu cukup memadai, jika tulisan ini diketahui.

    Tulisan ini juga tidak akan disusun asal saja atau iseng-iseng maupun
    suara usil dijaman semua orang rame-rame nulis di Internet. Tulisan ini
    lebih merupakan ekspresi seseorang yang hampir dari separuh hidupnya
    mengabdi sebagai pegawai setempat di KBRI Kuala Lumpur.
    Tulisan yang akan disampaikan secara bersambung ini dimaksudkan
    merupakan kesan-kesan penulis selama bekerja sebagai pegawai setempat
    (local staff) di KBRI selama 24 tahun. Dalam zaman semua orang menulis
    di internet melalui e-mail ini, penulis tidak bermaksud menghujat,
    membuka borok, menelanjangi para pejabat, terutama para pejabat pada
    masa penulis mengakhiri tugasnya. Dengan tulisan ini penulis juga tidak
    bermaksud menjadikan internet sebagai junk-mail bin. Dalam
    penyampaiannya penulis juga tidak akan menyampaikan dengan bahasa yang
    ilmiah, bahasa sastra atau bahasa, katakanlah yang canggih sekalipun.
    Penulis akan mencoba menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, bisa
    dibaca dengan santai (karena kalau tidak demikian, pembaca/netter tidak
    akan mau mengikuti ceritera penulis sampai selesai) Sebagai seseorang
    yang telah tinggal di Malaysia selama lebih dari 27 tahun diantaranya 24
    tahun menggeluti penugasan sebagai pegawai setempat, wajar apabila
    penulis diberikan kesempatan dapat memberikan masukan berupa kesan dan
    pesan. Tulisan berikut juga sebagai menyahut himbauan kawan-kawan, baik
    itu dari kalangan WNI yang tinggal di Malaysia yang jumlahnya
    diperkirakan mencapai jutaan, kawan-kawan WN Malaysia sendiri yang
    selalu memberikan penilaian bagaimana misi perwakilan RI sebaiknya
    dijalankan agar dapat memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan
    pemerintah pusat. Mungkin ada yang mikir mengapa kebijakan Perwakilan
    R.I,. harus dititik-beratkan kepada kemauan/kepentingan rakyat negara
    dimana Perwakilan RI berada. Ya, jawabannya memang demikian. Melayani
    kepentingan rakyat R.I. memang jelas. Namun melayani rakyat negara
    dimana perwakilan RI berada harus juga diutamakan. Karena dijaman
    krismon di tanah air yang entah kapan akan berakhirnya peningkatan
    penerimaan RI dari kegiatan ekonomi dan perdagangan dengan rakyat negara
    setempat perlu harus selalu diproritaskan. Itulah yang penulis
    maksudkan agar Perwakilan RI harus dapat selalu melayani masyarakat
    (terutama masyarakat usaha) negara setempat.
    Ada juga beberapa kawan lokal staff sendiri yang menyampaikan kepada
    penulis ini agar menyuarakan suara mereka ” as a silent voice which
    never heard by the leadership”. Kelompok yang terakhir ini memang tidak
    akan bisa bersuara secara terbuka seperti suara penulis dalam ruangan
    ini selama mereka ini tinggal dalam “gelanggang”. Dengan begitu apakah
    dapat dikatakan bahwa penulis megah karena mengatas-namakan mereka itu.
    Jawabannya, sama sekali tidak. Apakah ada imbauan atau tidak dari
    mereka, penulis yang memang kegemarannya menulis (dan sebagai sambilan
    untuk mencari uang), tokh mempunyai intuisi harus menulis juga walau
    apapun situasinya.

    Dalam tulisan berikut pembaca akan dapat mengetahui bagaimana
    berdasarkan penilaian masyarakat Indonesia di Malaysia pimpinan KBRI
    masih, bukan saja bersikap acuh terhadap warganya tetapi juga terhadap
    penulis sebagai bekas bawahannya. Pengamatan penilaian ini berdasarkan
    masih banyaknya aduan yang diterima oleh sebuah LSM Malaysia, yang
    tidak ditangani oleh KBRI.

    Dengan tulisan yang panjang lebar dan akan disampaikan secara bersambung
    ini bukan maksud penulis untuk
    menghujat KBRI dan perangkatnya sehingga pembaca juga membenci KBRI di
    Kuala Lumpur. Penulis hanya akan menyampaikan ketidak-wajaran
    perlakuan pimpinan KBRI kurun waktu tertentu kepada penulis mengingat
    tidak adanya tanggapan oleh Pimpinan KBRI walaupun prosedur/tertib untuk
    mencari penyelesaian telah
    ditempuh oleh penulis dengan baik.

    Bagaimana seorang KBTU sungguh berbeda perilaku kedinasannya
    dibandingkan para KBTU lainnya/sebelumnya dimana hanya karena mau
    berpamitan dengan atasan puncaknya sampai hati menghalang-halangi
    penulis untuk tidak diberi kesempatan berbuat demikian. Suatu perlakuan
    yang sama sekali di luar kewajaran dari seorang pengelola pegawai
    setempat di sesuatu KBRI. Seseorang pejabat yang penulis anggap masih
    mempunyai mental birokrat ambtenar sehingga memandang bawahannya hanya
    sebagai barang mati yang boleh dicampak kesana kemari.
    Pembaca juga akan dapat mengetahui bagaimana peraturan kepegawaian untuk
    pegawai setempat di KBRI Kuala Lumpur hanya menguntungkan mereka yang
    bisa “ngapurangcang” dan bukan bagi mereka yang memang betul-betul
    qualified. Kalau pegawai itu bisa ngolor akan diperpanjang kontraknya
    walau sudah memasuki usia pensiun sekalipun. Namun kalau pegawai itu
    tidak bisa ngolor dan hanya di”duga” melakukan kesalahan (tanpa
    dibuktikan) maka terus harus dihabisi.

    Juga pembaca akan dapat mengikuti ceritera di Sekolah Indonesia Kuala
    Lumpur dimana penulis pernah bertugas, Seseorang Kepala Sekolah yang
    suka mengamalkan sikap ‘favouring side”. Bagaimana seorang Kepala
    Sekolah yang tidak dibekali sedikitpun dengan apa yang dinamakan
    Personnel Management sehingga ketika seorang tenaga kependidikan (guru)
    bersuara minir terhadap seseorang tenaga non-kependidikan (staff
    TU-nya), Kepala Sekolah ini meminjam istilah orang putih “just swallow
    the naked lies” meskipun tidak harus ” the naked truth” (seperti di
    serial TV). Juga ada ceritera mengenai seorang guru sekolah, yang
    penulis menganggap tidak waras, hanya karena di-check apakah guru
    tersebut (berdasarkan apa yang disampaikan Kepala Sekolah kepada
    penulis) mengatakan sesuatu, malahan membalas kembali dengan semacam
    surat yang men-teror (karena membabi-buta menuduh yang bukan-bukan) diri
    pribadi penulis beserta keluarga penulis sampai sekarang. Guru ini
    tidak faham bahwa angin perubahan di Indonesia harus diterima dan
    dihayati apapun
    konsekwensinya. Guru ini masih hidup di alam orde dimana budaya ninja,
    black-mail dan model tukang kepruk dan
    ancam mengancam masih merajalela. Surat-surat tersebut menurut penulis
    hanya ditulis oleh orang yang berkelakuan biadab, orang-orang yang tidak
    bertamadun.
    Surat guru tersebut kepada penulis sedang dikumpulkan untuk sampai masa
    yang tepat akan penulis sampaikan kepada Pimpinan KBRI sebagai atasan
    puncak guru tersebut (paling tidak itulah saran sejauh ini yang
    disampaikan oleh pengacara/lawyer penulis mengenai kasus defamation
    /libel suit tsb.) Penulis tidak akan menyerahkan surat-surat yang
    menjijikkan tersebut kepada atasan langsungnya (Kepala Sekolah)
    mengingat Kepala Sekolah terkesan sudah tidak dapat mengendalikan anak
    buahnya.

    Pembaca juga akan mengetahui bagaimana seorang lokal staf seperti
    penulis dipercaya oleh atasan langsung untuk membantu penilaian konduite
    seorang KBTU (sebagai atasan bendaharawan). Kebetulan atasan langsung
    penulis waktu itu dipercaya atasan puncak (top boss) atau paling tidak
    dianggap netral dalam kasus yang melibatkan ketidak-upayaan KBTU
    diakhir tahun 80-an menangani code of conduct bawahannya (Wk.
    KBTU/Bendaharawan). Meskipun penulis juga tidak pernah merasa megah
    walaupun di hari akhir tugasnya penulis merasa dirugikan karena tidak
    pernah diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang benar kepada atasan
    puncak. Penulis rela mengundurkan diri daripada harus diijak-injak
    kehormatan/harga dirinya. Pengunduran diri penulis atas dasar
    kesepakatan PK (Perjanjian Kerja) dimana apabila salah satu pihak tidak
    setuju dengan perpanjangan, maka PK tidak dapat dilanjutkan. Penulis
    dengan surat resmi kepada pimpinan KBRI, 3 bulan yang lalu telah meminta
    hak-haknya apabila sesuatu PK diakhiri namun tidak pernah memperoleh
    tanggapan. Inilah yang penulis simpulkan bagaimana seorang birokrat
    puncak bersikap acuh bahkan terhadap bekas bawahannya sendiri yang telah
    mengabdi selama 24 tahun lebih. Bagaimana seorang pejabat di Perwakilan
    yang hanya paling lama 4 tahun berada disesuatu negara sanggup begitu
    saja meninggalkan kesan yang buruk kepada bekas bawahannya yang sudah
    berkeluarga dan mengakhiri tugas dalam zaman serba susah. Penulis tidak
    kecewa diakhiri tugasnya karena sekali lagi penugasan adalah berdasarkan
    kontrak kerja (PK) namun pengakhiran tanpa memperhatikan hati nurani dan
    pengabdian bawahan yang cukup lama sama dengan perlakuan tidak adil atau
    mungkin bisa dikatakan berlaku kejam.
    Sungguh pengalaman pahit bagi penulis bekerja di bawah kepemimpinan KBRI
    (sekarang) dikurun waktu penulis mengakhiri tugasnya. Apakah karena
    penulis tidak mampu untuk “mundhuk-mundhuk” ataupun “ngapurancang”
    didepan birokrat bawahannya lalu penulis dianggap tidak layak untuk
    diberi kesempatan untuk bertemu dalam rangka menyelesaikan masalah.
    Inilah pengalaman tragis bagi penulis setelah pernah bekerja dengan 7
    orang Duta Besar sebelumnya. Penulis pernah bekerja dengan seorang Duta
    Besar yang tidak pernah tersenyum dan mukanya selalu nampak angker,
    namun bagi penulis hati beliau mulia karena luar dalam sama. Penulis
    mengatakan mulia karena pada zaman beliaulah tidak pernah ada yang
    diberhentikan (kecuali yang memasuki usia pensiun). Duta Besar RI inilah
    yang bagi penulis memegang prinsip dengan bersuara vokal menghadapi
    current issue dengan pemerintah setempat. Paling tidak itulah kesan
    penulis terhadap Dubes tersebut. Kesan wajar dari seseorang yang pernah
    menghadapi banyak Dubes selama 24 tahun. Ada juga seorang mantan Dubes
    yang sampai sekarang masih menjalin kerjasama dengan penulis di dalam
    kegiatan usaha sourcing di Malaysia. Dengan hal demikian lengkaplah
    penulis menghadapi variety of personal conduct banyak Dubes di
    Perwakilan RI di Kuala Lumpur.

    Mungkin kesalahan dan kelemahan penulis tidak bisa berhura-hura sehingga
    dan oleh sementara kawan lokal staff dianggap seseorang yang serius
    tetapi itulah human nature penulis. Selama penulis bekerja dengan baik
    dan mengikuti dan mematuhi petunjuk peraturan kepegawaian itulah
    “playing with the rule of the game” bagi penulis.
    Sebagai seorang CWG (Chief Wage Earner) atau “single bread winner”
    (satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga) penulis harus berjuang
    mati-matian untuk sekadar mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari di
    negara orang dan dengan anggota keluarga yang besar pula. Penulis
    mengandalkan prinsip hidup “all rounder & one man show” (serba bisa
    untuk jadi apa saja) dalam menghadapi permasalahan hidup ini. Tidak ada
    yang tahu bahwa di zaman penulis bekerja di KBRI, hanya untuk membayar
    tambahan uang sekolah anak memasuki college swasta, penulis perlu
    menjadi jaga malam (jelas bukan di KBRI) selama 2 minggu (mengganti
    orang yang bercuti). Dan itulah, karena prinsip sampingan penulis, bahwa
    semua pekerjaan itu mulia dan tidak ada pekerjaan yang hina asal
    dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan jelas, asal pekerjaan itu
    halal sehingga dapat dikerjakan oleh siapapun. Bukan maksud penulis
    mencari simpati dengan membuat tulisan ini. Itulah prinsip hidup tidak
    mencari simpati dan tidak menistakan diri, “simply because sympathy
    won’t change your life” (hanya dengan belas kasihan tidak akan mengubah
    hidup seseorang). Itulah mengapa penulis adalah orang yang apa adanya
    kalau memang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah susah
    mengapa harus berhura-hura.

    Pembaca juga akan mengetahui ceritera kawan penulis selaku poegawai
    setempat yang disodori pistol seorang Athan hanya karena pegawai
    setempat itu tidak/kurang cepat dalam melayani kemauan Athan tersebut.

    Penulis menyadari bahwa tulisan penulis mungkin memerlukan waktu untuk
    dikatakan objektif kalaupun tidak
    perlu dikatakan benar. Namun satu hal perlu diakui bahwa adalah waktu
    yang menguji kebenaran bukannya tanggapan tergesa-gesa yang menguji
    kebenaran itu sendiri. It is the time that observe the truth and not the
    prompt response instead. Penulis harus menghargai KBRI sebagai institusi
    perwakilan negara RI tetapi tidak perlu dalam sesuatu kurun waktu harus
    menyetujui apa yang dibuat oleh para pejabatnya sebagai para pribadi.
    Penulis tidak pernah meragukan kebijakan Deplu dan perwakilan-perwakilan
    teknis lainnya di sesuatu KBRI di luar negeri tetapi bagaimana kebijakan
    itu perlu dijabarkan dengan tepat dan dengan mengingat kondisi negara
    setempat adalah sesuatu tugas berat para pejabat/dipomat KBRI. Yang
    penulis perhatikan memang para pejabat di KBRI Kuala Lumpur menyadari
    hakekat ini namun dalam realitas dan prakteknya jauh dari yang
    diharapkan.

    Penulis menyadari adanya demarkasi antara tugas home staff dan lokal
    staff. Namun dalam zaman keterbukaan
    seperti sekarang dimana reformasi di Indonesia harus terlebih dahulu
    dilakukan terhadap sikap penguasa kiranya perlu juga adanya reformasi
    sikap para pejabat di KBRI secara umumnya. Apalagi KBRI di sesuatu
    negara dimana jumlah warga WNI-nya banyak seperti di Malaysia. Lokal
    staff tidak boleh dianggap seperti sampah buangan yang dapat dengan
    sesuka-hatinya nya dibuang tanpa memperhatikan pengabdian mereka selama
    berpuluh-puluh tahun. Dalam kaitan ini bukan maksud penulis untuk
    memegahkan dirinya. Penulis setuju bahwa oknum loal staf yang berbuat
    dan terbukti bersalah ditindak. Tetapi tidaklah beretika kalau menindak
    lokal staf hanya berdasarkan hear-say ,berdasarkan laporan, berdasarkan
    masukan sama sekali tanpa pembuktian. Penanganan dan penyelesaian
    masalah yang menyangkut lokal staf yang sudah lama harus dibedakan
    dengan yang baru masuk. Bukannya disamaratakan seperti perlakuan yang
    diterima penulis. Jangan demi dan atas nama perampingan organisasi,
    seseorang harus diakhiri tugasnya tanpa diberi kesempatan membela diri.
    Penanganan dan penyelesaian masalah personel lokal staf yang berdasarkan
    kebijakan juga harus seragam. Mereka, pegawai setempat yang memang
    sudah waktunya pensiun dan jelas sudah diberitahu waktunya dan harus
    pensiun, hanya karena dapat mengampu dan diusulkan untuk mengampu
    ternyata tidak jadi pensiun. Mereka yang berstatus pegawai setempat
    honorair tidak wajar apabila demi perampingan ada yang diberhentikan dan
    ada yang tidak diberhentikan.
    Apakah pimpinan KBRI tidak mengetahui bahwa memang ada diantara yang
    diakhiri tugasnya betul-betul terbukti berbuat salah dan merusak citra
    KBRI. Namun Pimpinan KBRI juga harus sadar bahwa ada diantara pegawai
    setempat yang mempunyai perilaku yang tidak senonoh masih bercokol di
    KBRI. Penulis memperoleh masukan tentang hal ini. Penulis juga tidak
    dapat memahami mengapa tidak pernah dilakukan penelitian terhadap mereka
    yang terbukti berbuat salah laku kedinasan tetapi tokh masih saja
    dipertahankan di KBRI. Pimpinan KBRI memberhentikan petugas security
    yang melakukan perbuatan a susila didalam lingkungan KBRI. Hanya
    karena kejadiannya di KBRI. Tetapi apakah Pimpinan KBRI tidak sadar
    bahwa sampai hari ini Pimpinan KBRI
    masih mempertahankan pegawai setempat yang bertindak a susila hanya
    karena kejadiannya di luar lingkungan
    di luar KBRI.

    Penulis sebagai WNI dan wajib pajak RI yang patuh berhak menyuarakan
    hal ini demi nama baik misi perwakilan. Pegawai setempat yang
    berpuluh-puluh tahun mengabdi tanpa cela perlu didengar suaranya perlu
    dilibatkan dalam menanggulangi kasus tertentu warganya berdasarkan
    pengalamannya di KBRI dengan para
    atasan sebelumnya. Pendekatan bisa berubah dan disesuaikan dalam setiap
    kurun waktu seseorang Duta Besar bertugas namun pendekatan
    berorientasikan penyelesaian sesuatu masalah yang memperhatikan hati
    nurani
    pihak-pihak yang tekait adalah esensi etika kerja yang perlu dipatuhi.
    Approach can be differ and adjusted in whatever situation but then
    solution which applies inner heart of parties involved must be observed.

    Dengan penyampaian tulisan melalui e-mal ini bukan maksud penulis
    menyampaikan rasa kekecewaannya karena
    perlakuan kurang adil yang diterima penulis oleh pimpinan KBRI sekarang.
    Meskipun dalam keadaan apapun,
    bahkan sebelum zaman reformasi sekalipun, penulis beranggapan bahwa
    setiap WN dalam setiap hubungan apapun perlu didengar suaranya apakah
    itu hubungan kerja, hubungan berserikat, hubungan berorganisasi
    atau hubungan apa sekalipun. Harus ada semacam keharmonisan ikatan
    dengan memperhatikan hak dan kewajiban
    masing-masing pihak yang diatur dalam setiap wadahnya. Apalagi dalam
    zaman sekarang dimana setelah 32 tahun kita berada dalam zaman rusaknya
    tatanan, akhirnya terbukti bahwa pendekatan kekuasaan dalam
    menyelesaikan masalah hanyalah merupakan simbol arogansi. Bukan jamannya
    lagi kekuasaan dipakai dalam pendekatan penyelesaian apapun. Bukan
    jamannya lagi perilaku penguasa tidak boleh dikritik. Bukan jamannya
    lagi kritik dianggap menyinggung kehormatan kekuasaan.

  49. atikah delany yasmin says:

    wow! what an amazing thoughts! saya sangat terpukau membacanya. saya menjadi semangat kembali, karena memang saya sangat bercita-cita ingin menjadi diplomat! namun sayang, karena saya tidak dapat lulus di HI saya sempat down dan merasa tidak dapat menjadi diplomat. tetapi setelah membaca artikel ini, yang katanya walau bukan dari jurusan HI bisa melamar menjadi diplomat saya merasa cukup lega. yang harus saya lakukan adalah mempersiapkan semua hal-hal yang diperlukan menjadi diplomat. semoga cita-cita saya terkabul! amin! keep fighting guys!

Trackbacks

Check out what others are saying about this post...
  1. [...] Jadi kalau saya ditanyakan apakah saya pragmatist atau idealist? Kenapa tidak kedua-duanya?! Khan Supriyanto pernah berkata: Tegas dalam prinsip, fleksibel dalam [...]

  2. [...] citizen service Deplu itu? Padahal dari salah satu artikel portalHI, tertulis disana bahwa Deplu saat ini memberikan prioritas yang tinggi terhadap upaya pelayanan dan [...]

  3. [...] citizen service Deplu itu? Padahal dari salah satu artikel portalHI, tertulis disana bahwa Deplu saat ini memberikan prioritas yang tinggi terhadap upaya pelayanan dan [...]



Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!