SEA Games dan Pencitraan Negara-negara Asia Tenggara
January 2, 2008 by verdinand
Filed under diplomacy, non-konvensional
* Adli Nasution
Beberapa pekan lalu, South East Asian Games (SEA Games) ke-24 baru saja berakhir. Tuan rumah Thailand menjadi juara umum dengan perolehan 183 medali emas. Sementara Indonesia ada di peringkat empat dengan perolehan 56 emas, naik satu peringkat dari SEA Games sebelumnya. Beberapa pekan telah lewat, kini kontingen yang telah kembali dari Thailand mulai dihujani pertanyaan. Jika kurang berprestasi, pertanyaan tentu menyangkut mengapa sampai gagal berprestasi. Jika berhasil meraih medali, pertanyaan yang timbul biasanya lebih merupakan permintaan untuk menceritakan kembali saat-saat mengharukan dalam perjuangan menjadi juara.
Terlepas dari berapa jumlah medali yang diraih suatu negara, pertanyaan mengenai seberapa penting SEA Games bagi negara-negara di Asia Tenggara juga perlu diajukan. Sesudah diselenggarakan sebanyak duapuluh empat kali, sebenarnya apa manfaat yang didapat negara-negara Asia Tenggara dari ajang ini ? Saya akan mencoba menjawab pertanyaan ini dalam kerangka diplomasi olahraga.
Diplomasi olahraga sendiri sampai saat ini belum, dan mungkin memang tidak perlu, didefinisikan secara terbatas. Beberapa tulisan ilimiah menggunakan istilah diplomasi olahraga (sport diplomacy, sports diplomacy, sporting diplomacy) untuk menjelaskan hal yang berbeda-beda pula. Aaron Beacom menggunakan istilah diplomasi olahraga untuk mendeskripsikan kegiatan-kegiatan diplomasi dan negosiasi yang dilakukan oleh organisasi internasional di bidang olahraga (Beacom, 2000). Diplomasi olahraga juga dapat dipakai untuk mengambarkan keikutsertaan kalangan olahraga seperti atlet dan pelatih dalam program-program diplomasi, seperti yang kini mulai gencar dilakukan Amerika Serikat sebagai bagian dari diplomasi publiknya (Goldberg, 2000).
Dalam tulisan ini, diplomasi olahraga akan dilihat sebagai upaya pencitraan negara-negara Asia Tenggara melalui kesediaannya menjadi tuan rumah dan keikutsertaannya di ajang SEA Games. Sebagaimana dikemukakan Victor D. Cha, di Asia Timur olahraga telah menjadi salah satu jalur yang penting untuk menunjukkan pembangunan di negara-negara Asia. Semua negara besar dan berkembang di Asia Timur telah dan akan menjadi tuan rumah even-even olahraga internasional untuk “mengekspresikan” kesiapan mereka bersaing di level global. Olimpiade Tokyo 1964, Olimpiade Seoul 1988, Piala Dunia Sepakbola 2002 di Korea dan Jepang, serta Olimpiade di Beijing tahun 2008 mendatang adalah cara negara-negara besar di Asia Timur ini untuk mempertegas citra negaranya sebagai negara maju. (Cha, 2002).
Dalam kompetisi olahraga multi-cabang seperti SEA Games, pencitraan paling sukses didapat sebuah negara ketika mampu menjadi tuan rumah sekaligus mampu menjadi juara umum. Sukses menjadi tuan rumah mempertegas citra kemajuan suatu negara, karena untuk mengorganisir even ini diperlukan kesiapan dana, infrastruktur (misalnya jaringan transportasi dan komunikasi), sarana olahraga, dan organisasi yang baik. Sementara kesuksesan menjadi juara umum atau meraih target prestasi tertentu berarti pembinaan olahraga telah berjalan dengan baik. Pembinaan olahraga sendiri tidak dapat berjalan baik tanpa kondisi perekonomian, pendidikan, dan kesehatan yang mendukung di dalam negeri.
Dalam SEA Games ke-24 ini, Thailand meraih sukses dari kedua sisi tersebut. Momentum untuk mendapatkan citra yang positif juga digarap Thailand dengan begitu baik karena SEA Games kali ini diselenggarakan di Nakhon Ratchasima, kota yang menjadi gerbang ke daerah Isan di Timur Laut Thailand. Daerah Timur Laut Thailand selama ini menjadi daerah tertinggal dan termiskin di Thailand. David Brown bahkan melihat sejak awal abad duapuluh telah terjadi internal colonialism di daerah ini karena kebijakan pemerintah pusat Thailand yang “Bangkok-sentris” membuat masyarakat Isan tertinggal dari sisi ekonomi dan pendidikan (Brown, 1993). Menarik untuk melihat bagaimana Laos sebagai tuan rumah SEA Games berikutnya akan mencitrakan diri, mengingat ini akan jadi kali pertama Laos menjadi tuan rumah.
Meskipun SEA Games masih membawa berbagai keuntungan jika kita melihat dampaknya bagi pencitraan tiap negara secara terpisah, SEA Games justru kehilangan signifikansi jika kita melihatnya dalam konteks pencitraan dan prestasi olahraga ASEAN secara keseluruhan. Dari segi prestasi olahraga ASEAN, SEA Games yang digelar dua tahun sekali tampaknya masih belum mampu mendongkrak prestasi atlet Asia Tenggara ke level yang lebih tinggi. Dalam tiga Asian Games terakhir, posisi terbaik negara Asia Tenggara hanya sampai peringkat empat ketika Thailand menjadi tuan rumah dan mencapai posisi itu pada tahun 1998. Sementara itu dalam tiga Olimpiade terakhir, hanya 7 medali emas Olimpiade yang didapat; empat oleh Thailand dan tiga oleh Indonesia. Perolehan tersebut sangat minim, karena ajang multi-cabang seperti Olimpiade, Asian Games dan juga SEA Games, tiap penyelenggaraannya memperebutkan ratusan medali emas.
Hal demikian tidak terlalu mengherankan karena memang masih sedikit atlet dari Asia Tenggara yang dapat dikategorikan atlet dunia. Selama ini masih banyak pengurus, pelatih, maupun atlet yang menganggap juara di SEA Games adalah sasaran utama, bukan sasaran antara untuk mengejar prestasi yang lebih baik di level Asia dan dunia. Kondisi ini samasekali tidak dibantu dengan penyelenggaran SEA Games yang selalu diwarnai kecurangan dari negara tuan rumah seperti wasit yang memihak, pengaturan undian yang tidak menguntungkan bagi negara rival, dan digelarnya cabang-cabang olahraga khas tuan rumah, yang di negara-negara lain pun kompetisinya masih minim, sebagai “tambang medali emas”. Hasilnya dalam sembilan penyelenggaraan SEA Games terakhir, enam kali kontingen tuan rumah mampu menjadi juara umum.
Selain soal prestasi olahraga, SEA Games juga diharapkan menjadi ajang untuk mempererat persahabatan antar negara ASEAN di level masyarakat dan mencitrakan kebersamaan ASEAN. Hanya saja, sudah duapuluh empat kali SEA Games berlangsung, rasanya masih tidak ada perkembangan. Hasil yang dibicarakan masih seputar siapa juara umumnya atau siapa tuan rumah berikutnya, masih seputar persaingan daripada persahabatan.
Hal ini bagai seiring dengan perkembangan ASEAN sebagai organisasi regional yang berjalan lambat. ASEAN Charter kini telah ditandatangani; dampaknya bagi olahraga di kawasan ini mungkin tidak akan terasa dalam waktu dekat. Tetapi dengan semakin majunya ASEAN sebagai organisasi regional, semoga di masa depan ada rumusan kompetisi olahraga regional yang lebih memancing atlet untuk berprestasi di level dunia; bukan sekedar persaingan negara-negara dalam membentuk citra. Oya, jangan dilupakan juga bagian “mempererat persahabatan sebagai bagian dari masyarakat ASEAN”. Kalau Anda percaya hal itu suatu saat akan tercapai…
* Penullis adalah mahasiswa tingkat akhir Hubungan Internasional Universitas Indonesia dan sedang mengambil tugas akhir dengan topik diplomasi olahraga.


Happy New Year!
Congrats for Udin who become the first writer in the year 2008 of portalHI. Great prizes are waiting for you! What’s it?
COMMENTS! hahaha
Great articles dude! Gue termasuk orang yang percaya olahraga itu ‘ngaruh’ dalam hubungan internasional. TUlisan kemenangan Irak gue kemaren?
Gw jadi nggak sabar nulis tentang blog dalam HI. Sekali lagi, Happy new year everyone! Sukses selalu!
kalo mau ngirim tulisan k portalhi gmn caranya?
“Selama ini masih banyak pengurus, pelatih, maupun atlet yang menganggap juara di SEA Games adalah sasaran utama, bukan sasaran antara untuk mengejar prestasi yang lebih baik di level Asia dan dunia.”
Ini kata sapa y?
Ms sih mreka membatasi diri?
Ms sasaran utama mreka cm sgitu?
Ms mreka g punya mimpi berprestasi dlevel dunia?
Bad article.Terrible. Kritik 1 ud dtg dr Sarimin.
Lainnya: Knp tibA2 “dikupas” pake diploMasi OR? Pdhl penulis jg nyebuTin kLo itU koNsep yg msh kurang jelas. &ga ada penjelasan, tibA2 dipake aj koNsep iTu.
Kedua,HInya mana? Cm ada dikit bgt di paragraf2 akhir.. Yg kaitannya cenderung dipaksain.
Adlh hal yg menarik u/ mengaitkan isu2 sPt ini dgn HI,tetapi penulis tampak kurang koMpeten u/ mengaitkannya.
Iya siH..Masa atlet ga punya mimpi untuk berprestasi setinggi mungkin? Tp gw jd bisa nerima argumen Adli kalo inget fakta2 berikut: tim renang kita msh ngandelin perenang2 senior. Salah1nya Richard Sambera yg udah ikuT SEA Games dari awal 90-an,&skrg udah berumur ampir 40tahun. Demi apa? Demi target medali SEA Games.. Dimana pembinaannya kLo begitu.. Contoh lain, yg lbh pahit, tim bulutangkis kita. Sukses besar,sapu bersih 7medali emas. Tp yg diturunin msh atlet2 senior yg levelnya udah dunia. Buat apa!? SEA Games udah bkn levelnya Taufik Hidayat, Markis Kido/Hendra Setiawan, ato Nova Widyanto/Lilyana Natsir. Apalg SEA Games kmrn Malaysia udah “sadar” dgn tdk mengirimkan pebulutangkis2 topnya,yg muda2 yg dikirim.
Oiya, bner kata Yopri, bahasannya udah kurang portal HUBUNGAN INTERNASIONAL nih..
Realistis aja Bung! Gue yakin orang KOI dan KON udah menghitung dan mengkalkulasi kekuatan dan kemampuan mereka. Ini bukan soal membatasi sasaran hanya pada SEA Games tetapi strategi pemanfaatan sumber daya yang dimiliki.
Kalau mengenai kurang HI, gue setuju. gue sih cukup maklum berhubung penulis itu sangat proffesional dalam bidang olahraga khususnya sepakbola. Ini hanya masalah panjang tulisan dalam portalHI. Gue yakin penulis mampu menjelaskannya secara gamblang dan mantap *secara itu skripsinya*
hmm…
@ Sarimin: yahh kira2 udah dibantu jawab sama Ricky dan Verdinand. Atlet pasti masih pengen terus berprestasi setinggi-tingginya,, tapi pengurus atau pelatih memang memasang target yang realistis2 aja.. kadang terlalu rendah mungkin?
Masalah kurang HI… yah memang ini cuma ada di “tepian” dari bahasan HI. hehehe
Kenapa diplomasi olahraga? well yg mau gw angkat kan masalah pencitraannya. Mungkin bisa pake konsep2 lain seperti komunikasi politik atau branding/imaging ala marketing… tapi kan gw ga ngerti..hahaha dan bukan HI juga.
Buat gw, diplomasi yang pas untuk ngebedahnya. Bisa diplomasi publik… ato sekalian diplomasi olahraga seperti yang dipake di sini. Toh, diplomasi olahraga udah seperti “anaknya” diplomasi publik, sasarannya sama2 publik, agenda2 yg di setting ama pemerintah (1st level) ditujukan langsung ke masyarakat (2nd level)di negara sendiri maupun negara lain….
Oi, Verdinand.. skripsi gw beda, bkn diplomasi olahraga yang macam ini… ato malah, ganti topik sekalian!!!! hahaha
waow, tulisan ini benar - benar memberikan ulasan olahraga yang berbeda, dari kebanyakan tulisan tentang olah raga.. menarik sekaligus membuat hati saya miris.. Setelah membaca tulisan ini, saya semakin tidak simpatik kepada dunia ” Hubungan Internasional”, terutama dengan kata diplomasi, yang sampai - sampai bisa dihubungkan dengan Olah - raga.
sport is sport, and just do it !!
terlalu “nyambung” apabila kita sampai melihat signifikansi antara sea games dengan kepentingan diplomasi negara - negara yang terlibat didalamnya. buktinya saja, apa dampak nyata bagi bangsa Thailand selepas mereka menjadi juara umum? sedikit, bahkan cenderung dilupakan setelah terimbas isu - isu internasional lainnya
tapi ini memang merupakan pendapat pribadi , dimana menurut saya, olah raga itu adalah suatu hal yang mengasyikkan, penuh tantangan, dan menyenangkan tanpa harus membawa - bawa martabat bangsa. menang , kalah, itu biasa, dan apabila ini bisa dirasakan oleh setiap atlet, pengurus persatuan olah raga yang ada di negara - negara Asia Tenggara, saya yakin yang namanya wasit curang, cabang olahraga yang khas tuan rumah, bonus materi yang menjadi “karbit” bagi atlet matre dan sebagainya itu akan tidak ada, serta kualitas daripada Sea Games sendiri akan semakin baik, bukan mululu menjadi pesta si penyelenggara…
mudah - mudahan Sea Games selanjutnya demikian …
@ Bang Adli: tulisannya uda cukup imajinatif dlm menggambarkan diplomasi OR, cuma tinggal ditingkatkan utk skripsi, semangat aja deh!
@Bang Napi…: wah, saya kurang setuju tuh sama pendapat Mas…sport is not even just sport…coba ingat2 kalo atlet pergi bertarung di ajang internasional, kata2nya adalah: “Maju, harumkan nama bangsa”…Tentu ga perlu saya jabarkan panjang lebar untuk mengetahui dimana esensi HInya, esensi diplomasinya…
Contoh lain, ketika Ahn Jung Hwan menjebol gawang Italia di piala dunia terakhir yg membuat Italia kalah, dan AJH jadi di-sentimenin ma org Italia. Hal ini sempet membuat media2 Korea dan Italia saling bersitegang loh [ yg satu blg pihak lain ga sportif lah dll] yg berpotensi menimbulkan konflik antar negara…
First time I saw this article…. Interesting!!!!!
Walaupun Akhirnya menyadari kalau tidak terlalu berhubungan dengan HI, tapi cukup membuka mata dan pemikiran kok! Anak HI juga harus peka sama hal-hal seperti ini! Hohohohoho!!!
Sebagai Asisten Mahasiswa Matakuliah Diplomasi Modern, ada Baiknya saudara Adli mengusulkan agar topik ini dapat dimasukan ke dalam SAP semester depan..hohoho…..(Untung saya sudah lulus mata kuliah ini)]
Berbicara tentang Sea Games, bisa ga sih ditarik ke politik juga… Pertanyaan besar yang bisa diajukan adalah mengapa setiap negara tuan rumah hampir dapat dipastikan menjadi pemenang! brarti memang kebutuhan menjadi tuan rumah apa lagi juara umum itu memang benar ada dan benar-benar diingini!!! pasti kan sedikit banyak mempengaruhi hubungan antar bangsa negara asia tenggara!!!
Mungkin bang adli bisa membahas lebih jauh lagi!!!hohohohoho…….
Chayo bang adli, saya memberikan apresiasi yang besar atas karya anda ini, setelah anda memperlihatkan bahwa ngambil matakuliah MaSTENG cukup memiliki signifikansi bagi Kancah dunia hubungan internasional!
Mas,, bole minta referensi victor D.Cha (2002) nya?
tengkyu..