Food For Cash? : Case Study From Africa
August 9, 2007 by Martogi Harahap
Filed under Ekonomi
Empat juta orang di Afrika kini memiliki status yang paling mengerikan dalam sejarah ini: PENGUNGSI. Negara-negara Afrika yang menjadi ’penyumbang’ terbesar untuk pengungsi ini termasuk Sudan, Congo, Burundi, Somalia, dan Angola dan lainnya. Christoper Stevens memaparkan sebuah argumen yang menarik mengapa masalah pengungsi ini masih menemui jalan buntu (sampai saat ini!). Dalam bukunya Food Aid and the Developing World (ST. Martin’s Press, New York) memaparkan sebuah argumen mengenai ‘kepentingan’ negara-negara donor dalam permasalahan pengungsi ini.
Dalam bukunya tersebut, Stevens menjelaskan beberapa kasus mengenai bantuan makanan dari negara-negara donor terhadap negara Afrika. Bantuan makanan tersebut merupakan ’kepentingan’ dari negara-negara donor untuk mencari keuntungan. Dalam buku tersebut Stevens menjelaskan bagaimana proyek bantuan makanan di Botswana, Lesotho, dan beberapa negara Afrika lainnya merupakan lahan ’bisnis’ yang sangat menguntungkan. ’Food for Cash’, ’Food for Nutrition’ and ’Food for Wages’. (Stevens, pg.67). Food for Cash, menjelaskan bahwa bantuan makanan yang diberikan oleh negara-negara donor tidak ‘pure’ makanan untuk konsumsi, akan tetapi proyek-proyek pembangunan yang dapat menghasilkan makanan. Food for Nutrition, menjelaskan bahwa bantuan makanan hanya diberikan kepada pengungsi dengan kriteria tertentu. Artinya, tidak sepenuhnya kepada pengungsi yang membutuhkan. Terakhir, Food for Wages, merujuk kepada gaji maupun ’sumbangan’ kepada para penyalur ataupun pekerja proyek bantuan makanan tersebut. Artinya, sebagian dari bantuan makanan tersebut ’dialihkan’ untuk membayar gaji para pekerja yang sebagian besar berasal dari luar Afrika.
Tanpa bermaksud untuk mengesampingkan bantuan dari negara maupun organisasi luar untuk penyelesaian permasalahan pengungsi di Afrika, perlu ada organisasi independen yang transparan dan mahir untuk menangani permasalahan pengungsi ini. Food for Cash, diatas hanya merupakan salah satu contoh kasus kecil dari ’kepentingan bisnis’ negara maupun organisasi donor di Afrika. Dalam buku tersebut, hal lain yang juga menarik adalah untuk disimak adalah ternyata sebagian dari food aid tersebut merupakan ’bulk’ dari negara-negara donor. Selanjutnya berkaca dari hal tersebut, pepatah ”Nothings for Free” memang terbukti benar adanya.


Saya heran kenapa tidak ada satupun yang mau memberikan comment terhadap tulisan ini. Tulisan ini sangat menarik untuk kita dikusikan, bagaimna kalau saya memulainya lebih dulu. Gila memang meihat fenomena yang terjadi di Afrika hingga saat ini. Mungkin ini anarki yang mengancam masa depan Afrika (mengikuti pendapat Robert Kaplan). Negara yang kebanyakan begitu miskin, kelaparan pula, tapi masih juga ada yang tega mengambil sebagian dana bantuan tersebut dengan dalih untuk membayar gaji. saya setuju dengan bung Martogi kita memerlukan sebuah lembaga independen yang transparan yang memang mengkhususkan kerjanya pada persoalan-persoalan di atas. Seharusnya tatanan dunia yang saat ini diperdebatkan banyak negara memfokuskan pada persoalan-persoalan yang sifatnya non-tradisional seperti lingkungan hidup, kemiskinan, kesehatan, pendidikan, dll. Tulisan yang ditulis oleh bung Martogi diportal ini sebagai langkah awal kita untuk mendiskusikan tatanan dunia yang lebih memfokuskan pada persoalan-persoalan HI yang non-tradisional.
Saya juga bingung kenapa tidak ada komentar di artikel ini. Makin bingung lagi ketika program popular post Wordpress memilih artikel ini paling populer di portalHI. Mr. Wordpress punya naluri yang sama dengan Bung Asrudin mungkin?
Tidak perlu bingung, buktinya sejauh ini sudah dua comment yang masuk, mungkin setelah ini akan lebih banyak lagi comment yang masuk. Jadi pantas aja kan jadi artikel terpopular…
menarik kok, cuma mungkin kita jadi sulit berdiskusi karena buku ini agak sulit dicari di toko buku.
Oh ya, di mata kuliah Ekonomi Politik Pembangunan di semester 7 kemarin, saya mendapat kesempatan untuk sedikit membaca buku “The End of Poverty”. Menurut saya buku ini juga cukup menarik dan komperhensif dalam membahas pemberantasan kemiskinan di negara-negara dunia ketiga.
Sayangnya ini buku impor, saya aja minjemnya dari kopian…
Kalau tidak salah “The End of Poverty” ini bukunya Jeffrey D. Sachs. Bung Calvin buku ini sudah banyak beredar ko. Bahkan I. Wibowo pernah mereview buku ini di dalam kolom opini Kompas pada Senin, 24 Oktober 2005 dengan judul “Akhir Neoliberalisme Sachs?”. Saya sepakat dengan bung Calvin, selain Stiglitz, buku Sachs dapat dijadikan rujukan untuk melihat problematika kemiskinan dinegara-negara dunia ketiga dan bagaimana cara mengatasinya.
Food Aids are badly needed by third world countries like in Africa in Asia.~”:
food aids are badly needed by third world countries and we really need to give something to the poor.;:;