Republik Kucing
Verdinand Siahaan
Rupanya kucing lebih berbakti kepada negara dibandingkan warga negaranya sendiri. Ini beneran terjadi di Jepang. Kisah ini berawal ketika perusahaan kereta api Jepang,Wakayama Electric Railway, mengalami kerugian besar sehingga harus mem-PHK banyak karyawannya. Karena ketiadaan dana, perusahaan Jepang ini memilih hewan sebagai ikon perusahaan. Terpilihlah Tama, seekor kucing yang lahir dan dibesarkan di stasiun kereta api Kinokawa, provinsi Wakayama. Pekerjaan Tama sehari-harinya adalah duduk di depan stasiun dan bersedia berfoto dengan para penumpang. Meskipun pekerjaannya sederhana namun kehadiran Tama telah meningkatkan jumlah penumpang 10% lebih banyak dibandingkan tahun kemarin. Alhasil Tama kini mendapat promosi jabatan menjadi super-station-master dan menjadi sangat terkenal di Jepang. Bahkan sudah ada buku tentang Tama (Diary of Tama, the Station Master). Read more
Kebangkitan Negeri Panser
Supriyanto*
Awal tahun 2000-an adalah masa-masa sulit bagi negara Jerman. Nilai ekspor menurun drastis, angka pengangguran meningkat tajam serta berbagai tunjangan sosial dipangkas. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah waktu itu semakin berkurang. Gerhard Schröder yang kala itu menjabat sebagai kanselir menjanjikan akan menekan angka pengangguran sampai 3,5 juta. Namun, sampai akhir masa jabatannya target tersebut gagal diwujudkan.
Kegagalan tersebut rupanya harus dibayar mahal oleh Gerhard Schröder. Pada pemilu tahun 2005 Ketua Partai Sosial-Demokrat itu harus merelakan lawan politiknya mengambil alih posisi kepemimpinan. Masyarakat Jerman menginginkan perubahan. Mereka menginginkan seorang figur yang dapat menyelamatkan Jerman dari jurang kehancuran. Dan pilihan itu jatuh pada seorang politikus wanita, Dr Angela Merkel, yang telah memimpin Partai Christlich Demokratische Union Deutschland sejak tahun 2000. Kebijakan Merkel yang cenderung kapitalis sebenarnya kurang disukai oleh masyarakat kelas pekerja karena lebih menganakemaskan pemilik modal. Namun, berkat kepiawaiannya dan dukungan solid dari partainya, Merkel mampu menyakinkan masyarakat bahwa strateginya adalah satu-satunya cara untuk membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Read more
PERANCIS vs. BEIJING: Who wins?
May 20, 2008 by verdinand
Filed under diplomacy, non-konvensional
Raka T Bataha*
Hubungan bilateral antar dua negara memang tidak dapat diprediksi oleh siapapun. Itulah yang terjadi antara China dan Perancis. Sebelum terjadi gangguan terhadap arakan obor Olimpiade, hubungan kedua negara dapat dikatakan sangat baik. Bidang ekonomi dan politik mendapat perhatian utama dalam kerjasama tersebut. Bertahun-tahun usaha untuk membina hubungan akhirnya menjadi kacau hanya karena peristiwa sehari.
Penyebab utamanya adalah karena China dipandang tidak menghargai hak kemerdekaan Tibet yang masih menjadi wilayah kekuasaannya. Demi kebebasan berpolitik dan beragama, sekitar 140 warga etnis Tibet tewas. Angka sebanyak itu yang disiarkan Pemerintah Tibet dalam pengasingan. Sebanyak 22 orang China juga diberitakan tewas dalam kerusuhan yang pecah sejak 24 Maret 2008. Memang ketetapan jumlah korban masih simpang siur, bisa lebih banyak atau lebih sedikit, karena terbatas atau bahkan tertutupnya akses ke Tibet.
Para demonstran pro-Tibet di Perancis telah melakukan berbagai protes mengenai kebijakan China ini. Hal ini sebenarnya juga didukung oleh hampir seluruh aktivis HAM di dunia. Puncaknya terjadi di Paris, ketika arakan obor Olimpiade yang mengelilingi kota Paris berusaha direbut oleh salah satu aktivis Perancis. Aksi ini sampai membuat polisi Perancis membatalkan etape terakhir lari beranting membawa Obor Olimpiade di Paris akibat ramai dan luasnya protes atas penumpasan yang dilakukan China di Tibet. Polisi sampai dua kali terpaksa memadamkan api simbolis itu dan membawa bersama pengaraknya dengan bus melalui massa yang terdiri dari pemrotes yang marah, sebagian diantaranya melambai-lambaikan bendera Tibet. Polisi anti huru-hara memagari jalan-jalan kota Paris sementara demonstran lain mengibarkan bendera hitam dari Menara Eiffel yang kelima cincinnya berbentuk borgol. Read more
Stupid Giant
May 13, 2008 by verdinand
Filed under EKO-POL-IN, diplomacy, non-konvensional
Myanmar is crying. Cyclone Nargis has killed thousands of Myanmar people. 60.000 peoples are dead or missing. Millions of people were homeless and without food and water. The destruction is worse than tsunami that struck Aceh in 2004. The cyclone which struck Burma is the worst natural disaster the country has experienced in modern times.
Immediately, foreign aid is flying to Myanmar. Volunteers and experts are ready for Myanmar. However, junta blocked the aid. Aid agencies were still awaiting permissions to enter Myanmar. Junta is facing xenophobia toward foreign aid. Junta is very cautious toward foreigner since they want to hold national referendum. Generals are so fearful that this aid will be instrument for US to damage their campaign. As we know, US and many advanced countries hate junta for the reason of human rights and democracy.
Is this a new ultra-nationalism? No, I think this is a new stupidity. Why? First, Myanmar people are badly needs help. Meanwhile, foreign aid is vital since Myanmar face food crisis. Shops are closed. Farming is stopped. Second is about the referendum. I’m a human right activist. I do promote democracy and human rights. But in this case, we can put democracy and human rights in the second agenda. Reconstruction and aid should be the first priority. US and EU, focal player of human rights, recommend postponing the referendum. Then, why the government insists on doing referendum? Why junta is very scared toward the foreigner? Is this wariness related to referendum? Read more
On Ahmadiyah
May 4, 2008 by verdinand
Filed under domestik, non-konvensional
Ladies and gentlemen,
I’m sure all of us already knew the controversial case of Ahmadiyah. The Coordinating Board for Monitoring Religious Beliefs in Society (Bakor Pakem), the body that oversees (unorthodox) religious activity in Indonesia, has recommended that all activities of the sect Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) be stopped and the JAI dissolved. In other side, Adnan Buyung Nasution, member of President Advisory Board, disagree of this decision. He has spoken to the President that by prohibiting Ahmadiyah sect to pray will violate the basic rights of people to exercise their religious right. He added, Indonesia has suffered bad precedent when communist people (PKI) has been murdered mysteriously after new government (ORBA) declare to fight against communism in Indonesia.
I will not discuss whether Ahmadiyah is deviant or not. I know this is a sensitive issue since the issue comes around the belief of Islam. I just want to say two major thing in this writing. First, government should encourage conflicted groups to have intensive dialogue. Second, goverment must ensure the security of Ahmadiyah follower. Let me explain these arguments. Read more

