EDUCATION AGAINST POVERTY
August 28, 2007 by verdinand
Filed under EKO-POL-IN
Ananda Ladeva Gumanti*
Indonesia merupakan negara yang sedang terpuruk kondisi sosial ekonominya sejak tahun 1997. Meskipun dalam pemberitaan media massa dikatakan Indonesia telah mulai bangkit dari keterpurukan ekonomi, namun bila dicermati lebih lanjut, pemberitan tersebut hanya menyajikan data-data statistik di sektor-sektor tertentu saja seperti fluktuasi nilai tukar dan inflasi. Bangga? Ya jelas tidak! Coba tengok pojok-pojok “perumahan” kumuh dibalik semua kemegahan jalan-jalan protokoler Jakarta. Lulusan sarjanapun tidak ubahnya dengan lulusan SMP atau SMU atau bahkan jika ingin lebih dramatisir lagi dengan lulusan SD. Mengapa dikatakan demikian?!
Karena pada kenyataannya banyak dari lulusan sarjana yang belum siap pakai selain itu persaingan amat sangat ketat di era globalisasi ini dan juga semakin sedikitnya lapangan pekerjaan yang tidak mumpuni dengan keahlian mereka. Jikapun ada perusahaan yang menerimanya, mereka hanya diberi gaji yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Sampai detik inipun jika membicarakan pengangguran seakan akan pemerintah pusat selalu berkilah dan muncul dengan isu yang lebih hangat lagi di media massa dan berharap penyakit ini dengan sendirinya akan sembuh. Sesuatu yang mustahil.
Penulis berpikir bahwa dua penyakit ini yaitu kemiskinan dan pengangguran erat kaitannya dengan pendidikan yang berkualitas (mendapatkan pendidikan di Indonesia saja sulit apalagi jika harus dituntut mendapatkan pendidikan yang berkualitas!). Pendidikan yang berkualitas bukan hanya didapatkan dari bangku sekolah atau bangku kuliah (formal education) tetapi juga didapatkan dari jalur informal entah itu berupa kursus dengan keahlian masing-masing atau pengalaman secara umum.
Pendidikan dalam hal ini juga meliputi pendidikan politik kepada masyarakat umum. Penulis menyadari bahwa masyarakat terlanjur antipati terhadap hal-hal yang berbau politik yang disebabkan karena pengalaman yang tidak manis di masa lalu. Tetapi pendidikan politik ini merupakan hal yang penting. Selama ini banyak kesalahan serius yang terjadi di dunia internasional yang disebabkan karena pemahaman yang tidak benar terhadap perpolitikan.
Terorisme merupakan contoh yang nyata mengenai kesalahan berpikir tentang politik. Terorisme muncul disebabkan hanya karena satu hal yang mendasar yaitu ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat yang sedang berkuasa, entah karena ketidakmerataan ekonomi, ketidakbebasan dalam berekspresi atau hal-hal lainnya. Ketidakpuasaan para teroris ini kemudian disalurkan dengan meneror pihak-pihak yang kadang tidak ada sangkut pautnya dengan sasaran yang hendak dituju. Para teroris ini melakukan “kegiatan” ini hanya untuk mendapatkan perhatian dari pemerintah bersangkutan agar mendengarkan apa kemauan mereka sehingga (semoga) keinginan mereka dapat tercapai. Tetapi untuk mendapatkan kemauan mereka, banyak pihak yang tidak bersalah menjadi korbannya. Bukannya simpati yang didapatkan oleh para teroris tersebut melainkan antipati.
Hal-hal radikal selalu terwujudkan karena pikiran radikal tersebut tidak mempunyai atau belum menemukan landasan berpikir yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang di muka bumi ini yaitu perdamaian. Maksudnya adalah setiap keinginan sesulit apapun akan mudah terwujud bila dapat mengkomunikasikan dengan sangat baik kepada pihak yang bersangkutan, dalam hal ini Pemerintah. Setiap masyarakat dapat menyalurkan aspirasi kepada partai-partai politik dan badan legislatif (DPR). Tetapi lagi-lagi hal itu masih dalam tataran idealnya. Karena harus diakui, para politikus yang menjabat entah di Partai Politik atau badan pemerintahan lainnya ternyata belum mengerti benar tentang hal-hal yang berhubungan dengan politik. Mereka terlalu sibuk dengan rekening masing-masing sehingga kepentingan rakyat masih harus menunggu untuk mendapat perhatian mereka. Seandainya mereka mengerti dan sadar dengan jabatan yang sedang mereka emban maka tiap saat mereka akan selalu berpikir tentang cara yang efektif untuk mengangkat masyarakat Indonesia ini dari kemiskinan dan penyakit lainnya. Yang terjadi malah sebaliknya, mereka terlalu nyaman untuk duduk di kursi mereka.
Oleh karena itulah, Penulis berpikir bahwa sudah saatnya para PEMUDA untuk bangkit dan membangun negeri sendiri. Dimulai dengan memperoleh pendidikan yang mumpuni sebagai bekal untuk masa depan. Bekal utama yaitu pendidikan moral. Penulis sangat percaya bahwa meskipun para politikus dan para pejabat pemerintahan (seperti yang ditulis sebelumnya) mereka belum mengerti benar tentang politik tetapi paling tidak mereka tidak “putih” benar tentang politik, yang menjadi satu kekurangan mendasar dan sulit untuk dimaafkan adalah karena mereka tidak terlihat layaknya manusia yang mendapatkan pendidikan moral secara maksimal!
Pendidikan moral diperlukan agar kelak ketika seseorang duduk di pemerintahan atau menjabat apapun, ia tidak lupa dengan sumpah yang telah diucapkannya sebelum menjabat. Penulis pun percaya bahwa masa depan Indonesia masih bisa diubah dan dapat menjadi lebih baik lagi,,,jauh lebih lagi dengan satu syarat mutlak, para Pemuda Indonesia harus mendapat dan wajib menerima pendidikan yang berkualitas, selain itu para Pemuda pun harus sadar bahwa masa depan Indonesia bukan berada di tangan angkatan 45,50,60 melainkan berada di tangan kita saat ini. Semoga sejalan dengan waktu kesadaran tersebut dapat terbangun, bukan lagi dalam tataran mimpi idealis belaka.
Penulis ingin berpartisipasi dalam mewujudkan mimpi itu…
——————————————————————————————-
*Penulis adalah mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2004 Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama) dan Ketua Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama).


Hi Ananda!
Gw senang banget makin banyak mahasiswa hi dari universitas lain untuk bergabung dalam portal hi ini.
Mengenai tulisan ini, gw pada prinsipnya, setuju untuk peningkatan awareness pendidikan khususnya dalam politik.
Tetapi menurut saya, harus ada program konkret atau proposal usulan yang mungkin dapat diimplementasi di negara ini.
Jadi pemikiran kita lebih tajam untuk diperdebatkan dengan politisi-politisi yang kini dalam pemerintahan.
Anyway, gw jadi tertarik untuk bergabung dalam gerakan pendidikan Deva ini. He3x
Setuju …saatnya pemuda beraksi, salam kenal
maap sebelumnya…saya ingin menilai teknis tulisan saudara sebelum membahas isi dari tulisannya..
dari mulai judul, bagian awal, tengah, sampai akhir tidak fokus..yang sebenarnya mau dibahas apa??pendidikan, kemiskinan, terorisme, politik, kinerja pemerintahan, atau pengangguran..walaupun mereka memiliki korelasi, namun ada baiknya jika tulisan lebih difokuskan pada satu atau dua masalah saja…
misalnya bagaimana kaitannya situasi pendidikan dan perkembangan terorisme di Indonesia..atau prioritas pendidikan politik dalam berkenegaraan ..ya itu hanya pendapat saya..
next..
kalau dari isinya memang semua hal atau variabel yang disebutkan memiliki korelasi…sederhananya,pendidikan yang rendah akan memparah tingkat kemiskinan, yang nantinya kemiskinan tersebut akan mendorong munculnya terorisme..yang di mana terorisme merupakan respon dari proses politik yang tidak baik..proses politik yang tidak baik merupakan sebuah akumulasi panjang dari pemahaman-pemahaman dan kebijakan-kebijakan yang salah dari para pemegang keputusan..hal inilah yang membuat ekonomi melemah sehingga tingkat pendidikan pun rendah..
ya ini semua semacam lingkaran setan (menurut W.S. Rendra) dimana kita harus berani keluar dari lingkaran (’kondisi nyaman’)tersebut..dan yang pasti itu tidak mudah TAPI Kita BISA melakukannya!!
Ya koran dan TV khan cuma ngemeng aja tuk cari sesuap nasi!!! apa yang mereka nyakini fakta ya yang mereka yakin bahwa itu fakta. keyakinan itu ya nilai si penulis wartawan yang tentunya dipaksa oleh realitas nilai keyakinan dari luar dirinya seperti keluarganya yang butuh makan, dan konteks politik jurnalistik dan media, dll. semuanya cuma bohong-bohongan kok…gak ada fakta/realitas yang ada keyakninan akan fakta.
hoooo…viva 4 Deva…
keluarkan semua isi pemikiran pemikiran hebatmu lewat tulisan tulisan yang mampu membuat orang lain khususnya orang awam, ampu mencerna dan memahami isi, maxud dan tujuan dari tulisanmu itu…
kayaknya lebih enak tawu pemikiran lo leawt tulisan dari lisan langsung…hehehehe
perfecto mi amiga!!!
congratz buat deva………
keren koq udah berani buat tulisan kaya gitu…tapi mana datanya?kalo ga pake data percuma kamu nulis sebanyak itu…jangan2 itu cuma asumsi pribadi kamu aja,ini yang pertama
kedua,saya setuju ma pendapatnya deri,tulisan kamu itu ga fokus!!!!!apa point yang pengen kamu ungkap?pendidikan, politik (sub fokus pendidikan politik atau…), keamanan atau malah peran pemuda?
coba untuk lebih fokus karena saya tidak menemukan inti dari apa yang kamu tulis tadi…belum lagi tidak adanya data yang sebenarnya mampu memperkuat tulisan kamu, jika seperti ini jadinya tidak ilmiah….
maaf sebelumnya kalo kebanyakan kritiknya tapi insya allah ini bersifat membangun kok..
sukses ya dev
best regards
your best friends
hi2.. i’m interested 2 join this portal..
benarkah peran lembaga pendidikan dalam pementasan kemiskinan tu cm buat menghasilkan.. i mean product oriented.. cm kepada hasil orang’nya?
bukan’nya justru pada saat di dalam lembaga pendidikan, orang2 di dalamnya (termasuk kita para mahasiswa) bisa berperan secara aktif karena ada lembaga yang menaungi kita dalam “BERPERAN” <— hanya bisa dilakukan apabila ada kemauan..
karena jika kita hanya terfokus pada peningkatan kualitas lembaga pendidikan (bukannya saya bilang tidak penting) hasil yang bisa didapatkan hanya segelintir orang yang berpenghasilan.. “segelintir” saya bilang… karena di luar sana.. banyak yg tidak berkesempatan untuk mendapat edukasi seperti kita tetapi juga harus diberi kesempatan untuk keluar dari jurang kemiskinan..
any advice? bagaimana masing-masing dari kita (bkn lembaga pendidikan tempat kt menempuh edukasi) tidak hanya menghasilkan satu orang yang lulus dengan predikat memuaskan dan mendapat pekerjaan yang layak, tetapi juga bisa mengangkat orang2 miskin yang ada di sekeliling kita?
woooow Deva The Diva cieeeee anyway gue br baca nie tulisan lo bagusssssss bgt tapi next time cantumin dong foto lo jadi orang ga penasaran ya kali2 kan lo jd dapet tambatan hati he2 cu ya bu!!1
bagus dev, saya juga akan berpartisipasi dalam mewujudkan mimpi itu.dengan jiwa yang semangat dan Do’a.
kalau bukan dari diri kita sendiri dari siapa lagi?????????????
bener ga cieh.
good luck!!!!!