Masyarakat miskin bukan ancaman tapi peluang
February 7, 2008 by verdinand
Filed under EKO-POL-IN, book review
Setelah beberapa minggu ini portalHI digempur oleh tulisan dengan tema pertahanan keamanan, kini saatnya ekopolin-ers beraksi. Kali ini saya ingin mengulas sebuah buku dengan tema besar kemiskinan. Ketika Gramedia Matraman meresmikan gedung hasil renovasinya, saya datang ke sana *secara promonya keren banget:semua buku diskon 30%*. Di salah satu sudut di lantai tiga, saya menemukan buku berjudul The Fortune at The Bottom of The Pyramid yang ditulis oleh C.K.Prahalad. Kata pengantarnya saja sudah menantang. Menggugat pemikiran tradisional mengenai masyarakat miskin. Apalagi ketika Prahalad mengatakan: “Kita harus meninggalkan banyak pandangan dunia yang mendukung dan menentang. Apakah Anda mendukung atau menentang globalisasi? bukan merupakan pertanyaan yang bagus”. “Cocok banget buat gue nih” pikir saya. Nah, agar ilmunya tidak untuk saya sendiri disini saya sajikan review buku ini.
C.K. Prahalad sebenarnya seorang ahli strategi bisnis dan manajemen. Salah satu bukunya, Competing for the Future memperoleh predikat Best Selling Business Book of the Year pada tahun 1994. Ide untuk menulis buku ini datang ketika perayaan Natal pada tahun 1995 ia terusik dengan pertanyaan yang sebenarnya klasik untuk kita: Apa yang dapat dilakukan terhadap orang-orang paling miskin di seluruh dunia? Mengapa kapitalisme global tidak mampu mengatasi masalah kemiskinan? Berangkat dari pertanyaan ini, Prahalad pun memulai perjalanan intelektualnya. Dalam pencariannya, ia menemukan sebuah kesepakatan implisit di antara politisi, birokrat, dan manajer di perusahan domestik dan korporasi internasional bahwa masyarakat miskin adalah tanggungan negara. Seolah-olah masyarakat miskin hanya dilihat sebagai beban masyarakat dan harus segera diberi bantuan kemanusiaan (charity). Bagaimana kalau cara berpikirnya dibalik? Masyarakat miskin bukan ditempatkan sebagai beban melainkan sebuah peluang untuk mendapatkan keuntungan?
Inilah pesan utama yang disampaikan oleh buku ini: jadikanlah masyarakat miskin sebagai pasar ekonomi baru. Mmmhh.. agak kapitalis? Ya memang. Prahalad ingin mengatakan bahwa kapitalisme itu nggak buruk-buruk amat. Yang bermasalah itu orangnya, yang cenderung mengabaikan potensi masyarakat miskin. Istilah masyarakat miskin pun diganti oleh Prahalad dengan istilah masyarakat dasar piramida (Bottom of the Pyramid/BOP) yang memiliki karakteristik penghasilan kurang dari US$ 2 per hari. Pertanyaan besarnya adalah bagaimana caranya mengubah 4 milyar orang yang berada di dasar piramida menjadi lahan baru bagi korporasi untuk mencari keuntungan? Prahalad mengidentifikasi empat syarat untuk mewujudkannya.
Pertama, ciptakan kemampuan untuk mengkonsumsi. Caranya? Membuat paket-paket unit kecil dan terjangkau (paket-sekali-pakai) seperti produk sampo dan makanan atau pemberian kredit seperti yang dilakukan Casas Bahia di Brasil dan Grameen Bank. Kedua, pengembangan barang dan jasa baru. Amul, koperasi susu di India, telah memperkenalkan es krim berkualitas bagus dengan harga kurang dari US$ 0,05 per sajian, terjangkau oleh semua orang di BOP. Ketiga, harga diri dan pilihan. Ketika masyarakat miskin diubah menjadi konsumen, mereka bukan hanya mendapatkan lebih dari sekedar akses ke barang dan jasa namun juga mendapatkan harga dirinya dengan perhatian yang diberikan korporasi yang sebelumnya terbatas hanya untuk kelas menengah dan kelas atas. Keempat adalah rasa saling percaya di antara dua pihak.
Pasar BOP sungguh menggiurkan. Satu contoh kasus di dalam buku ini yang membuat saya tercengang adalah keberhasilan salah satu produsen semen internasional yang berasal dari Meksiko, CEMEX, dalam menciptakan pasar BOP di Meksiko. Pada tahun 1994-1995 terjadi krisis ekonomi di Meksiko. Penjualan pada segmen formal anjlok sampai 50%, namun penjualan pada segmen informal hanya turun 10%. Perusahaan ini menyadari bahwa segmen informal yang dihuni oleh masyarakat miskin memiliki potensi pasar US$ 500 sampai US$ 600 juta per tahun. CEMEX pun merevolusi strategi bisnis mereka dengan menjadikan masyarakat miskin sebagai salah satu prioritas. CEMEX menciptakan produk barunya “Patromoni Hoy” dimana CEMEX bukan hanya sebagai penyuplai semen untuk membangun rumah masyarakat miskin namun juga menyediakan akses kredit bunga rendah dan skema pembayaran kredit melalui komunitas kecil yang beranggotakan tiga orang *atau istilah Meksikonya Socio*. Setelah tiga tahun paket Patromoni Hoy ini diluncurkan, 36.000 pelanggan dan kredit bernilai lebih dari US$ 10 juta tercapai. General Manager Patrimonio Hoy mengatakan bahwa program ini menghasilkan aliran positif keuntungan sejumlah dua juta peso per bulan. CEMEX berhasil mengubah masyarakat miskin/pasar BOP yang belum terjamah menjadi bisnis menguntungkan.
Membaca buku ini serasa mempercayai banyak hal yang selama ini sulit terpikirkan bagi saya. Misalnya, Prahalad mematahkan salah satu anggapan saya selama ini kalau konsumen BOP sulit untuk menerima teknologi maju. Para petani India kini sudah sangat mahir menggunakan teknologi internet (email, chatting, browsing,teleconference) berkat inisiatif salah satu konglomerat produsen kedelai India, ITC untuk menciptakan jaringan e-Choupal. Adanya warnet e-Choupal di desa-desa telah membuat para petani mampu mengakses harga-harga kedelai bukan hanya di balai lelang lokal namun juga di Chicago Board of Trade. ITC sebagai pemasok kedelai pun senang karena harga kedelai yang didapat ITC dari petani lebih murah. Selama ini harga kedelai yang didapat ITC lebih mahal karena harus melewati balai lelang dan membayar juru beli. Kini petani dapat memasok langsung ke ITC tanpa melewati proses yang rumit.
Kalau Anda kagum dengan Muhammad Yunus, Anda juga seharusnya kagum dengan C.K.Prahalad. Kedua tokoh ini sebenarnya memiliki pemikiran yang mirip yaitu bagaimana memberdayakan masyarakat miskin. Bedanya, Muhammad Yunus lebih menekankan pada unsur moral sosial dari sebuah bisnis. Ia setuju bahwa kapitalisme menempatkan pengusaha sebagai unit yang memaksimalkan keuntungan tetapi bagi Muhammad Yunus, motivasi tersebut bisa ditambah satu lagi yaitu melakukan kebaikan kepada sesama tanpa merugikan korporasi secara finansial. Lahirlah konsep ’social business’ ala Muhammad Yunus. Modal yang ditanam perusahaan pada masyarakat miskin akan kembali lagi dengan atau tanpa keuntungan/dividen.
Saya sangat merekomendasi buku Prahalad ini khususnya bagi yang tertarik dengan isu ekonomi rakyat. Buku ini sangat inspiratif sekali untuk pembuat kebijakan dan para peneliti kemiskinan dan globalisasi. Banyak sekali contoh-contoh di dalam buku ini yang dapat diaplikasikan di Indonesia seperti e-Choupal dan Patrimoni Hoy dari CEMEX. Setelah membaca buku ini, saya berencana mengajukan proposal e-Choupal kepada satu BUMN pupuk di Cikampek. Siap-siap saja kalau nanti petani di Karawang bisa ngeblog dan teleconference *hehee*. Yang membuat saya bingung adalah kenapa buku ini tidak masuk dalam rak buku bestseller. Kemiskinan masih menjadi masalah bangsa kita saat ini dan kita membutuhkan buku-buku inspiratif seperti ini. Mmhh..mungkin pembaca Gramedia masih sedang asik membaca komik dan novel tinlit *seperti saya hee*
KESIMPULAN:
Inspiring, Enlightening.
FACT SHEET:
Judul buku : The Fortune at The Bottom of The Pyramid: Mengentaskan Kemiskinan Sekaligus Memperoleh Laba
Judul asli : The Fortune at The Bottom of THe Pyramid: Eradicating Poverty through Profits
Penulis : C.K. Prahalad
Penerbit : PT Indeks Kelompok Gramedia (Edisi aslinya oleh Prentice-Hall, Inc.)
Tahun Cetak : 2004
Tebal : 432 halaman
Harga : 69.900




buku yg menarik! menurutku buku ini bgs untuk djadikan landasan penyusunan CSR (corporate social responsibility) oleh perusahaan2 d indonesia.
sekedar untuk menambahkan, hernando de soto pernah menulis buku berjudul The mystery of capital: Why capitalism thriumphs in the West and fails everywhere else (2000/2001), didalam buku ini dy menyatakan bahwa perosalan kemiskinan yg dihadapi neg2 dunia ketiga disebabkan oleh ketidakmampuan mereka memanfaatkan “modal mati (dead capital) yg mereka miliki. Modal yang mati ini berupa rumah di tanah yang tidak jelas pemiliknya, perusahaan yang tidak berbadan hukum, dan industri tersebar yang tidak dilihat investor. De Soto lalu mengusulkan negara harus menata hak-hak atas kekayaan (property system) secara baik, sehingga memungkinkan aset-aset yang menganggur dari kaum miskin (dead capital) dapat dimanfaatkan secara produktif.
menurutku pemikiran prahalad dan de soto dpt digabungkan dgn cara perusahaan-perusahaan besar mengeluarkan produk2 yg dapat diakses masyarakat miskin dan membuat mereka mampu memaksimalkan potensi “modal mati” yg mereka miliki u/ meningkatkan kualitas hidup mereka. melalui cr ini perusahaan2 besar dan masyarakat miskin mendapatkan keuntungan.
sementara negara memiliki peran penting di dlm proyek ini melalui regulasi2 yg mendukung bagi berjalannya proyek tsb.
Thank you Mr.Wendy for your brilliant input.
Sejujurnya saya agak bingung kenapa tidak ada contoh kasus Muhammad Yunus dan De Soto dalam buku Prahalad ini. Padahal secara konsep, banyak hal yang bisa dikombinasikan.
Entah karena sumber bacaan yang kurang lengkap, timing penerbitan buku atau ada kompetisi di antara tiga pemikir ini (hee..)
Yang jelas, membaca buku Prahalad saja atau De Soto saja masih kurang lengkap. Saya tertarik untuk membaca semua buku dengan tema besar ini. Tapi lihat-lihat kondisi kantong saya dulu ^_^
great review! bener seperti yg lo bilang, penulis buku ini punya dasar logika yg sama dgn M. Yunus bahwa orang miskin punya potensi yang sangat besar, bukan hanya untuk lepas dari kemiskinan tetapi juga untuk menjadi motor pembangunan di wilayah dimana dia tinggal.
cuman menurut gw ada perbedaan sudut pandang yg patut diperhatikan diantara keduanya. meskipun saya belum membaca buku ini, tapi dari review dari bapak Verdinand, saya dapat menemukan perbedaan tersebut. Usul Grameen Bank dari Muhammad Yunus lebih mengarah pada pemberdayaan masyarakat miskin (miskin absolut) dengan memberikan kredit mikro supaya mereka lebih produktif dalam bekerja dan dapat lepas dari kemiskinan. sedangkan penulis buku ini, Prahalad, lebih berfokus pada pola dan jenis pelayanan konsumtif apa yang dapat dilakukan oleh korporasi kepada orang miskin sehingga tercapai mutual benefit diantara mereka. orang miskin dapat produk yg mereka butuhkan dengan harga terjangkau dan korporasi memperluas ekspansi pasar secara masif karena biasanya jumlah orang miskin di negara-negara sedang berkembang atau negara miskin, jauh lebih banyak daripada orang kaya.
memang ada contoh2 yg cukup produktif seperti penjualan jasa internet ke petani-petani kedelai India oleh ITC. Tetapi tetap ada perbedaan level kemiskinan ketika dibuat analogi antara pemikiran M.Yunus dan Prahalad. Menurut saya, M. Yunus lebih fokus pada orang-orang yang benar-benar miskin dan memberi solusi aplikatif dengan kredit mikro untuk memulai usaha baru atau meningkatkan pendapatan mereka. Sedangkan target Prahalad bukan orang-orang miskin absolut, tetapi lebih pada mereka yang masih miskin tetapi kekurangan akses dan barang-barang yang mereka butuhkan untuk meningkatkan usaha karena harga dari korporasi yang terlalu mahal.
Persamaannya, ide keduanya adalah ide yang brilian dan sangat layak untuk ditiru dan diimplemetasikan di Indonesia seperti yang telah ditulis Bapak Verdinand dan diusulkan oleh saudara Wendy diatas. Pertanyaannya, adakah penulis-penulis dan pemikir-pemikir ekonomi di Indonesia yang peduli pada orang miskin?
@ isa: aku yakin di indonesia ada pemikr yg seperti demikian, Mubyarto merupakan salah satu contohnya. untuk generasi d bawah Mubyarto aku ga tau..aku yakin ada tp tidak terpinggirkan oleh sistem mainstream yg lbh berpihak pd korporat, khususnya MNC.
Wah, komen Isa udah ditunggu-tunggu oleh saya *sampai harus disms*.
Thanks banget bro,
Menambah wawasan dan pengetahuan gue tentang perbedaan pemikir-pemikir kemiskinan ini.
Lu pantes kok memenangkan lomba tulis kemiskinan itu *dengan nada berat*
Kalo ditanya apakah ada penulis dan pemikir ekonomi di Indonesia yang peduli pada orang miskin pasti gue jawab iya. Cuma selama ini mereka tidak berani memunculkan idenya ke publik. Atau masih kebingungan bagaimana caranya mempublikasikan karyanya ke publik. Makanya, bagi yang memiliki karya-karya brilian, kirim langsung ke portalHI *heee..*
@ verdinand: maaf diluar konteks. menurutku gmn kalo tulisan2 d portal hi dibagi ke dalam dua kategori: 1) resensi buku, dan; 2) artikel populer. pembagian seperti itu akan memudahkan pembaca untuk mencari/membaca apa yg dy inginkan.
sebenarnya, artikel populernya pun bs dbagi lg k dlm bbrp kategori misalnya: ekopolin, pengstrat, organisasi internasional dan hukum internasional, tapi klo pembagian demikian dirasa terlalu ribet, dibagi dua kategori saja sdh ckp: resensi buku dan artikel populer
Sebuah terobosan yang cukup menggiurkan dengan potensi kemajuan yang begitu pesat.. dan Memang ini yang selalu ditunggu sebagai pondasi dasar hidup dalam bermasyarakat dan bernegara. Rasanya naif kalau sebuah negara harus me’reject muatan-muatan ekonomi di setumpukan pondasi yang kuat dalam kehidupan bernegara . Hal ini pula yang diperlukan dalam melakukan hubungan antar negara. Karena biar bagaimanapun juga, layaknya sebuah Usaha Dagang, Negara memerlukan modal untuk menjamin stabilitas keamanan dan kesejahteraan rakyaatnya. Dengan begitu, segala bentuk partikel negara dapat berjalan dengan seimbang dan teratur. Kombinasi antara beberapa konseptor macam De Soto dan M. Yunus feat. Prahalad tentunya akan menjadi sebuah tenaga besar bagi sebuah negara macam Indonesia ini untuk melakukan gebrakan multidimensi dan siap menghantarkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang dapat diperhitungkan di kemudian hari . Hal inilah yang diimpikan bangsa Indonesia untuk keluar dari ‘tempurung kemiskinan’.
thanx wendy atas sarannya
gue akan revisi kategorisasi tulisan portalHI secepatnya
kalau teman-teman membaca majalah swa 5 minggu terakhir, sajian utamanya yaitu riset tantangan pemasaran 2008 oleh markplus menyebutkan salah satu strategi kreatif dalam menghadapi persaingan 2008 adalah mengeksplorasi segmen bottom of pyramid (hal.82).
ini membuktikan bahwa buku ini sangat relevan untuk konteks Indonesia saat ini. cocok buat anak HI, cocok buat pelaku bisnis.
wah bagus. ini buku yang membuka cakrawala berpikir kita mengenai kemiskinan selain bukunya Soto (seperti yang sudah dijelaskan Wendy)
Konsepnya memang menarik, tapi mungkin agak sulit dilaksanakan kalau belum ada komitmen antara swasta dan pemerintah. Berhubung kita tinggal di Indonesia, kita tidak usah mengharapkan pemerintah yang bergerak, swasta jauh lebih agresif.
Mungkin contoh kasar kasus ini di Indonesia adalah pasar telepon genggam. Pasar telepon genggam murah di Indonesia cukup besar dan paling menarik dari keseluruhan marketnya.
Produsen telepon genggam seperti nokia, sony ericcson, dll banyak sekali membuat telepon genggam entry level dengan fitur canggih untuk golongan menengah ke bawah. Operator jaringan juga melihat kondisi pasar Indonesia dengan menyediakan tarif pulsa semurah yang bisa dikeluarkan.
Bagaimana dengan pemerintah? Yaaaah…
Sayang bukunya kemahalan. 70 ribu??? Tunggu diskon aja ah, buku integrasi keuangan asia timur yang gw beli pas diskon aja blom selese dibaca2…
Optimisme dalam krisis modernitas. dalam krisis modernitas banyak pro&kontra, pesimis-optimis, baik-buruk memandang. Dengan cara pengungkapan yang bagus, penulis mengungkapkan alternatif yang tentunya masih dalam narasi modernitas. Memang untuk keluar dari modernitas itu sangat sulit atau bahkan mustahil. oleh sebab itu, agar tetap dalam dimensi modernitas atau kapitalisme harus tetap eksis, maka terjadi disposisi dari mode of production ke mode of consumtion; disposisi dari rasio ke hasrat/nafsu, sehingga mekanisme budaya ekonomi pun tetap berjalan dengan fondasi libido.
Ngomong2, penulisnya kok gak ada namanya? Apakah penulisnya memang seorang yang sangat tawadhu, andap ashor atau seorang pelupa, sehingga gak mencantumkan namanya? He3x…
Kalangan temen2 dari studi Pancasila, seperti Pak Mubyarto yang diungkapkan Wendy memang sudah membahasnya, yang kuat dalam dimensi moral&etisnya. Sekarang ini sebenarnya sedikit demi sedikit pun dilaksanakan atau sudah dilaksanakannnya tanpa ekspose dari media, kecuali mungkin TVRI (kita hampir gak pernah mlihat) dan kalangan studi ini sangat terbatas dimensi geraknya. Lihat saja Mas Sony dan Dawam Raharjo yang hanya berada di lingkungannya saja untuk berusaha mengembangkan ekonomi kerakyatan. Beberapa mengelaborasikannya, seperti Pak Gunawan yang sekarang di Depsos, sering nongol di TVRI pagi hari. Semuanya berusaha memberdayakan rakyat kecil agar mereka dapat berpenghasilan, kebutuhan cukup, dan menabung.
Yang aku kagumi adalah dimensi kemanusiaan. Di saat kalangan mahasiswa atau masyarakat terjerat dalam budaya konsumsi, beberapa orang, seperti penulis resensi ini memang selalu dalam kondisi reflektif, sehingga dapat waspada dan waspada terus dari bahaya laten modernitas yang terus menghisap umat manusia ke arah nihilisme dan kehancuran (makna). Oleh sebab itu, kemiskinan terus dimaknai agar tidak berhenti dalam alam modernitas, tanpa harus dirubah2. kemiskinan pada akhirnya mempunyai arti positif.
Alam moderitas yang kontradiktif, semua barang hanya berubah dari nilai fungsi ke nilai tukar, sehingga kreatifitas justru berkutat pada imajinasi, gairah, dan formalitas penampakan tubuh komoditas saja, bukan pada substansinya
Aku pikir penulis sangat kaya akan gairah dan imajinatif yang perlu ditularkan kepada yang miskin seperti aku. aku sangat bersyukur pada penulis bahwa masih ada orang yang tidak miskin pula dalam hal semangat hidup. aku pikir ini sangat penting dalam menanggulangi kemiskinan ekonomi.
wah! bukunya menarik juga… Aku kira hanya buku John Naisbit aja yang dapat mengulas tentang ekonomi dengan baik… Hmm.. *btw, yg leave comment diatas mas musa uin y?* thank’s a lot ya bwt penulis resensi! aku sebagai mahasiswa baru di fakultas sosial, merasa sangat terbantu dengan resensi buku tersebut… Jane!
Senyum langsung mengembang ketika membaca tulisan Verdinand ini. Akhirnya sekarang banyak buku yang membahas mengenai kemiskinan tanpa harus berisikan propaganda yang bikin urat kita kencang terus.
baik Muh Yunus maupun Prahalad sama” meniatkan diri untuk memuseumkan kemiskinan meskipun dengan caranya sendiri…
Tulisan yang bagus karena bisa jadi bahan rekomendasi gw untuk skripsi hehehehe………..
Memberdayakan rakyat miskin sehingga mereka sendiri yang mengeluarkan diri dari kemiskinan. Upaya yang patut diacungi jempol dan diteladani, tidak hanya dalam bentuk tulisan, tetapi juga implementasi nyata terutama di Indonesia.
Sayangnya, ketika Muhammad Yunus memberikan kuliah di Istana Presiden tahun lalu, justru mendapatkan tanggapan yg -dalam pandangan saya- sedikit meremehkan dari Wapres Jusuf Kalla. Dengan nada bicaranya yg khas ia menyatakan bahwa apa yg dilakukan M. Yunus dengan Microcreditnya itu sudah pernah dilakukan di Indonesia dalam bentuk kredit “candak kulak”. Tapi sepengetahuan saya, belum ada lembaga kredit di Indonesia yang menjadikan kredit mikro sebagai hak asasi rakyat miskin sebagaimana halnya Grameen Bank.
Lebih lagi, kemiskinan di negeri ini masih menjadi komoditas politik yg menggiurkan bagi elit untuk meningkatkan popularitas. Masih terbayang di dalam sebuah iklan televisi yg tarifnya jutaan rupiah, terpampang mimik haru biru dari seorang elit politik yang tersentuh hati nuraninya oleh realitas kemiskinan. Bayangkan jika komitmen untuk mengentaskan kemiskinan tersebut diwujudkan melalui program pemberdayaan rakyat miskin sebagai yang dilakukan M. Yunus, tentu akan lebih bermanfaat. Bukankah dulu M. Yunus memulai Grameen Bank dengan modal yg sangat minim?
Yang saya khawatirkan justru jangan sampai kemiskinan juga turut menjadi komoditas bisnis yang hanya menguntungkan pemilik modal, dan mengabaikan aspek pemberdayaan. Cukuplah sudah kemiskinan laris manis menjadi komoditas politik, kalau sudah menjadi komoditas bisnis pula, ahh.. tambah parah aja negeri ini.
Mantra: “Tapi sepengetahuan saya, belum ada lembaga kredit di Indonesia yang menjadikan kredit mikro sebagai hak asasi rakyat miskin sebagaimana halnya Grameen Bank”
Merespons apa yang diungkapkan Mantra di atas, mencari tokoh pemberdayaan masyarakat miskin di Indonesia sepertinya kita terjebak pada pada tokoh-tokoh yang terskspose melalui buku-buku dan media lainnya semata. Dan di Indonesia -maaf- mungkin kita terlalu Jawasentris dalam melakukan dunia penjelalajahan.
Sebuah harian dalam Jawa Post Group pernah menulis (saya lupa tanggalnya) kalimat sebuah judul yang kira-kira bunyinya; AR Mecer, M. Yunus dari Kalimantan. Sebuah harian besar di republik ini menuliskan judul seperti itu tentu bukan tanpa alasan dan argumentasi yang kuat. Pertanyaan yang kemudian muncul kemudian adalah: Siapa sih AR Mecer? Apa karya beliau sehingga Jawa Post menyejajarkan posisi beliau dengan M. Yunus?
Ada banyak program yang dibuat oleh pemerintah maupun swasta menyangkut mikro kredit di Indonesia, yang salah satu tujuan mulianya adalah memberdayakan kaum miskin. Hasilnya sebagian besar (untuk tidak menyebutkan semuanya) selalu saja bermuara pada litani panjang kegagalan. Kredit2 semacam ini biasanya modal disediakan dari sebuah institusi, baik pemerintah maupun lembaga lain. Ketika modal yang dipinjamkan pada Si Miskin tidak kembali alias bangkrut, tidak ada konsekwensi apa pun karena toh itu hanyalah program bantuan, ada proyeknya, ada programnya, dll. Intinya modal bangkrut usaha selesai, kembali miskin, menunggu lagi bantuan dalam program selanjutnya. Begitulah program mikro kredit ini berjalan dari waktu ke waktu dengan nama berganti-ganti tetapi manajemen tetap sama. Hasilnya? jelas idem dito.
AR. Mecer sejak 1980-an memetik pelajaran dari pengelolaan mikro kredit semacam itu, dan mengembangkan gerakan yang dinamakan Credit Union. Dalam perjalanannya terbukti bahwa gerakan ini berhasil, walaupun pada awalnya banyak sekali tantangan dan kendala yang dihadapi, terutama berkaitan dengan sikap hisup (karakter) masyarakat, khususnya anggota. Dari kasus-kasus yang dihadapi dan perjalanan pengalaman tersebut sampai pada satu kesimpulan yang sama dengan Reffeisien (seorang wali kota di Jerman) pasca perang dunia I bahwa: Orang miskin hanya bisa ditolong oleh orang miskin itu sendiri. Falsafah inilah yang kemudian beliau terapkan untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat adat di Kalimantan.
Singkat cerita, saat ini gerakan credit union a-la AR Mecer ini telah berkembang pesat di seluruh Kalimantan, bahkan telah diadopsi oleh beberapa daerah di Indonesia, antara lain: Beberapa tempat di pulau Jawa termasuk DKI Jakarta, Sulawesi, Sumatera, Flores sampai ke Papua.
Awal tahun 2008 yang lalu tercatat 51 buah Credit Union sudah bergabung dalam Badan Koordinasi Credit Union Kalimantan (BKCU-K). Modal yang terkumpul dan terus bergulir di antara anggotanya sehingga menghasilkan total asset Rp. 2,2T dengan anggota 311.780 orang (Majalah Kalimantan Review No. 153/Th.XVII/Mei 2008 atau bisa diakses di http://www.kalimantanreview.com)
Credit Union atau dalam istilah perkoperasian di Indonesia diterjemahkan sebagai Koperasi Simpan-Pinjam (walaupun terjemahan ini tidak tepat dan bisa menimbulkan salah persepsi) bukanlah barang baru. Lembaga impor ini masuk ke Indonesia sejak tahun 1970-an. Hanya karena tidak dikelola berdasarkan prinsip dan nilai-nilai dasar yang mestinya ditanamkan melalui pendidikan kepada anggota, hasilnya tidak pernah memuaskan. Bangkrut, gulung tikar, amblas dan sederetan lagi istilah untuk menyatakan kehancuran. Ujung-ujungnya, gerakan koperasi menciptakan trauma berkepanjangan di Indonesia.
Mengapa Credit Union a-la AR Mecer ini bisa berkembang dan bahkan dijadikan contoh bagi sebagian daerah di Indonesia? Dr. Francis Wahono memberikan jawabannya dalam Buku: AR. Mecer; Berjuang untuk yang Terbuang ….