Who Wants to be a Diplomat?
August 13, 2007 by Supriyanto Suwito
Filed under Prospek Karir
Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata “diplomat”? Jalan-jalan ke luar negeri, gaji dolar, penampilan stylish & dandy lengkap dengan jas dan dasi, kehidupan glamour, pintar bersilat lidah dengan bahasa-bahasa bersayap? Atau mungkin anda sepakat dengan adagium lama bahwa diplomat identik dengan protokol, alkohol, dan kolesterol? Imajinasi anda memang tidak terlalu salah, tapi juga tidak mencerminkan profesi diplomat secara benar dan utuh. Profesi diplomat jauh lebih luas dari sekadar hal-hal yang sering diimajinasikan oleh orang awam.
Siapakah Diplomat?
Siapa sebenarnya diplomat itu? Tanpa harus merujuk pada konsep-konsep yang kompleks atau tinjauan sejarah yang panjang, secara sederhana diplomat bisa disebut sebagai seseorang yang bekerja di kementerian luar negeri dan ditempatkan di suatu negara untuk menjalankan fungsi yang terkait dengan hubungan negaranya dengan negara lain. Seseorang diplomat bisa saja berasal dari instansi di luar kementerian luar negeri (contoh atase militer, atase pendidikan, atase perdagangan, dll), tapi ia berada di bawah koordinasi dan otorisasi kementerian luar negeri. Sebaliknya ada juga pegawai kementerian luar negeri yang bekerja di luar negeri tapi ia bukan diplomat, contohnya staf lokal, pegawai administrasi dan komunikasi. Singkatnya, diplomat adalah suatu profesi yang spesifik dengan karakter dan fungsi tertentu.
Pertanyaan selanjutnya, apa sebenarnya yang dikerjakan seorang diplomat? Secara konseptual diplomat memiliki empat fungsi utama, yaitu (1) mewakili (representing) pemerintah negaranya di negara tempat ia ditugaskan (negara akreditasi); (2) mengembangkan (promoting) hubungan baik antara negaranya dengan negara akreditasi; (3) melindungi (protecting) warga negaranya atau kepentingan negaranya di negara akreditasi; (4) merundingkan (negotiating) berbagai hal terkait dengan hubungan negaranya dengan negara akreditasi; dan (5) mendapatkan (ascertaining) informasi terkait dengan perkembangan negara akreditasi kemudian melaporkannya kepada pemerintah negaranya.
Konkritnya seorang diplomat mengerjakan hampir semua hal yang terkait dengan hubungan negaranya dengan negara lain. Jangan bayangkan kerja diplomat hanyalah kerja-kerja yang “keren” seperti menjadi delegasi di PBB, menghadiri sidang ASEAN, atau juru runding perjanjian RI dengan negara lain, dll. Diplomat juga harus menjalankan dengan tugas-tugas yang bersifat pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat seperti pelayanan visa atau perlindungan warga RI di luar negeri. Jadi, seorang diplomat juga harus siap mengurus TKI bermasalah dari mulai mengunjungi penjara, menyediakan bantuan hukum, memproses pemulangan, bahkan termasuk mengantar jenazah WNI ke tanah air. Deplu saat ini memberikan prioritas yang tinggi terhadap upaya pelayanan dan perlindungan WNI di luar negeri dengan semangat “kepedulian dan keberpihakan”. Bukan zamanya lagi diplomat hanya tampil necis di KBRI dan acara-acara seremonial. Bukan waktunya lagi diplomat yang angkuh dan arogan terhadap warga sendiri di luar negeri. Diplomat RI harus siap menggulung lengan baju dan terjun langsung melayani masyarakat kita di luar negeri. KBRI adalah rumah Indonesia di luar negeri yang bisa diakses oleh WNI setiap saat.
Mengingat tuntutan tugas yang beragam, seorang diplomat dituntut untuk memiliki kecakapan yang komplit. Pertama, dari aspek mental harus dicamkan bahwa pada dasarnya seorang diplomat adalah seorang pegawai negeri atau aparat negara. Diplomat bukan pegawai swasta, akademisi, jurnalis, atau aktivis LSM. Sebagai aparat negara ia adalah abdi dan pelayan kepentingan rakyat. Terkait dengan hal ini seorang diplomat minimal harus memiliki dua karakter utama. Pertama, ia harus memiliki mental melayani kepentingan masyarakat. Mentalitas birokrat lama yang lamban dan justru ingin dilayani harus dibuang jauh-jauh. Kedua, seorang diplomat dengan sendirinya haruslah seorang nasionalis. Artinya, ia memiliki kepekaan terhadap masalah kemasyarakatan dan kebangsaan dan memiliki komitmen yang tinggi untuk memperjuangkan kepentingan bangsanya dalam hubungan antarbangsa. Selain itu karena merupakan aparat negara dan bagian dari birokrasi maka seorang diplomat juga harus taat dengan prosedur dan mekanisme kerja pemerintahan yang memiliki jenjang dan hierarki tertentu, tanpa harus menjadi birokratis. Jika anda tidak memiliki semangat pelayanan atau kesiapan dengan struktur birokrasi, ada baiknya anda bekerja di tempat lain apakah sebagai peneliti, aktivis LSM, atau di sektor usaha.
Kedua, dari sisi intelektualitas seorang diplomat dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas mengenai berbagai hal. Yang pertama dan paling utama, seorang diplomat harus paham dan mengenal betul negerinya sendiri. Ia harus menguasai pengetahuan tentang sejarah, sistem dan dinamika perkembangan politik, ekonomi, sosial, budaya, geografi negerinya sendiri dengan baik. Untuk mahasiswa Hubungan Internasional hal ini perlu diperhatikan, karena terkadang karena terlalu “asyik” dengan segala hal yang berbau internasional, justru kurang memperhatikan perkembangan-perkembangan di dalam negeri. Selain pemahaman masalah dalam negeri, pemahaman masalah-masalah internasional juga mutlak diperlukan mulai dari isu-isu politik, keamanan, ekonomi, lingkungan, hinga masalah-masalah sosial budaya. Memiliki keahlian di satu aspek yang khusus sangat baik, akan tetapi seorang diplomat harus tetap memiliki pemahaman memadai terhadap semua masalah. Dengan kata lain seorang diplomat dituntut untuk menjadi seorang generalis sekaligus spesialis.
Ketiga, karena lingkup tugasnya berhubungan erat dengan hubungan antarindividu, dari sisi keterampilan, seorang diplomat dituntut untuk memiliki kemampuan komunikasi dan interaksi yang baik. Penguasaan bahasa Inggris yang baik, bahkan mendekati sempurna, adalah suatu keharusan. Akan menjadi nilai lebih jika memiliki kemampuan bahasa asing lainnya, khususnya bahasa yang digunakan di PBB (Arab, Perancis, China, Jepang, Spanyol, Jerman, atau Rusia). Kecakapan berbicara di depan publik (public speaking) juga merupakan suatu keharusan bagi seorang diplomat. Yang juga tidak kalah pentingya bagi seorang diplomat adalah kemampuan berinteraksi, termasuk interaksi interkultural. Seorang diplomat harus luwes bergaul dengan siapa saja dan dari latar belakang apa saja. Karena itu, seorang diplomat juga memiliki pikiran yang terbuka serta fleksibilitas dalam berinteraksi. Singkatnya, seorang diplomat harus tegas dalam prinsip namun fleksibel dalam pendekatan. Seorang yang dogmatis dan kaku tidak cocok untuk menjadi seorang diplomat. Dengan kemampuna komunikasi dan interaksi yang baik, seorang diplomat akan mampu membangun hubungan dan jaringan yang luas di mana saja yang sangat penting untuk mendukung tugasnya.
Siapkan Strategi Pertempuran
Jika kualifikasi tersebut sudah anda dimiliki, berarti anda sudah layak untuk menjadi seorang diplomat. Sekarang masalahnya adalah bagaimana anda bisa masuk ke Departemen Luar Negeri. Di manapun di seluruh dunia, profesi diplomat selalu memiliki tingkat kompetisi yang tinggi, apalagi di Indonesia dimana tingkat penganggguran sangat tinggi. Sebagai ilustrasi, pada perimaan tahun 2006 yang lalu, terdapat sekitar 15.000 pendaftar, sementara yang diterima hanya 100 orang.
Dalam hal ini strategi dan taktik menembus ujian sangat menentukan. Karena ada kalanya kemampuan yang baik tidak selalu berarti anda bisa lulus ujian. Anda boleh memiliki semua prasyarat sebagai diplomat yang ideal, tapi ketika Anda tidak mempersiapkan ujian dengan baik, bisa saja anda gagal dan kalah dari orang yang kemampuannya biasa-biasa saja tapi memiliki persiapan dan strategi ujian yang baik. Karena itu kata kuncinya adalah persiapan, strategi, dan taktik!
Ada empat tahapan seleksi ujian Deplu. Pertama, seleksi kelengkapan administrasi, mulai dari ijazah, bukti identitas diri (KTP, Akte Kelahiran), hingga surat-surat keterangan lainnya. Dalam tahap ini yang dilihat hanyalah kelengkapan dan kesesuaian dengan syarat yang dibutuhkan. Karena itu, anda harus cermat dan teliti, jangan sampai ada dokumen yang salah atau tertinggal.
Setelah seleksi administrasi lolos, tes tahap kedua adalah ujian subtansi tertulis mengenai masalah-masalah nasional dan internasional, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Biasanya soal terdiri dari tiga kategori, yaitu pilihan berganda, pertanyaan dengan jawaban pendek, serta pertanyaan esai opini. Secara umum anda harus menguasai isu-isu nasional dan internasional terkini (minimal satu tahun terakhir dan enam bulan ke depan). Pada pertanyaan kategori pertama dan kedua, anda harus menguasai pengetahuan yang bersifat detail (contoh: siapa Sekjen ASEAN sekarang, di mana KTT ASEAN XII diadakan, berapa kali Indonesia jadi anggota DK PBB, siapa Sekjen WTO, kapan Amandemen Ketiga UUD, sebutkan visi Kabinet Indonesia Bersatu, berapa negara dan sebutkan seluruh anggota ARF, dll). Oleh karena itu Anda dituntut bukan saja memahami tapi juga hafal data-data yang detail mengenai suatu peristiwa. Pertanyaan kategori tiga adalah pertanyaan dengan jawaban esai mengenai berbagi isu nasional dan internasional kontemporer (contoh: Jelaskan pendapat Anda mengenai penanganan TKI; Bagaimana peran Indonesia dalam DK PBB, dll).
Seleksi tahap ketiga adalah kemampuan bahasa. Anda bisa memilih bahasa Inggris saja, atau bahasa-bahasa PBB lainnya yang dikuasai (Arab, Perancis, Spanyol, China, Jepang, Jerman, dan Rusia). Peserta bahasa asing selain Inggris memang lebih sedikit, tapi umumnya mereka yang memilihnya memang menguasai dengan baik. Jadi jika pemahaman bahasa asing selain Inggris anda sedang-sedang saja, sebaiknya pilih bahasa Inggris saja. Tes kemampuan bahasa adalah tes tertulis standar TOEFL atau EPT (biasanya di LIA) dengan standar minimum 550. Akan lebih baik jika sebelum ujian anda berlatih tes yang sejenis sehingga bisa mnegukur kemampuan.
Tes keempat terdiri dari tiga jenis tes, (1) tes psikologi tertulis dan wawancara ; (2) tes kemampuan teknologi informasi, dan (3) wawancara substansi. Tes psikologi akan menilai apakah secara psikologis anda cocok menjadi diplomat. Dengan kata lain anda akan dinilai apakah memiliki kepribadian yang terbuka, kemampuan komunikasi yang baik, kemampuan mengidentifikasi kelemahan, kelebihan, dan tujuan hidup, dll. Tidak ada jawaban yang benar atau salah dalam tes ini. Yang perlu dipersiapkan adalah kepercayaan diri, ketenangan dan daya tahan, karena tes berlangsung cukup lama dan melelahkan. Tes pengetahuan teknologi informasi (IT) pada waktu yang lalu dilakukan secara tertulis. Pertanyaan seputar istilah-istilah IT yang banyak digunakan (misalnya WiFI, LAN, blackberry, dll), software maupun pemrograman, atau cara-cara menjalankan operasi komputer.
Tes terakhir dan biasanya paling menentukan adalah tes wawancara substansi. Setiap orang akan menghadapi satu panel yang terdiri dari tiga interviewer. Wawancara berlangsung maksimal 30 menit. Pertanyaan seputar masalah nasional dan internasional dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Selain kemampuan menjawab pertanyaan, dinilai juga penampilan dan tingkah laku. Jadi selain mempersiapkan substansi, anda juga harus tampil dengan baik.
Jika anda lulus tahap terakhir ini, maka Selamat anda telah menjadi calon diplomat !!!
The First Step of Long Journey
Lulus seleksi adalah awal dari perjalanan anda menjadi diplomat. Bersuka cita selama bulan-bulan pertama boleh-boleh saja. Akan tetapi setelah itu anda harus melalui tahapan-tahapan panjang dalam karier sebagai diplomat. Satu tahun pertama calon diplomat harus mengikuti Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) selama sekitar tujuh bulan dilanjutkan dengan magang di luar negeri selama tiga bulan. Selama Sekdilu, para calon diplomat akan mendapatkan materi seputar pengetahuan tata organisasi Deplu, substansi hubungan internasional, politik luar negeri, diplomasi dan masalah-masalah domestik, serta keterampilan-keterampilan diplomasi (negosiasi, public speaking, korespondensi diplomatik, bahasa asing dll)
Setelah selesai mengikuti pendidikan, maka para diplomat muda akan ditempatkan di unit-unit di Deplu selama selama sekitar tiga tahun. Selama periode tersebut, para diplomat muda juga diberi kesempatan untuk melanjutkan studi yang lebih tinggi (S-2 atau S-3). Deplu sangat mendorong para diplomat untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Setelah sekitar tiga tahun di dalam negeri, para diplomat muda ditempatkan ke perwakilan-perwakilan RI di luar negeri selama tiga tahun. Setelah itu mereka harus kembali ke tanah air selama dua sampai tiga tahun, dan kemudian ditempatkan lagi di luar negeri. Demikian seterusnya hingga pensiun.
Dalam perjalanan karier seorang diplomat, ia akan mendapat ranking diplomatik secara berjenjang. Dari mulai terendah sampai tertinggi adalah: attaché, third secretary, second secretary, counselor, minister counselor, minister, dan ambassador. Duta besar adalah karier puncak seorang diplomat, meskipun tidak semua diplomat bisa mencapai karier puncak tersebut. Selain itu, karena merupakan jabatan politis maka duta besar juga bisa diisi oleh mereka dari luar diplomat karier. Untuk mencapai puncak karier diplomat juga terdapat jenjang-jenjang pendidikan yang harus dilalui seperti Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu) untuk tingkat madya dan Sekolah Pimpinan Departemen Luar Negeri (Sesparlu)
Nah, bagaimana dengan kesejahteraan? Selama bertugas di dalam negeri gaji diplomat sama seperti pegawai negeri pada umumnya tergantung pangkat dan golongan (mulai dari Rp.1 juta hingga 3 juta). Dibanding dengan sektor swasta tentu gaji pegwai negeri relatif lebih kecil. Selama di luar negeri memang seorang diplomat digaji dengan mata uang dollar Amerika Serikat. Mengingat standar kehidupan di luar negeri yang relatif cukup tinggi dan status sebagai wakil negara, diplomat mendapatkan penghasilan yang cukup tinggi dibanding standar pegawai negeri di dalam negeri. Di luar negeri, rata-rata seorang diplomat bergaji mulai US$ 3000 hingga US$ 6000 per bulan. Akan tetapi, ketika kembali ke tanah air maka gajinya kembali ke standar tanah air. Yang pasti, pendapatan sebagai seorang diplomat relatif mencukupi sehingga tidak ada alasan untuk tidak bekerja secara optimal apalagi untuk korupsi.
Demikianlah gambaran mengenai karier sebagai diplomat. Terlepas dari masalah prospek karier dan tingkat kesejahteraan, mestinya pilihan karier didasarkan pada minat, kemampuan, dan idealisme. Satu hal yang pasti, seorang diplomat adalah penyambung lidah rakyat, pelayan dan pengabdi rakyat. Karena itu diplomat harus peduli, berpihak, dan bekerja keras memperjuangkan kepentingan bangsa, negara dan rakyat!!!! Selamat menjadi diplomat!!!!


Thx ya verdi,
U can call me Dian
as my other closest friends do..
wish u all d best, smoga menjadi diplomat yang mengharumkan nama bangsa..
terima kasih nih.. atas infonya untuk diterima jadi diplomat di deplu.
kalau selain jadi diplomat di deplu misalnya jadi jadi petugas komunikasi nya deplu. apakah sama langkah-langkah atau persiapan yang harus diambil supaya diterima di bagian itu?
mohon kalau bisa dijawab diemail saya soalnya saat ini saya sedang mengikuti test deplu untuk posisi petugas komunikasi. :em32: terima kasih sebelumnya..
Diplomat?
Aq malah mmbayangkan seorang Ph.D berjas yang berapi-api mengegolkan kepentingan Indonesia.
Kalau pinjem kata2nya pak Juwono
“Fact or imagine?”
Wah kesimpulan tulisannya keren banget. Kalau semua calon diplomat dan diplomat muda punya pandangan/kesadaran seperti Supriyanto, korps diplomatik kita bakal menjadi bintang terang yang ikut meninggikan citra Indonesia di mata dunia ( bukannya makin menambah buruk citra kita di luar).
Oya, aku juga mendukung kebijakan baru Deplu yang mulai menempatkan diplomat unggulan di wilayah keras ( yang banyak TKI-nya), bukan semata ditempatkan di pos-pos gemerlap ( Eropa dan AS). Akan lebih baik lagi bila diplomat yang bertugas di wilayah keras, tunjangannya lebih besar.
Iya Supri emang sangat cemerlang. Tapi di tanggapain dong pri komen-komen kita ini…Walo sibuk ngurus dirjen, pergi ke New York, jur kasih waktu dikit buat kita doang ah,
Fun club kamu, he3x
wow..that’s the first word coming from me!
ehmmmmm..
saya anak hi-ui 2008. memang belum tau secara detail ttg kehidupan seorang diplomat. tapi setelah membaca comment, koq persepsi seorang diplomat di mata saya jd berubah total ya. ternyata, tugas diplomat itu lebih mulia dari apa yg saya bayangkan.
saya setuju sekali dengan pendapat anda bahwa diplomat seharusnya down to earth, bukan menjadi kaum elitis yang tidak mendengarkan rakyatnya di luar negeri, yang mungkin sedang kesusahan.
saya berdoa agar calon diplomat Indonesia dapat menjadi orang2 terbaik yg dapat mewakili Indonesia di dunia internasional.
saya sangat cinta Indonesia & Indonesia sendiri butuh kita untuk tetap survive di kemudian hari.
=)
pri,loe jangan hiperbola githu lah …hehehehehehe
yeeesss. :em51:
it helps a lot. builds my spirit from now. another 2 years to do it! good luck
kuL d HI bisa jadi menlu….
besok, saya akan mengikuti tes-nya. kira-kira siapa yang bisa share-info ya? apa saja yang harus saya persiapkan… :em52: 081367792916
Besok? Tes ap? Lo g tes jg ver?
mungkin tes pns lainnya. Deplu mah tanggal 6 Oktober, hee sebentar lagi euy! Warlord, lo ikut penerimaan CPNS BAppenas nggak?
Gue males jadi PNS selain DEPLU, lagipula, udah telat. Mana ijazah belum jadi. Bye Bappenas! :em32:
after reading text above, i’m very motivated to be a diplomat, and now i still have three years to prepare my self, illa dzalika astathii’u a atakallama lughotaani, ‘,wa ata’allamu fii jaami’atil wathoniyyah, , and i ‘ll represent my beloved country in International Youth Leadership Camp in sydney Australia on december 2008, so i’m very confident to pass a test to department of foreign affairs RI,buat seluruh tman2ku di HI UIN jakarta, be the best, mudah mudahan kita bisa bikin ikatan alumni HI UIN di Deplu, amin
Apaan tuh ikatan alumni HI UIN di Deplu? Fungsinya buat apa? Semoga tidak menjadi erosi terhadap sistem merit yang seharusnya berjalan. Atau memang ada semacam geng-gengan di dalam Deplu sendiri?
i mean that although we are first and second generation in HI UIN , but we can proove that we are able, that’s above only to support my friends, idza sodaqol ‘azmu wadhohassabiilu,
saran dari saya buat anak Hi, janganlah hanya terfokus untuk masuk deplu,kan masih banyak profesi lain yang tidak kalah menariknya, semisal bekerja di multi national corporation, LSM internasional, NGO, public relation, young executive, itu menandakan bahwa prospek dari jurusan HI ini sangat luas karena mampu masuk ke semua bidang profesi,
gw setuju ama komentar saiful
tapi tetep incaran utama gw ya deplu :em47:
kalo yang laen jadi serep aja kali ta…
Nice piece, bener2 ngasih insight buat yg pengen jadi diplomat.
Sekaligs memulihkan nama baik diplomat itu sendiri.
Gw sendiri ngadepin first hand diplomat qta which is ga lain bokap gw sendiri.
Suka sebel kalo dipandang sebelah mata Qta2 yg jadi keluarga diplomat. Kesannya Qta borjuis ato sombong, padahal di dalem negeri ya Qta keluarga PNS biasa, di luar negeri juga bergaul sama warga n masyarakat Indo yg disana.
Saran gw sih kalo mo jadi Diplomat oke banget, yg tough ya kalo mo berumah tangga, partner harus siap pindah2 tiap 4 tahun sekali. Anak harus diajarin punya mental yg kuat. Untuk cewe yg mau jadi Diplomat, siap2 pisah sama suami 4 tahun, cause suami kan pastinya tetep kerja di Jkt. Unless si suami mau ikut n kerja di sana juga… agak ribet ya =).
Sukses perjuangannya jadi Diplomat =)
terima kasih banyak atas infonya,,,
saya sekarang ini sedang mempertimbangkan fakultas apa yang akan saya pilih, karena nantinya saya ingin menjadi diplomat…
senang sekali mengetahui kalau fak sastra bisa diterima…
setelah membaca dengan teliti dan lebih teliti lagi…
diplomat jadi tidak seperti yang saya bayangkan…
namun, cita-cita adalah cita-cita, kalau saya tidak bisa mendapatkannya, maka hadapilah!!! hhahahaha
trus.. soal pengetahuan teknologi informasi/komputer teh ttg apa yak? so far udh sampe tahap ini.. ga paham tes apaan.
trus tes wawancara substantif apa? psikotes teh psikotes beneran apa TPA jg?
nggilani nihh.. tes kali ini koq 4 hari berturut2.. :((
ui…tes IT nya ditanyain apaan tu???
gw mau ikut ni taun depan..ghehe
tolong kl da info dari deplu kirim e mail ke heil_ubay@yahoo.co.id
makaciii
gak jadi diplomat gak apa2, saya kok keder dengan syarat2nya. pusing sayah. wes lah jadi aktivis lsm aja..heheheh :em56:
thx bgt infonya !
gw ini mahasiswi baru adm.fiskal yg citacita mentoknya, jd diplomat.
dan gw maqin yaqin kayanya gw slh jurusan.
so,apakah gw harus spmb ulang ?anak fiskal bs kerja d deplu g ?
hahaa.
wah klo jadi diplomat, enak bangat loh dan bisa menjangkau dunia jg byk kenalannya. meskipun kerja di Ministry for Foreign Affair bisa tak merngenal waktu, itulah namanya diplomat pelayang masayrakat dari dalam maupun luarnegeri.
ada yg pinging diplomat nyoba aja deh, kalo di Indonesia (DEPLU) tiap tahun pasti ada perekrutan calon2 diplomat.
bagi yg ingin diplomat silakan berjuang……
Halooo teman…Suprianto Suwito, sukses iya dan selamt atas artike kamu diatas.
Dari Alumni SEKDILU 32
thanks, this’s valuable informtn… i have to fight against my doubt whether or not i want to follow the lengthy process of recruitment. now, i’m working hard on my english. but, i’m not confident abot d computer test, what’s it about? anyone knows?
i will try next year. does a student of literature have a big chance? it seems to me that IR students and law students have bigger chance than any other candidates.
Tes komputernya itu sekitar fitur-fitur Microsoft Office, kayak bagaimana cara menyimpan file atau nge-print. I think this will not be so hard. Cukup mengingat sekilas saja apa yang biasa dilakukan dengan komputer.
Mas Verdinand saya berniat mo ambil jurusan development studies di Unimelb fakultas sosial science, kira-kira diterima ga ya jurusan ini di deplu? Klu ga salah di webnya deplu ilmu ekonomi studi pembangunan fakultas ekonomi adalah salah satu jurusan yang diterima, apa beda mas?
Saya kira bisa diterima.
Tapi lebih pastinya, tanyakan kepada orang Deplu saja.
Sorry Peter, out of my reach.
kalo dari jurusan selain HI, kira-kira bisa jadi diplomat nggak ya? thanx
@krsina..
ya bisa la mas..malah bnyk..deplu tu nerima dari Hukum, sastra, administrasi negara, komunikasi, ilmu politik dll…jadi ga hanya HI doang,, malah anak2 HI biasanya pada dikit yg lulus,,,kebanyakan hukum..
ya ampunn,, thx yah bwt tulisannya..
Emm,, br kmren jur gw ngadain short diplomatic course gtu ngebhas ARF in maritim security..
duh,, trnyta jd diplomat ga gampang..
tp diriqu smkn smgt n obsesi bwt jd diplomat..
hahaha!! mdh2an sja bnr2 trjdi=)
boleh nanya gak??
ntar jadi diplomat umurnya berapa ya???
tua??
SteLah saiia mbca yg d atas saiia jd sdkit pham about diplomat… dlu saiia cma tw klw mjd diplomat saiia dpt jln2 kli2ng dnia… but ckrg saiia tw klw btuh skli krja kras tuk jd diplomat… tp saiia ttap ingn mncpai cita2 saiia t jd dplomat… wlw saiia tw mnjd sorg diplomat i2 tdklah gmpank!!
Pak, mau iseng tanya, kalo petugas komunikasi kerjaannya kayak pegimana ya pak, terimakasih
Thx ya. artikelnya bagus and inspiring. Saya setuju sekali dengan pendapat penulis bahwa diplomat adalah penyambung lidah rakyat dan bukanlah kaum elit. Sukses!!
Artikelnya bagus bgt,,
Yulia jd lbh tau klu tuk jd diplomat itu ndak gampang,,
Tp walau pun susah yulia tetap akan tetap
berusaha bwt jd diplomat.
Itu cita2 dr SMA soalnya,
Tp yulia mo nanya klu dr fak.sastra bs ndak jd diplomat?
Ndak harus dari HI kan?
Trs tes IT nya tntg pa aja ya?
Trs tes tntg pengetahuan yg mencakup isu nasional ama internasional dpt dipelajari darimana aja ya selain internet?
Emang yulia br semester 1 tp yulia mo dr skrg bljr bwt jd diplomatnya.
^_^
ah bung Selwas bisa saja :). Anyway,artikel yang sangat bagus dan tepat. luar biasa. semoga sukses
There is an error for the latest comment on this article.
Apology for the mistake.
Thanks,
Verdinand (Admin)
wagh.. aku juga mau jadi diplomat.
habis nya mereka keren sih.. menjalin kerja sama dgan negara lain.. tugas2 yg psti sulit..
aku nge fans sama diplomat dri jepang bpk.HASASHI OWADA
dia slah stu diplomat yg aku kagumi.. org yg tegas ,cermat,pintar dan bijaksana yg skrg mnjdi hakim di PBB..
putri sulungnya juga adlh diplomat yg cermat ,pintar ,dn baik.. MASAKO OWADA yg skrg mnjdi putri mahkota JEPANG.. diplomat pintar dng gelar “MAGNA CUM LAUDE” Dri HARVARD UNIVERSITY ,, klo bleh tanya gmna sigh cara jdi diplomat?????????? tolomg dibalas yah.. artikelnya keren….
wah keren,,,, tapi kalau say bukan dari ank Jurusan HI gmn???? bisa ga ya jadi diplomat????????
thx,,,,
Editor: Bisa. Asalkan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Kemlu.
saya bercita2 menjadi diplomat ,saya sekarang duduk di bangku SMA ,pada saat SMA ini apa yg harus saya lakukan utk menjadi diplomat yg handal dan diperhitungkan oleh departmen yg menugaskan nantinya???
apakah dgn bersekolah di sekolah internasional dapat lebih berpeluang? kalo iya dimanakah??
thanks
Mas, saya mau nanya dong
saya lulusan s1 teologi dari sekolah teologi yg terakreditasi A. Termasuk lulusan terbaik dan saya punyakemampuan bahasa inggris yg baik.
Apakah saya dari latar belakang pendidikan teologi bisa mengikuti tes utk diplomat? Pernahkah ada pelamar/calon diplomat dari latar belkang teologi?
Terima kasih banyak Mas untuk penjelasannya. Saya sangat berharap penjelasan dari Mas.
Verdinand: Kalau melihat persyaratan yang diajukan Deplu, S1 Teologia tidak masuk mas..
Mas bisa mengemail penjelasannya ke whw_tepa@yahoo.com
diplomat sebagai penyambung lidah rakyat…kok gaji nya cuman kecil? he he…aku jadi agak gimana gitu buat jadi diplomat…emang sih tujuan utama buat jadi abdi rakyat…tapi kan kewajiban n tugasnya lebih berat dari pns biasa
woowww….
keren penjelasannya….
tapi kalo mo jadi diplomat emang harus kuliah di jurusah HI ya…??? jurusan lain memungkinkan gak untuk jd seorang diplomat??
tks jawabannya….
salam kenal….
Verdinand: Tidak selalu Mas. Banyak juga dari jurusan lain seperti komunikasi, ekonomi, psikologi, dll.
Para pembaca dan netter yang terhormat,
Melalui internet kita telah membaca mengenai kisah-kisah para pejabat
Perwakilan R.I. di luar negeri yang lucu-lucu (seperti Perw. R.I. di
Amerika Latin/Selatan), dimana Dubesnya menggasak uang jalan sopir
dinasnya, juga di KBRI Tokyo dimana Dubesnya katanya, Luar Biasa tetapi
KBTU-nya berkuasa penuh. Dan lagi-lagi ceritera dari Perwakilan R.I. di
Hamburg yang Konjen-nya suka pesta berfoya-foya di hotel-hotel mewah dan
Diplomat RI di London (pada hal intel lho) yang bisa dijebak badut
intelek terkenal Inggris, Mark Thomas. Dari ceritera-ceritera di
Perwakilan-Perwakilan tersebut dapat disimpulkan betapa para pejabat
Perwakilan RI masih mengamalkan pahaman “mumpung” sebagaimana merupakan
warisan orde baru. Mumpung dalam (meminjam istilah bahasa Melayu)
“serba-serbi”, mumpung berkuasa, mumpung bisa ini mumpung bisa itu dsb.
Dengan azimat mumpung itu kalau perlu semuanya dikorbankan.
Bagaimana dengan Perwakilan RI (KBRI) di Kuala Lumpur?
Sebagai W.N. Indonesia yang harus mencintai Republik (sebagai tanah air
dan tumpah darah), walau dalam keadaan apa sekalipun Republik kita
dewasa ini dimana negara kita masih akan menghadapi zaman ruwet dan
rumit yang akan berkepanjanan walau setelah Pemilu mendatang sekalipun
(pra-kiraan hampir semua orang), penulis akan mencoba menurunkan
tulisan secara bersambung yang diharapkan akan dapat merupakan sumbangan
bagaimana KBRI di Kuala Lumpur yang pada hemat penulis sama sekali belum
terjamah angin reformasi, sehingga perangkatnya, baik yang lunak maupun
yang keras perlu direformasi demi mengembalikan citra Perwakilan RI di
luarnegeri yang dapat diandalkan. Peduli sangatkah? Mungkin jawabannya
ya dan tidak.
Ya, karena apa salahnya masukan seseorang yang telah “mengalami” (ini
barangkali istilah yang tepat, untuk tidak perlu dikatakan sudah
pengalaman lho, kalau yang ini mah lain) dan bekerja lama, sedikit
banyak bisa terpakai. Dan jawabannya bisa tidak karena dalam kaitan ini
penulis sangat pesimis apakah tulisan penulis ini bisa terpakai.
Meminjam istilah orang Jakarte, boro-boro terpakai dibaca orang saja
sudah Alhammdullilah. Penulis bisa mengatakan demikian karena biasanya
tulisan dari orang seperti penulis hanyalah “sesuatu bisikan di hutan
belantara” (a voice, if not a whisper, in the wilderness”). Bisikan
orang kecil yang jelas tidak akan digubris. Paling tidak itu dalam
kaitan ini penulis hanya meng-echo-kan imbauan para pejabat tinggi
negara belakangan ini yang mengatakan bahwa “kritik” itu perlu (JP
1/3). Tanpa kritik , orang cenderung akan khilaf karena tidak akan ada
yang mengawasi. Ini seorang Menteri yang ngomong lho. Hanya saja Menteri
ini Menteri zaman sekarang, Menteri zaman reformasi. Bukan Menteri order
baru dan semua onderbouwnya yang budayanya masih budaya Soeharto yang
takut dikritik. Bagi penulis apakah itu zaman orde lama-kah, baru-kah
(bukan jaman orlaba, orde lama baru, “ora laba” /tidak untung) atau
zaman orde reformasi-kah, kritik memang harus perlu di sesuatu negara
yang mengamalkan pemerintahan demokrasi. Namun akhirnya tujuan penulis
hanya satu yaitu cukup memadai, jika tulisan ini diketahui.
Tulisan ini juga tidak akan disusun asal saja atau iseng-iseng maupun
suara usil dijaman semua orang rame-rame nulis di Internet. Tulisan ini
lebih merupakan ekspresi seseorang yang hampir dari separuh hidupnya
mengabdi sebagai pegawai setempat di KBRI Kuala Lumpur.
Tulisan yang akan disampaikan secara bersambung ini dimaksudkan
merupakan kesan-kesan penulis selama bekerja sebagai pegawai setempat
(local staff) di KBRI selama 24 tahun. Dalam zaman semua orang menulis
di internet melalui e-mail ini, penulis tidak bermaksud menghujat,
membuka borok, menelanjangi para pejabat, terutama para pejabat pada
masa penulis mengakhiri tugasnya. Dengan tulisan ini penulis juga tidak
bermaksud menjadikan internet sebagai junk-mail bin. Dalam
penyampaiannya penulis juga tidak akan menyampaikan dengan bahasa yang
ilmiah, bahasa sastra atau bahasa, katakanlah yang canggih sekalipun.
Penulis akan mencoba menulis dengan bahasa yang mudah dipahami, bisa
dibaca dengan santai (karena kalau tidak demikian, pembaca/netter tidak
akan mau mengikuti ceritera penulis sampai selesai) Sebagai seseorang
yang telah tinggal di Malaysia selama lebih dari 27 tahun diantaranya 24
tahun menggeluti penugasan sebagai pegawai setempat, wajar apabila
penulis diberikan kesempatan dapat memberikan masukan berupa kesan dan
pesan. Tulisan berikut juga sebagai menyahut himbauan kawan-kawan, baik
itu dari kalangan WNI yang tinggal di Malaysia yang jumlahnya
diperkirakan mencapai jutaan, kawan-kawan WN Malaysia sendiri yang
selalu memberikan penilaian bagaimana misi perwakilan RI sebaiknya
dijalankan agar dapat memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan
pemerintah pusat. Mungkin ada yang mikir mengapa kebijakan Perwakilan
R.I,. harus dititik-beratkan kepada kemauan/kepentingan rakyat negara
dimana Perwakilan RI berada. Ya, jawabannya memang demikian. Melayani
kepentingan rakyat R.I. memang jelas. Namun melayani rakyat negara
dimana perwakilan RI berada harus juga diutamakan. Karena dijaman
krismon di tanah air yang entah kapan akan berakhirnya peningkatan
penerimaan RI dari kegiatan ekonomi dan perdagangan dengan rakyat negara
setempat perlu harus selalu diproritaskan. Itulah yang penulis
maksudkan agar Perwakilan RI harus dapat selalu melayani masyarakat
(terutama masyarakat usaha) negara setempat.
Ada juga beberapa kawan lokal staff sendiri yang menyampaikan kepada
penulis ini agar menyuarakan suara mereka ” as a silent voice which
never heard by the leadership”. Kelompok yang terakhir ini memang tidak
akan bisa bersuara secara terbuka seperti suara penulis dalam ruangan
ini selama mereka ini tinggal dalam “gelanggang”. Dengan begitu apakah
dapat dikatakan bahwa penulis megah karena mengatas-namakan mereka itu.
Jawabannya, sama sekali tidak. Apakah ada imbauan atau tidak dari
mereka, penulis yang memang kegemarannya menulis (dan sebagai sambilan
untuk mencari uang), tokh mempunyai intuisi harus menulis juga walau
apapun situasinya.
Dalam tulisan berikut pembaca akan dapat mengetahui bagaimana
berdasarkan penilaian masyarakat Indonesia di Malaysia pimpinan KBRI
masih, bukan saja bersikap acuh terhadap warganya tetapi juga terhadap
penulis sebagai bekas bawahannya. Pengamatan penilaian ini berdasarkan
masih banyaknya aduan yang diterima oleh sebuah LSM Malaysia, yang
tidak ditangani oleh KBRI.
Dengan tulisan yang panjang lebar dan akan disampaikan secara bersambung
ini bukan maksud penulis untuk
menghujat KBRI dan perangkatnya sehingga pembaca juga membenci KBRI di
Kuala Lumpur. Penulis hanya akan menyampaikan ketidak-wajaran
perlakuan pimpinan KBRI kurun waktu tertentu kepada penulis mengingat
tidak adanya tanggapan oleh Pimpinan KBRI walaupun prosedur/tertib untuk
mencari penyelesaian telah
ditempuh oleh penulis dengan baik.
Bagaimana seorang KBTU sungguh berbeda perilaku kedinasannya
dibandingkan para KBTU lainnya/sebelumnya dimana hanya karena mau
berpamitan dengan atasan puncaknya sampai hati menghalang-halangi
penulis untuk tidak diberi kesempatan berbuat demikian. Suatu perlakuan
yang sama sekali di luar kewajaran dari seorang pengelola pegawai
setempat di sesuatu KBRI. Seseorang pejabat yang penulis anggap masih
mempunyai mental birokrat ambtenar sehingga memandang bawahannya hanya
sebagai barang mati yang boleh dicampak kesana kemari.
Pembaca juga akan dapat mengetahui bagaimana peraturan kepegawaian untuk
pegawai setempat di KBRI Kuala Lumpur hanya menguntungkan mereka yang
bisa “ngapurangcang” dan bukan bagi mereka yang memang betul-betul
qualified. Kalau pegawai itu bisa ngolor akan diperpanjang kontraknya
walau sudah memasuki usia pensiun sekalipun. Namun kalau pegawai itu
tidak bisa ngolor dan hanya di”duga” melakukan kesalahan (tanpa
dibuktikan) maka terus harus dihabisi.
Juga pembaca akan dapat mengikuti ceritera di Sekolah Indonesia Kuala
Lumpur dimana penulis pernah bertugas, Seseorang Kepala Sekolah yang
suka mengamalkan sikap ‘favouring side”. Bagaimana seorang Kepala
Sekolah yang tidak dibekali sedikitpun dengan apa yang dinamakan
Personnel Management sehingga ketika seorang tenaga kependidikan (guru)
bersuara minir terhadap seseorang tenaga non-kependidikan (staff
TU-nya), Kepala Sekolah ini meminjam istilah orang putih “just swallow
the naked lies” meskipun tidak harus ” the naked truth” (seperti di
serial TV). Juga ada ceritera mengenai seorang guru sekolah, yang
penulis menganggap tidak waras, hanya karena di-check apakah guru
tersebut (berdasarkan apa yang disampaikan Kepala Sekolah kepada
penulis) mengatakan sesuatu, malahan membalas kembali dengan semacam
surat yang men-teror (karena membabi-buta menuduh yang bukan-bukan) diri
pribadi penulis beserta keluarga penulis sampai sekarang. Guru ini
tidak faham bahwa angin perubahan di Indonesia harus diterima dan
dihayati apapun
konsekwensinya. Guru ini masih hidup di alam orde dimana budaya ninja,
black-mail dan model tukang kepruk dan
ancam mengancam masih merajalela. Surat-surat tersebut menurut penulis
hanya ditulis oleh orang yang berkelakuan biadab, orang-orang yang tidak
bertamadun.
Surat guru tersebut kepada penulis sedang dikumpulkan untuk sampai masa
yang tepat akan penulis sampaikan kepada Pimpinan KBRI sebagai atasan
puncak guru tersebut (paling tidak itulah saran sejauh ini yang
disampaikan oleh pengacara/lawyer penulis mengenai kasus defamation
/libel suit tsb.) Penulis tidak akan menyerahkan surat-surat yang
menjijikkan tersebut kepada atasan langsungnya (Kepala Sekolah)
mengingat Kepala Sekolah terkesan sudah tidak dapat mengendalikan anak
buahnya.
Pembaca juga akan mengetahui bagaimana seorang lokal staf seperti
penulis dipercaya oleh atasan langsung untuk membantu penilaian konduite
seorang KBTU (sebagai atasan bendaharawan). Kebetulan atasan langsung
penulis waktu itu dipercaya atasan puncak (top boss) atau paling tidak
dianggap netral dalam kasus yang melibatkan ketidak-upayaan KBTU
diakhir tahun 80-an menangani code of conduct bawahannya (Wk.
KBTU/Bendaharawan). Meskipun penulis juga tidak pernah merasa megah
walaupun di hari akhir tugasnya penulis merasa dirugikan karena tidak
pernah diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang benar kepada atasan
puncak. Penulis rela mengundurkan diri daripada harus diijak-injak
kehormatan/harga dirinya. Pengunduran diri penulis atas dasar
kesepakatan PK (Perjanjian Kerja) dimana apabila salah satu pihak tidak
setuju dengan perpanjangan, maka PK tidak dapat dilanjutkan. Penulis
dengan surat resmi kepada pimpinan KBRI, 3 bulan yang lalu telah meminta
hak-haknya apabila sesuatu PK diakhiri namun tidak pernah memperoleh
tanggapan. Inilah yang penulis simpulkan bagaimana seorang birokrat
puncak bersikap acuh bahkan terhadap bekas bawahannya sendiri yang telah
mengabdi selama 24 tahun lebih. Bagaimana seorang pejabat di Perwakilan
yang hanya paling lama 4 tahun berada disesuatu negara sanggup begitu
saja meninggalkan kesan yang buruk kepada bekas bawahannya yang sudah
berkeluarga dan mengakhiri tugas dalam zaman serba susah. Penulis tidak
kecewa diakhiri tugasnya karena sekali lagi penugasan adalah berdasarkan
kontrak kerja (PK) namun pengakhiran tanpa memperhatikan hati nurani dan
pengabdian bawahan yang cukup lama sama dengan perlakuan tidak adil atau
mungkin bisa dikatakan berlaku kejam.
Sungguh pengalaman pahit bagi penulis bekerja di bawah kepemimpinan KBRI
(sekarang) dikurun waktu penulis mengakhiri tugasnya. Apakah karena
penulis tidak mampu untuk “mundhuk-mundhuk” ataupun “ngapurancang”
didepan birokrat bawahannya lalu penulis dianggap tidak layak untuk
diberi kesempatan untuk bertemu dalam rangka menyelesaikan masalah.
Inilah pengalaman tragis bagi penulis setelah pernah bekerja dengan 7
orang Duta Besar sebelumnya. Penulis pernah bekerja dengan seorang Duta
Besar yang tidak pernah tersenyum dan mukanya selalu nampak angker,
namun bagi penulis hati beliau mulia karena luar dalam sama. Penulis
mengatakan mulia karena pada zaman beliaulah tidak pernah ada yang
diberhentikan (kecuali yang memasuki usia pensiun). Duta Besar RI inilah
yang bagi penulis memegang prinsip dengan bersuara vokal menghadapi
current issue dengan pemerintah setempat. Paling tidak itulah kesan
penulis terhadap Dubes tersebut. Kesan wajar dari seseorang yang pernah
menghadapi banyak Dubes selama 24 tahun. Ada juga seorang mantan Dubes
yang sampai sekarang masih menjalin kerjasama dengan penulis di dalam
kegiatan usaha sourcing di Malaysia. Dengan hal demikian lengkaplah
penulis menghadapi variety of personal conduct banyak Dubes di
Perwakilan RI di Kuala Lumpur.
Mungkin kesalahan dan kelemahan penulis tidak bisa berhura-hura sehingga
dan oleh sementara kawan lokal staff dianggap seseorang yang serius
tetapi itulah human nature penulis. Selama penulis bekerja dengan baik
dan mengikuti dan mematuhi petunjuk peraturan kepegawaian itulah
“playing with the rule of the game” bagi penulis.
Sebagai seorang CWG (Chief Wage Earner) atau “single bread winner”
(satu-satunya pencari nafkah dalam keluarga) penulis harus berjuang
mati-matian untuk sekadar mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari di
negara orang dan dengan anggota keluarga yang besar pula. Penulis
mengandalkan prinsip hidup “all rounder & one man show” (serba bisa
untuk jadi apa saja) dalam menghadapi permasalahan hidup ini. Tidak ada
yang tahu bahwa di zaman penulis bekerja di KBRI, hanya untuk membayar
tambahan uang sekolah anak memasuki college swasta, penulis perlu
menjadi jaga malam (jelas bukan di KBRI) selama 2 minggu (mengganti
orang yang bercuti). Dan itulah, karena prinsip sampingan penulis, bahwa
semua pekerjaan itu mulia dan tidak ada pekerjaan yang hina asal
dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan jelas, asal pekerjaan itu
halal sehingga dapat dikerjakan oleh siapapun. Bukan maksud penulis
mencari simpati dengan membuat tulisan ini. Itulah prinsip hidup tidak
mencari simpati dan tidak menistakan diri, “simply because sympathy
won’t change your life” (hanya dengan belas kasihan tidak akan mengubah
hidup seseorang). Itulah mengapa penulis adalah orang yang apa adanya
kalau memang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari saja sudah susah
mengapa harus berhura-hura.
Pembaca juga akan mengetahui ceritera kawan penulis selaku poegawai
setempat yang disodori pistol seorang Athan hanya karena pegawai
setempat itu tidak/kurang cepat dalam melayani kemauan Athan tersebut.
Penulis menyadari bahwa tulisan penulis mungkin memerlukan waktu untuk
dikatakan objektif kalaupun tidak
perlu dikatakan benar. Namun satu hal perlu diakui bahwa adalah waktu
yang menguji kebenaran bukannya tanggapan tergesa-gesa yang menguji
kebenaran itu sendiri. It is the time that observe the truth and not the
prompt response instead. Penulis harus menghargai KBRI sebagai institusi
perwakilan negara RI tetapi tidak perlu dalam sesuatu kurun waktu harus
menyetujui apa yang dibuat oleh para pejabatnya sebagai para pribadi.
Penulis tidak pernah meragukan kebijakan Deplu dan perwakilan-perwakilan
teknis lainnya di sesuatu KBRI di luar negeri tetapi bagaimana kebijakan
itu perlu dijabarkan dengan tepat dan dengan mengingat kondisi negara
setempat adalah sesuatu tugas berat para pejabat/dipomat KBRI. Yang
penulis perhatikan memang para pejabat di KBRI Kuala Lumpur menyadari
hakekat ini namun dalam realitas dan prakteknya jauh dari yang
diharapkan.
Penulis menyadari adanya demarkasi antara tugas home staff dan lokal
staff. Namun dalam zaman keterbukaan
seperti sekarang dimana reformasi di Indonesia harus terlebih dahulu
dilakukan terhadap sikap penguasa kiranya perlu juga adanya reformasi
sikap para pejabat di KBRI secara umumnya. Apalagi KBRI di sesuatu
negara dimana jumlah warga WNI-nya banyak seperti di Malaysia. Lokal
staff tidak boleh dianggap seperti sampah buangan yang dapat dengan
sesuka-hatinya nya dibuang tanpa memperhatikan pengabdian mereka selama
berpuluh-puluh tahun. Dalam kaitan ini bukan maksud penulis untuk
memegahkan dirinya. Penulis setuju bahwa oknum loal staf yang berbuat
dan terbukti bersalah ditindak. Tetapi tidaklah beretika kalau menindak
lokal staf hanya berdasarkan hear-say ,berdasarkan laporan, berdasarkan
masukan sama sekali tanpa pembuktian. Penanganan dan penyelesaian
masalah yang menyangkut lokal staf yang sudah lama harus dibedakan
dengan yang baru masuk. Bukannya disamaratakan seperti perlakuan yang
diterima penulis. Jangan demi dan atas nama perampingan organisasi,
seseorang harus diakhiri tugasnya tanpa diberi kesempatan membela diri.
Penanganan dan penyelesaian masalah personel lokal staf yang berdasarkan
kebijakan juga harus seragam. Mereka, pegawai setempat yang memang
sudah waktunya pensiun dan jelas sudah diberitahu waktunya dan harus
pensiun, hanya karena dapat mengampu dan diusulkan untuk mengampu
ternyata tidak jadi pensiun. Mereka yang berstatus pegawai setempat
honorair tidak wajar apabila demi perampingan ada yang diberhentikan dan
ada yang tidak diberhentikan.
Apakah pimpinan KBRI tidak mengetahui bahwa memang ada diantara yang
diakhiri tugasnya betul-betul terbukti berbuat salah dan merusak citra
KBRI. Namun Pimpinan KBRI juga harus sadar bahwa ada diantara pegawai
setempat yang mempunyai perilaku yang tidak senonoh masih bercokol di
KBRI. Penulis memperoleh masukan tentang hal ini. Penulis juga tidak
dapat memahami mengapa tidak pernah dilakukan penelitian terhadap mereka
yang terbukti berbuat salah laku kedinasan tetapi tokh masih saja
dipertahankan di KBRI. Pimpinan KBRI memberhentikan petugas security
yang melakukan perbuatan a susila didalam lingkungan KBRI. Hanya
karena kejadiannya di KBRI. Tetapi apakah Pimpinan KBRI tidak sadar
bahwa sampai hari ini Pimpinan KBRI
masih mempertahankan pegawai setempat yang bertindak a susila hanya
karena kejadiannya di luar lingkungan
di luar KBRI.
Penulis sebagai WNI dan wajib pajak RI yang patuh berhak menyuarakan
hal ini demi nama baik misi perwakilan. Pegawai setempat yang
berpuluh-puluh tahun mengabdi tanpa cela perlu didengar suaranya perlu
dilibatkan dalam menanggulangi kasus tertentu warganya berdasarkan
pengalamannya di KBRI dengan para
atasan sebelumnya. Pendekatan bisa berubah dan disesuaikan dalam setiap
kurun waktu seseorang Duta Besar bertugas namun pendekatan
berorientasikan penyelesaian sesuatu masalah yang memperhatikan hati
nurani
pihak-pihak yang tekait adalah esensi etika kerja yang perlu dipatuhi.
Approach can be differ and adjusted in whatever situation but then
solution which applies inner heart of parties involved must be observed.
Dengan penyampaian tulisan melalui e-mal ini bukan maksud penulis
menyampaikan rasa kekecewaannya karena
perlakuan kurang adil yang diterima penulis oleh pimpinan KBRI sekarang.
Meskipun dalam keadaan apapun,
bahkan sebelum zaman reformasi sekalipun, penulis beranggapan bahwa
setiap WN dalam setiap hubungan apapun perlu didengar suaranya apakah
itu hubungan kerja, hubungan berserikat, hubungan berorganisasi
atau hubungan apa sekalipun. Harus ada semacam keharmonisan ikatan
dengan memperhatikan hak dan kewajiban
masing-masing pihak yang diatur dalam setiap wadahnya. Apalagi dalam
zaman sekarang dimana setelah 32 tahun kita berada dalam zaman rusaknya
tatanan, akhirnya terbukti bahwa pendekatan kekuasaan dalam
menyelesaikan masalah hanyalah merupakan simbol arogansi. Bukan jamannya
lagi kekuasaan dipakai dalam pendekatan penyelesaian apapun. Bukan
jamannya lagi perilaku penguasa tidak boleh dikritik. Bukan jamannya
lagi kritik dianggap menyinggung kehormatan kekuasaan.
wow! what an amazing thoughts! saya sangat terpukau membacanya. saya menjadi semangat kembali, karena memang saya sangat bercita-cita ingin menjadi diplomat! namun sayang, karena saya tidak dapat lulus di HI saya sempat down dan merasa tidak dapat menjadi diplomat. tetapi setelah membaca artikel ini, yang katanya walau bukan dari jurusan HI bisa melamar menjadi diplomat saya merasa cukup lega. yang harus saya lakukan adalah mempersiapkan semua hal-hal yang diperlukan menjadi diplomat. semoga cita-cita saya terkabul! amin! keep fighting guys!