Indonesia TTM (Teman aTau Musuh) Malaysia???!!!
Ananda Ladeva Gumanti*
Untuk kesekian kalinya hubungan Indonesia dengan Malaysia serasa berada di ujung tanduk. Berita yang terbaru mengenai dinamika hubungan kedua negara ini adalah kasus pemukulan wasit karate Indonesia di Indonesia, Donald Luther Colopita, yang di wajahnya terdapat bukti kekerasan fisik yang tidak dapat dikatakan “luka ringan”. Mengenai kasus ini pemerintah Malaysia, yang semula enggan meminta maaf, akhirnya melalui Perdana Menterinya Abdullah Badawi Pemerintah Malaysia meminta maaf kepada Indonesia.
Tetapi ternyata masalah tidak berhenti di titik itu saja. Sekarang rakyat Indonesia serasa wajib membuka luka lama mereka mengenai hubungan dengan Malaysia. Sebagian rakyat Indonesia di beberapa wilayah mengambil tindakan dengan sweeping rakyat Malaysia di Indonesia bahkan ada yang menuntut pemerintah Indonesia mengambil langkah tegas dengan memutuskan hubungan kerjasama apapun dengan Malaysia.
Tergelitik di benak Penulis, lantas bagaimana dengan “pahlawan devisa” negara yang bekerja di Malaysia?!
Kita sering mendengar pemberitaan media massa bahwa banyak TKI Indonesia yang bekerja di Malaysia mengalami pelecehan dan kekerasan fisik yang sudah tidak bisa lagi ditangkap oleh akal sehat. Tetapi kita juga tidak bisa menutup mata bahwa masih ada juga beberapa TKI Indonesia di Malaysia yang juga mendapat perlakuan secara terhormat dan sanggup menghidupi keluarganya di Indonesia, serta dapat “menghidupi” rakyat Indonesia dengan sumbangan devisanya. Oleh karena itu, Indonesia tidak bisa dengan gegabah langsung memutuskan hubungan kerjasama apapun dengan Malaysia.
Mengenai kasus pemukulan wasit karate Indonesia di Indonesia, Donald Luther Colopita, ini tidaklah ada hubungan dengan perpolitikan Indonesia dengan Malaysia. Jelas bahwa koridor untuk kasus ini adalah hukum. Sekalipun Pemerintah Malaysia telah meminta maaf kepada Indonesia tetap harus diproses sesuai hukum internasional yang berkaitan dengan kasus ini. Sehingga di kemudian waktu kejadian ini tidak akan pernah terulang lagi. Begitu juga dengan semua kasus pelecehan seksual dan kekerasan fisik TKI Indonesia di Malaysia.
Lambatnya permohonan maaf dari pemerintah Malaysia kepada Indonesia mengindikasikan bahwa bargaining position Indonesia di mata Malaysia sangatlah rendah, jika tidak ingin dikatakan tidak ada. Malaysia merupakan murid Indonesia yang telah berlari dengan sangat cepat untuk menuju garis finish, yang ditengah perjalanannya seakan-akan lupa dengan “prinsip” hukum internasional yaitu “peraturan dibuat bukan untuk dilangar tetapi untuk dipatuhi oleh pihak-pihak yang bersangkutan”. Dan merupakan tugas “berat” bagi Pemerintah Indonesia untuk bersikap lebih tegas lagi dengan Pemerintah Malaysia. Sesuatu hal yang sebenarnya dapat dijadikan lebih mudah jika Pemerintah Indonesia dengan segala atributnya benar-benar berkomitmen untuk mendahulukan kepentingan rakyatnya sendiri daripada kepentingan pribadi beberapa kelompok.
Komitmen untuk menjadikan Malaysia sebagai Teman aTau Musuh…
Penulis sebagai salah satu rakyat Indonesia akan menanti komitmen itu dengan sikap kritis dan waspada…
Seperti pepatah “tidak ada teman sejati dan tidak ada musuh abadi”.
——————————————————————————————-
*Penulis adalah mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2004 Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama) dan Ketua Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama).


Indonesia dan Malaysia TTM (teman tapi mesra). sebenarnya masalah pemukulan wasit indonesia di Malaysia itu adalah masalah biasa dan tidak usah terlalu dibesar2kan. saya sepakat kalo itu melalui proses hukum. yang menjadi permasalahan adalah masyarakat indonesia masih melihat dendam lama terhadap Malaysia terkait kasus Sipadan-Ligitan dan Ambalat. jadi jgan hanya masalah sepele membuat hubungan bilateral indo-malay menjadi rusak.
I would like to add that, if we believe that Malaysia isn’t simply an unitary actor, so we believe that there are so many different actor and their perspective in this ‘jiran’ country..
mau tahu contohnya perspektif orang Malaysia yang bikin adem dan Ge-ER orang Indon (hehe), I’ve found it here: http://myindo.com
Kalo di Malaysia, rasanya malu kalo bilang dari Indo, dikira mo jadi pembokat [no offense to TKI]…
Tapi coba ke Singapura, bangga lho jadi org Indo, krn dlm perspektif org Singapura, org Indo tuh kaya2…Ya iyalah secara org Indo yg ke Singapura itu tujuannya shopping, skul, medical check-up ato liburan…
Makanya jalan2 ke Singapura aja [waduh jadi promosi Singapore Tourism]
kayaknya bukan malay aja deh yg dah ga ngangep ke INA tuh!
pengen deh baca pikiran org2 yg berkuasa di negaranya masing2,,,sebenernya mreka anggap INA tuh seperti apa sic??!
suplayer pembokat yg bisa di remehin gtu aja??!
negara tukang ngutang??!
penghasil teroris??!
negara bodoh yg makin di perbodoh sama rkyatnya sendiri (koropsi)
itu harusnya jd cambuk buat kita semua, mau dibawa ke mana INA nantinya…
tp kalo di liat dr segi religi
sebenernya kita smua di suruh bener2 harus cepet tobat,,,,
Malaysia seharusnya sadar akan siapa mereka.Malaysia yang mungkin tidak tahu betapa berperannya Indonesia terhadap pekembangan dan kemajuan negara mereka.sadar malaysia
Wah, topik seru nih…
@alpri: Iya, saya setuju… Dulu kan Malaysia belajar banyak dari Indonesia.
Btw, klo kasus lagu Rasa Sayange itu gimana ya?
~ Salam kenal semuanya…
Masalah penganiayaan TKI tidak terlalu di blow up di malaysia, di dalam negeri kita dah rame2 tp disana adem ayem aja.
Itu karena medianya dikontrol Mba..
Media massa di Malaysia dikontrol ketat. *tidak seperti di Indonesia*
bukan berarti masyarakat Malaysia tidak peduli dengan penyiksaan TKI, tetapi emang karena pemerintahnya menutup-nutupi berita penyiksaaan TKI.
Banyak blog Malaysia yang saya baca justru bersimpati dan membela TKI kita!
Syapa Bilang Malu jadi Orang Indonesia..
Hati tetap Bangga sama Indonesia..
But I still can’t do anything…secara Makalah ada 7 menanti di akhir desember…
Jangan Marah kalo disebut Indon, jangan marah kalo disebut pembokat
Jangan marah kalo rasa sayange diambil
Jangan Marah kalo reog diganti barongan…!!
Jangan marah kalo Ceriyati melakukan aksi Wall Climbing di Malay..
Jangan marah kalo Sipadan-Ligitan diambil
Jangan Marah kalo Ambalat disengketain
Jangan sekalipun marah, kalo lo ga pernah melakukan apapun…
Memang sih ada pemerintah,, tapi pemerintah butuh dukungan rakyat yang ga sekedar marah…
Makanya gue cuma bisa BANGGA!!!!
(tapi sambil geleng kepala sama kelakuan Malaysia)
Siapa yang salah!
Indonesia yang tak tahu nak menghargai jasa Malaysia yang pernah tolong negara indonesia
SIAPA YANG PERNAH TOLONG INDON SEWAKTU GEMPA BUMI?
MALAYSIA YANG TOLONG….
ORANG INDON SEMUA NAK BETUL DAHLAH NEGARA TAK CANTIK.MALAYSIA LAGI CANTIK.