Reformasi Islam untuk Menantang Benturan Peradaban
August 19, 2008 by verdinand
Filed under book review, non-konvensional
Sebenarnya sudah lama saya ingin membaca buku karangan Irshad Manji yang berjudul Faith without Fear atau yang dalam terjemahan Indonesia diberi judul Beriman Tanpa Rasa Takut. Namun baru kini niat itu tersalurkan.
Siapakah Irshad Manji (IM)?
IM berasal dari keluarga imigran muslim Asia Selatan yang awalnya bermukim di Uganda. Tahun 1972 bersama keluarganya ia meninggalkan Uganda menuju Vancouver, Kanada akibat politik rasisme yang dijalankan oleh diktator Uganda, Idi Amin. Pada saat itu, Amin menyatakan bahwa Afrika diperuntukkan hanya bagi warga kulit hitam dan memberikan waktu beberapa minggu bagi kaum imigran untuk meninggalkan negara tersebut. Di Vancouver, sehari-hari IM bersekolah di sekolah umum dan belajar di madrasah, yang didirikan oleh para imigran, di setiap akhir pekan.
Saat ini, IM dikenal sebagai seorang kritikus terhadap pemikiran Islam radikal dan interpretasi-interpretasi ortodoks atas Al-Quran. Ia selalu mendorong atau mengadvokasi bangkitnya pemikiran kritis, yang dikenal sebagai ijtihad di dalam tradisi Islam. Demi tujuan itu, ia mendirikan Project Ijtihad, sebuah organisasi internasional membangun jaringan umat Islam yang tertarik dengan reformasi Islam. Project ijtihad merupakan sebuah lembaga yang akan membantu para muslim muda untuk memimpin reformasi Islam. Selain itu, IM menjadi direktur dari Moral Courage Project di New York University. Sebuah lembaga yang bertujuan mengajarkan para pemuda untuk menyuarakan kebenaran dan berpikir kritis di dalam komunitas-komunitas mereka.
Reformasi Islam
Di dalam bukunya tersebut IM menyarankan dilakukannya reformasi di dalam tubuh Islam. Pandangannya tersebut dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya sebagai seorang muslimah yang seringkali berbenturan dengan tradisi Islam yang berpikiran sempit. Di dalam bukunya tersebut IM menceritakan salah satu pengalamannya ketika belajar di madrasah, dimana terjadi pembelengguan atas kebebasan berpikir dan berpendapat.
“…Yang lebih buruk lagi adalah: partisi otak dan jiwa. Di kelas-kelas hari Sabtuku, aku didoktrin: Kalau kau orang yang beriman, kau jangan berpikir. Kalau kau berpikir, maka kau bukan orang yang beriman. Cara berpikir sederhana ini menghapus rasa ingin tahuku yang meluap-luap…”
Sebenarnya isu pembaruan atau reformasi Islam bukanlah hal yang baru di dalam tubuh Islam, isu pembaruan ini telah ada sejak lama. Di dalam dunia intelektual Islam dikenal sejumlah pemikir pembaruan diantaranya adalah, Muhammad Abduh dan Jamal al-Din al-Afghani yang memulai gerakan ini di Mesir pada abad 19. Agenda utama yang dicanangkan pada saat itu adalah refomasi Islam untuk membebaskan kaum muslim dari pemahaman agama yang sempit dan kaku.
Sementara di Indonesia, isu pembaruan Islam dibawa oleh para tokoh seperti Abdullah Ahmad, Muhammad Djamil Djambek, K.H. Ahmad Dahlan, H.O.S. Tjokroaminoto dan Hadji Agus Salim yang selanjutnya di masa kini diteruskan oleh Nurcholish Madjid, K.H. Abdurrahman Wahid, M. Dawam Rahardjo, M. Syafii Maarif dan lain-lain.
Sebagaimana pada masa lalu, gerakan pembaruan pada masa kini sebenarnya masih membawa agenda membebaskan kaum muslim dari pandangan-pandangan yang sempit dan kaku. Inti dari pembaruan ini utamanya membangun Islam yang demokratis, kontekstual, rasional, logis dan kritis sehingga mampu menjawab perubahan zaman. Alasan dari pembaruan ini adalah, sebagaimana ditulis oleh IM, “sebagian besar kaum muslim memperlakukan Al-Quran sebagai dokumen yang harus ditiru (diimitasi) ketimbang harus diinterpretasikan. Dan hal itu membunuh kemampuan kita untuk berpikir bagi diri kita sendiri”.
Sebenarnya Islam sendiri memandang pembaruan sebagai sebuah keharusan sebagaimana tercantum di Al-Quran surah Al-Dhuh? ayat 4,“Sesungguhnya yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang dahulu”. Selain itu, kebutuhan pembaruan di dalam tubuh Islam ini juga tertera di dalam sebuah hadist,
”Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah membangkitkan untuk umat ini pada pangkal tiap seratus tahun, orang yang akan memperbarui bagi mereka, urusan agama mereka”. (H.R. Abu D?wud, al-Baihaq?, dan al-H?kim)”.
Namun seringkali upaya pembaruan ini dilihat sebagai upaya pembaratan Islam (westernization of Islam). Sebuah upaya membawa nilai-nilai Barat ke dalam tubuh Islam. Sehingga seringkali upaya pembaruan ini mendapatkan tentangan dari dalam tubuh Islam, khususnya dari kalangan konservatif garis keras (fundamentalis).
Persinggungan Islam dan Barat sebenarnya hal yang lumrah sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad Arkoun (2006). Arkoun menyatakan bahwa persinggungan Islam dan Barat merupakan sebuah keniscayaan, bahkan dipercaya dapat mengembalikan kejayaan Islam pada masa lalu. Ada beberapa alasan yang dikemukakan Arkoun untuk menopang pandangannya tersebut. Pertama, tradisi akademik yang saat ini bernuansa Barat merupakan hal yang tidak terelakan. Dominasi ini menjadikan dinamika ilmu pengetahuan, termasuk yang disusun oleh pemikir muslim harus mengikuti pola tradisi keilmuan Barat. Kedua, sejak abad ke 18 dan 19 tidak ada model kesarjanaan lain yang mampu menandingi model pemikiran dan pengetahuan Barat. Ketiga, adanya fakta sejarah bahwa tidak ada tandingan dari budaya dan pemikiran Non-Barat yang berhasil menggusur tradisi pemikiran Barat. Keempat, Islam sebagai sebuah tradisi pemikiran masih diabaikan dan ditolak oleh sebagian besar kaum muslimin. Selain itu kaum muslimin juga menolak upaya revolusi saintifik dan intelektual yang dibawa modernitas. Kelima, kebutuhan membangun epistemologi Islam tidak mungkin dapat dicapai tanpa melihat hasil-hasil ilmiah yang telah dicapai Barat. Menampilkan pemikiran atau sintesis Islam tanpa melihat hasil ilmiah yang telah dicapai Barat sama artinya dengan memberikan kesenangan bagi kalangan fundamentalis tidak peduli pada perdebatan akademis tentang kriteria kesarjanaan yang sahih dan tidak sahih.
Reformasi Islam, Benturan Peradaban dan Perang Melawan teror
Masalah yang ditimbulkan oleh pemikiran Islam yang sempit dan kaku adalah munculnya fundamentalisme yang menggunakan tindakan-tindakan ekstrim dalam menghadapi perbedaan, terutama ketika menghadapi Barat. Fenomena terorisme di dalam tubuh gerakan-gerakan Islam radikal sebenarnya bersumber dari pola pikir yang sempit dan kaku tersebut. Dengan demikian, jika kita berbicara tentang benturan peradaban, sebenarnya kita sedang berbicara mengenai persoalan kekolotan yang terjadi di dalam penafsiran atas ajaran-ajaran agama.
Pemikiran yang kaku dan sempit ini menyebabkan para penganutnya memandang diri sebagai yang paling benar. Dengan kata lain, para penganut fundamentalisme ini melakukan apa yang disebut sebagai mistifikasi identitas solitaris, yaitu melihat orang lain yang berbeda sebagai musuh yang dapat dikenai tindakan kekerasan. Kondisi tersebut menyebabkan mereka sulit ketika harus berhadapan dengan perbedaan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang plural sehingga menghasilkan benturan-benturan yang berakhir dengan kekerasan (terorisme). Fenomena ini kemudian melahirkan agenda perang melawan teror di tingkat global.
Lalu dimanakah letak reformasi Islam di antara benturan peradaban dan agenda perang melawan teror tersebut?
Terkait dengan perang melawan teror, di sinilah letak pentingnya reformasi di dalam tubuh Islam. Reformasi atas penafsiran sempit ajaran Islam, seperti yang selama ini berkembang, dapat dikatakan sebagai upaya meredam benturan peradaban yang berakhir dengan fenomena terorisme global. Reformasi Islam yang menitikberatkan pada demokrasi, rasionalitas, logika dan semangat kritis diharapkan dapat melahirkan Islam yang toleran terhadap perbedaan nilai yang berkembang di masyarakat yang plural dan berinteraksi secara global.


PERTAMAX!
Oke, sebelum gue kasi komen, gue kasitau dulu tentang penulisnya.
Om Lucifer ini benar-benar misterius. Gue dapet email dengan nama pengirim lucifer.awakening@xxxxx.com dan tidak ada alamat dan keterangan penulis. Gilee.. jadi ketakutan gua. (Tapi nggak apa, gue jadi nggak perlu kasi buku buat penulis, hee..)
Nah, mengenai tulisannya, nice shot! Gue suka kesimpulannya (secara gue kgk mengerti mendalam tentang Islam). Jangan-jangan karena alasan ini, Abubakar Baasyir meninggalkan MMI. Mudahan-mudahan makin banyak promotor-promotor Islam pembaruan seperti Nurcholish Madjid di Indonesia.
Peace for Indonesia!
wahh,, ngomongin tentang relevansi islam dalam peradaban menarik juga,, sayang penulis kurang ,mencermati kebudatyaan islam khususnya yang terjadi di univesitas al-azhar
karena banyak tafsir-tafsir guru besarnya
yang bisa dijadikan kajian untuk perkembangan hi
Um, ada kebingungan ketika membaca tulisan ini.
Pemikiran yang kaku dan sempit ini menyebabkan para penganutnya memandang diri sebagai yang paling benar. Dengan kata lain, para penganut fundamentalisme ini melakukan apa yang disebut sebagai mistifikasi identitas solitaris, yaitu melihat orang lain yang berbeda sebagai musuh yang dapat dikenai tindakan kekerasan. Kondisi tersebut menyebabkan mereka sulit ketika harus berhadapan dengan perbedaan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang plural sehingga menghasilkan benturan-benturan yang berakhir dengan kekerasan (terorisme).
Definisi Terorisme disini sangat jauh berbeda dari apa yang ada dalam literatur-literatur mengenai terorisme. Seandainya kekerasan yang berlatar belakang perbedaan nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat yang plural sehingga menghasilkan benturan-benturan dianggap terorisme, maka akan ada terorisme rumah tangga.
Kedua, saya agak bingung dengan kalimat ini: ….termasuk yang disusun oleh pemikir muslim harus mengikuti pola tradisi keilmuan Barat..
kenapa tulisan ini cenderung membenturkan pola tradisi keilmuan? padahal, untuk ilmu pengetahuan, per-se, sifatnya harus universal. akan menjadi sangat beda ketika kita berbicara tentang etika dan aplikasi ilmu pengetahuan.
Yang paling membuat saya bingung adalah ketika ada wacana:
Terkait dengan perang melawan teror, di sinilah letak pentingnya reformasi di dalam tubuh Islam. Reformasi atas penafsiran sempit ajaran Islam, seperti yang selama ini berkembang, dapat dikatakan sebagai upaya meredam benturan peradaban yang berakhir dengan fenomena terorisme global. Reformasi Islam yang menitikberatkan pada demokrasi, rasionalitas, logika dan semangat kritis diharapkan dapat melahirkan Islam yang toleran terhadap perbedaan nilai yang berkembang di masyarakat yang plural dan berinteraksi secara global.”
Anda mengkaitkan perang kontrateror dengan mereformasi Islam?
Sepertinya ada kekeliruan karena anda berbicara pada dua tataran yang berbeda, karena sependek (atau sepanjang juga kali y?) yang saya tahu, Perang Kontra Teror adalah perang global melawan teror, bukan melawan Islam. Kenapa Islamnya yang mesti berubah? Orang Islam sendiri percaya bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan Agama adalah pembawa damai-salam. Mereka yang menggunakan terorisme sebagai alat perjuangan politik mereka akan sangat sulit sekali diterima dalam notasi Islam. Mereka mungkin hanya oknum. Jadi kenapa harus dikaitkan?
@ rahadian
saya setuju dg komen mas/mbak rahadhian. tulisan di atas memang byk kelirunya. seperti mas/mbak rahadhian jelaskan bahwa dalam perang melawan teror yg “diserang” bukan islam tapi teroris. jadi jgn mencampur adukan antara teroris dg islam.
buat mas/mbak rahadhian: komennya mantap dan tajam. analisa bgs sekali. salut!!
Aku Salut sama commentnya rahardian, suatu analisis yang sangat matang, bagiku tulisan ini mengajak kita agar umat islam dapat lebih kreatif dalam memaknai nilai-nilai islam secara bebas dan luas, “enak aja” Islam bukan agama ciptaan manusia. saya taw yang nulis tulisan ini dari kelompok apa. wacana yang diberikan basi!
Ikutan ah…
Menulis topik seperti ini bukan perkara yang mudah. Salah satu alasannya, pembicaraan masalah ini akan dekat sekali dengan keyakinan. Mungkin ada baiknya jika mas/mbak Lusi mendefinisikan dengan terang istilah2 yang digunakan. Istilah fundamentalisme dalam literatur Timur Tengah/Islam dikaitkan dengan revivalisme. Ide ini salah satunya mengemuka lewat Qutb. Revivalisme dipahami dalam konteks inward looking Islam dan bukan Islam vis a vis yang lain. Konsep fundamentalisme yang dipakai Barat (AS) adalah konsep politik yang dikaitkan dengan radikalisme. Nampaknya mas Dian dan beberapa komen yang mengikutinya pemahaman yang kedua sedangkan mas/mbak Lusi, atau sebenarnya Manji, memahami dalam konteks yang pertama. Itu kalau menurut saya…
revivalisme, radikalisme, pluralisme dalam menginterpretasi makna teorisme justru hanya akan menimbulkan kesalapahaman antar ajaran agama. Jika para tokoh yang mengkampanyekan era kebangkitan Islam (seperti Qutb, Al-Banna, Bin Laden, dll) membenarkan aksi bom bunuh diri, dan Barat (bush dan para pendukungnya) merespon ini dengan cara yg sama seperti yg dilakukannya terhadap Irak dan Afghan, serta kaum mutazhillah (seperti Hanafi, Arqoun, Fadle, dll) dengan pluralismenya yg seringkali menyerang Islam tradisionalis sebagai salah kaprah dalam menginterpretasi Qur’an justru hanya akan memperparah hubungan antar umat beragama. Dengan begitu kita tidak melihat lagi wajah kemanusiaan dalam agama, bagaimana kalau kita mengganti nama “Agama” dengan “Kemanusiaan”.
@ all: Khan sudah ada inter-faith dialogue?
@ Om Itok: tok, pendapatku tentang tulisannya tidak ada hubungannya dengan pemahamanku lho. Let us be clear about this. Kalau yang lainnya, aku tidak ikut-ikutan. hehehe.. Oiya, sudah kau pikirkan oleh2 untuk aku? :em24:
@ itok:
ini adalah definisi fundamentalisme yg saya gunakan
“Religious fundamentalism refers to a “deep and totalistic commitment” to a belief in the infallibility and inerrancy of holy scriptures, absolute religious authority, and strict adherence to a set of basic principles (fundamentals), away from doctrinal compromises with modern social and political life.”
dg penjelasan tersebut semoga tulisan saya di atas sudah dpt lbh mudah dipahami dan tidak lg menjadi bias.
@ filia:
klo menanggapi sesuatu jg reaktif. pahami dl sesuatu it scr baik stlh it br merespon…
knp sih org indonesia gampang sekali menyebut segala sesuatu basi?
demokrasi dibilang basi
reformasi islam dibilang basi
jalan ketiga dibilang basi
lalu kalau semuanya dianggap basi, apa yg harus dilakukan?
@ Itok: sepertinya ada yang Ganjil y dalam kalimat berikut? Sepertinya kehilangan kata kerja yach?
“Nampaknya mas Dian dan beberapa komen yang mengikutinya pemahaman yang kedua…”
Mu’up lho Tok. Sekedar mengingatkan..
hehehe
:em47:
yo i bos… maklum, ndak ada yang ngedit….
lucifer (setan) koq membahas islam.
mendingan gak usah dibaca, karena sudah pasti isinya absurb semua.
kalau cuman nyomot-nyomot tulisan orang lain mah, anak kecil juga bisa.
kok g ada comment bwt “iseng aja”, ato bener2 setan, di cari tu sama habib riziq
orang iseng kok dilayanin….
biarin ajalah…
tar juga cape sendiri…
btw kalow “iseng aja” merasa isi tulisan saya absurd, kenapa gak bikin tulisan tandingan untuk mengritisi tulisan saya? ga usah yang sulit2, tulisan comot2an dari tulisan orang laen juga boleh.
Memang dunia ini masih dipenuhi oleh berbagai jenis setan dan iblis. Mulai dari institusi negara (DPR, gubernur), dunia hiburan (film setan), sampai ke blogsphere (termasuk portalHI). Lihat aja ada lucifer, panitia hari kiamat, warlord, justwar, dan masih banyak lagi. Nggak masalah sih, asal yang diomongin masih rasional dan berhubungan dengan HI (karena ini di portalHI). Tapi kalo udah ngaco, yang tinggal di-delete aja (Gitu aja kok repot :em32: )
sorry nih, biar lebih feminim sy panggil luci aja yah….
nih sy comot dari tulisan luci sendiri dan ditambah sedikit kesimpulan (seperti cara luci menulis) :
“apa yg saya lakukan bukan mencari-cari kesalahan ato mo pamer pengetahuan tp karena tulisan di atas terlalu banyak kesalahan”,
ini sama aja seperti raja bohong bicara tentang kejujuran.
Absurd khan ?
Kadang kala untuk mengajari anak kecil, harus pake cara anak kecil juga biar ngerti.
Apa perlu menandingi anak kecil, menang pun tidak bangga ?
wah tadinya saya pikir si Verdinand yang nulis ini.. heran aja kok mau-maunya baca bukunya Irshad Manji
Saya pernah baca udah lama, lagipula Manji memang secara sengaja membiarkan orang umum bisa mendownload versi .doc gratis via internet (googling aja, dulu sih ada)
Untuk isinya sendiri saya tak perlu komentar banyak karena sepertinya kira-kira sudah tercakup dalam posting maupun komentar. Namun menurut saya memang tulisan Manji ini lebih istimewa karena dibawakan dengan baik, kadang diselipi humor, analogi. Kelemahannya, secara personal, kepribadian penulisnya memang rentan untuk diserang kalangan yang masih kental aroma konservatifnya. Yah, bagaimanapun juga orang masih lihat siapa yang bicara, bukan apa yang dibicarakan.
Anyway.. bwt Verdinand. Nice template! Berapa duit nih?
Bagus topiknya…
Komentarnya juga bagus bagus…
Saya kurang cocok dengan interfeith dialog, wong keyakinan dan agama kok di dialogkan? udah pate’ an khan.
Saranku mungkin dialog antar kelompok agama dengan kelompok sekuler aja lebih pas ya…
Tentang agamanya sendiri, ada yg hablu minannas (hubungan manusia dengan manusia) dan hablu minallah (manusia dengan tuhannya). Jika yang sama tuhannya ya ga usah diributkan, sangat pribadi, vital, dan jangan/ga usah disentuh-sentuh. Klo manusia-manusia, lebih ke arah hubungan sosial manusia aja. Agama ada sebagai bagian dari alam semesta yang stabil. Semesta ini semua teratur kontingen, constitute dengan norma, dasar, fundamen, basic agama. Ini salah satunya lho. Salah lain masih banyak lg, mungkin ada filsafat, seni, dll.
Kerusakan yang ada, konflik, perang, iri, dengki, sirik, dendam, teror (isme), dll beserta sebaliknya, karena memang diri manusia terdapat id dan superigo, setan-dewa, insan-bashar, roh-badan, hasrat ketuhanan-hasrat keiblisan, habil-qabil, jadi pilahan saja yang akan menagrah pada harmoni-stabil atau disharmoni-chaos. agama sebagai sejarah jika iblis-setan-kerusakan apapun juga terjadi. Kematian ilmu, filsafat sudah lama ditabuh genderangnyaa leh para postmodernis. lalu apa kita akan ke nihilisme dan absurdisme. Saya pilih agama saya!!!
BUKAN BEGITU???
Saya percaya bahwa pada dasarnya semua agama adalah baik. Yang mendistorsi esensi daripada sebuah agama sesungguhnya “oknum-oknum” yang belum memiliki pemahaman yang benar. Fanastisme juga terjadi di semua agama.
Saya kira semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang atau semakin luas wawasan, maka semakin bijak dalam menanggapi berbagai persoalan.