Indonesia-Malaysia: Sebuah Hubungan Ekonomi Asimetris?

September 2, 2007 by verdinand  
Filed under EKO-POL-IN

Calvin Michel Sidjaja*

Malaysia merupakan negara terdekat dengan Indonesia dan memiliki kesamaan rumpun terdekat dibandingkan dengan tetangga lain manapun. Dari segi kebahasaan, pada dasarnya bahasa Indonesia merupakan rumpun dari bahasa melayu yang dipakai Malaysia, namun karena mengalami sejarah kolonialisasi yang berbeda, perkembangan bahasa kedua negara pun mengalami perbedaan. Dalam hal perkembangan ekonomi, Malaysia pernah berguru pada Indonesia pada tahun 1970, dan sekarang Malaysia bisa memetik hasilnya, hubungan ekonomi Indonesia-Malaysia tampaknya akan menjadi asimetris jika keadaan ini terus menerus dibiarkan terjadi.

Sebuah hubungan Asimetris bisa dikatakan sebagai suatu hubungan yang tidak sejajar, tidak seimbang, salah satu contoh yang cukup mudah dilihat adalah hubungan yang memperlihatkan ketergantungan satu pihak pada pihak lainnya, ataupun diplomasi yang tidak sejajar antara negara besar dan negara kecil.

Hubungan ekonomi Indonesia-Malaysia bisa jadi akan mengarah ke bentuk seperti ini. Malaysia mengalahkan Indonesia dengan pendapatan GDP yang mengagumkan, yakni $12,000, tiga kali lipat dari GDP kita yang berkisar sampai $4,000. Malaysia memiliki kebijakan dan visi untuk mengubah basis produksi ekonominya menjadi industri semikonduktor seperti Korea Selatan, Jepang, dan China. Bisa dikatakan, pembuat kebijakan di Malaysia memiliki visi kedepannya, terdapat kontinuitas dari kebijakan yang pernah dijalankan dulu.

Bagaimana dengan Indonesia? Memang diakui, tidak mudah mengelola negara seluas Indonesia, khususnya dengan beragam suku dan benturnya berbagai kepentingan kelompok dalam pemerintah.

Isu imigran merupakan salah satu isu terhangat dalam hubungan Indonesia-Malaysia. Walau TKI disebut sebagai pahlawan devisa, namun kurangnya keseriusan pemerintah dalam mengelola potensi industri tenaga kerja di luar negeri membuat kondisi TKI menjadi lebih buruk dari yang seharusnya. Mereka tidak disiapkan untuk menjadi tenaga kerja profesional, namun disiapkan menjadi pekerja di sektor-sektor “kotor” yang tidak mau disentuh oleh orang Malaysia sendiri, misalnya pembantu rumah tangga atau buruh kasar. Pola hubungan serupa juga dapat ditemui di negara lain, misalnya Perancis dengan imigran Algeria, maupun Jerman dengan imigran Turki. Satu negara menjadi pusat, dan negara lain periferinya.

Pola hubungan ini memperlihatkan kecenderungan hubungan kedua negara menjadi asimetris yang merugikan satu pihak. Hubungan Indonesia-Malaysia bisa jadi akan mengarah ke bentuk seperti ini jika warga negara ini membiarkannya.

Yang menjadi permasalahan di Indonesia seperti yang kita ketahui adalah, persoalan wilayah dan sumber daya manusia yang terlampau banyak untuk digarap. Hal ini menimbulkan kesulitan tersendiri saat pemerintah, otoritas tertinggi, tidak bisa memproritaskan kepentingan jangka pendek, menengah, dan panjang untuk negara ini kedepannya.

Dalam hal persoalan imigrasi dan ekspor tenaga kerja, harusnya pemerintah memiliki visi untuk tidak berhenti menjadi negara pengekspor tenaga kerja berkualitas rendah, namun memiliki visi untuk mengekspor tenaga kerja berpendidikan tinggi ke luar negeri, seperti yang sudah dilakukan India. Saat ini 30% pekerja Microsoft adalah orang India, hal ini membuktikan bahwa India memiliki visi untuk berevolusi menjadi negara industri dan berteknologi tinggi. Pemerintah Indonesia sebagai negara yang memiliki wilayah luas dan penduduk sangat padat harusnya bisa mencontoh model ekonomi China dan India yang memiliki karakteristik serupa dengan negara kita.

Pemerintah memang memiliki peranan dalam membangun negara, tapi akan lebih baik bila kita sendiri, sebagai warga negara, tidak hanya mengkritik, namun ikut berpartisipasi dalam membangun negara kita.

********
*Penulis adalah Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Enter Google AdSense Code Here

Comments

13 Responses to “Indonesia-Malaysia: Sebuah Hubungan Ekonomi Asimetris?”
  1. anthrax says:

    Janganlah TKI kita selalu dikambing hitamkan! sebenarnya kesalahan tidak sepenuhnya terletak ditangan para TKI kita yang sering dibenturkan dengan pernyataan2 bahwa TKI kita tidak berpendidikan, tidak punya skill, atau kasarnya BONAK alias Bondho Awak (modal badan aja) untuk jadi TKI/TKW, akan tetapi lebih dari pada itu.. kesemrawutan penanganan, penempatan dan perlindungan TKI kita merupakan cerminan dari betapa bobroknya pemerintahan kita dan rendahnya kualitas dan sensitivitas diplomat kita di luar negeri. pemerintah kita tidak serius dan seolah menutup mata dengan apa yang terjadi dengan TKI kita di luar negeri. so..mohon doanya buat para TKI kita yang selalu jadi kambing hitam agar pemerintah indonesia bisa dibukakan mata, hati, dan pikirannya agar saudara2 kita bisa bebas.. merdeka buat TKI kita..

  2. verdinand says:

    GImana ya,
    kalo ngomongin tki,
    rasanya kok suram banget bangsa ini.

    Terminal khusus TKI justru dibuat menjadi sarang penyamun.
    BPN2TKI diduga juga bermain dalam pungutan liar di bandara. Dari info yang saya dapat, tidak ada sama sekali kini pungutan terhadap TKI. Tapi kok institusi yang diharapkan memangkas birokrasi ini justru korup dan buas?

    Mereka udah dapat kesejahteraan yang layak.
    Dapat dukungan langsung dari Presiden.
    Tapi kok nggak ada kemajuan dalam manajemen TKI.
    Mana Jumhur Hidayat yang cuma bisa ngomong doang?

  3. al ghozali says:

    mohon saya diberikan informasi tentan tema tulisan pada bulan mendatang, saya akan menulis sesuai dengan teman-yang ditentukan oleh panitian berdasarkan isu-isu internasional teraru!..

    saya tinggal di solo, beberapa kali melakukan penelitian bersama dengan lembaga internasional seputar masalah pergerakan politik Islam (radikalisme), Pertahanan dan Keamanan. Kiranya karya yang tidak terpublikasi ini bisa terakomodir di dalam media ini. terimakasih

    Al Ghozali

  4. admin says:

    Baik Mas Ghozali
    Kami akan mengundang Anda melalui email untuk menulis di portalHI untuk bulan mendatang.

    Terima kasih telah bergabung di portalHI.

  5. bagus says:

    sikap malaysia pada indonesia bagaikan anak tak tahu budi yang durhaka terhadap gurunya.andai saja dulu maha aksi ganyang malaysia berhasil,pastilah tanah melayu raya ini akan tentram&damai di bawah komando indonesia yang perkasa.maka dari itu mari sekarang kita gaung lagi GANYANG MALAYSIA TUK SLAMA-LAMANYA (komandan Gerakan Muda Ganyang Malaysia)

  6. Abikusno Cokrosuyoso(smasa tmg) says:

    perilaku malaysia saat ini benar2 mencerminkan bahwa mereka adalah negara tak terpelajar.apalagi dengan polisi di sana yg bagaikan lulusan pasar kumuh.sepertinya dulu guru2 kita dulu kurang lama mengajari mereka/memang mereka begundal belaka.salute abis untuk MALAYSIA,MALING ASIA !!!

  7. Bagus,Revolusioner dari Smasa Tmg says:

    Sebagai komandan Gerakan Muda Ganyang Malaysia,saya sangat berbahagia dgn adanya kasus2 pencurian harta (kayu,alat musik,batik,lagu,pulau,dll) Indonesia oleh Malaysia.Sebab,hanya dgn itulah emosi rakyat Indonesia dpt tertumapah dng hebat2an pd Maling Asia tsb.Mari Indonesia,kita bentuk poros dgn negara kuat dunia utk menggempur Malaysia habis2an,bahkan kalau perlu kita bangkitkan PERANG DUNIA 3

  8. ade says:

    wakakakaka…
    beneran jadi pengen nulis soal malay di posting berikutnya

  9. awm says:

    Wah, asyik tuh, perang sama Malaysia.

    Ikut ikut…….

  10. ade says:

    yang komen sebelum ini kyknya emang penggemar konflik
    dan kayaknya gw kenal :D

  11. jefri says:

    hubunganya kurang memuaskan tuch>>>>>..?.

  12. jefri says:

    duh bingung aku>….

  13. dhanang says:

    Devisa yg dihasilkan oleh TKI lebih besar daripada devisa pariwisata kita. China menjadi negara besar salah satu nya karena banyak warga mereka yg tersebar di seluruh dunia, memberi jalur bagi produk mereka utk bisa dijual dimanapun. Dan saya yakin ukuran dimaksud di artikel di atas adalah GNP bukan GDP, karena secara GDP Indonesia jauh lebih kaya daripada Malaysia (Indonesia di peringkat 19 dunia, hanya negara2 besar spt Amerika, Jepang, China yg ada di atas kita).

    Menurut perkiraan pengamat ekonomi dunia, Indonesia akan jadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2030 (kalo 2012 ga kiamat hee). So jangan berkecilhati, keep being optimist and be part of Indonesia economy power in that time.. ;)

Speak Your Mind

Tell us what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!