Komisi HAM ASEAN dan Diplomasi Indonesia

November 8, 2009 by verdinand  
Filed under diplomacy, headlines, non-konvensional

Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mencatat sejarah baru dengan ditandatanganinya Terms of Reference (ToR) ASEAN Intergovermental Commission on Human Rights (Komisi HAM ASEAN) sebagai hasil penyelenggaraan KTT ke-15 ASEAN yang berlangsung di Hua Hin, Thailand. Komisi HAM ASEAN diharapkan menjadi ujung tombak baru promosi dan perlindungan HAM di ASEAN.

Terdapat dua sisi yang menarik untuk dicermati dilihat dari perspektif ASEAN dan kepentingan Indonesia. Ditinjau dari perspektif ASEAN, pembentukan Komisi HAM ASEAN merupakan sebuah langkah maju dalam penguatan nilai-nilai HAM di ASEAN dan memberikan peluang yang lebih besar akan perbaikan implementasi dan penegakan HAM di ASEAN. Sedangkan dilihat dari kepentingan Indonesia, Komisi HAM ASEAN dapat menjadi salah satu instrumen penguatan peran diplomasi Indonesia berbasis kekuatan norma (normative power) di kawasan Asia Tenggara.

Meskipun dengan kewenangan yang terbatas, Komisi HAM ASEAN memberikan harapan baru baik bagi promosi nilai HAM maupun penyelesaian konflik HAM di ASEAN. Terdapat tiga capaian yang dapat dihasilkan oleh komisi baru ini yaitu pertama, penguatan peran masyarakat sipil sebagai jalur diplomasi baru dalam isu HAM. Kedua, pendekatan dialog oleh Komisi HAM ASEAN dalam promosi dan penyelesaian isu HAM dan terakhir, penguatan gradual fungsi, wewenang dan mandat Komisi HAM ASEAN.

Komisi HAM ASEAN terdiri atas wakil-wakil negara anggota ASEAN yang ditunjuk dari kelompok masyarakat madani dan organisasi HAM. Pembentukan Komisi HAM ASEAN merupakan penerjemahan multi-track diplomacy oleh negara anggota ASEAN dalam isu HAM. Dalam beberapa kasus pelanggaran HAM di kawasan misalnya, ASEAN terlihat begitu lemah karena diplomasi yang dijalankan negara-negara ASEAN – first-track diplomacy – begitu terbatas mengingat prinsip non-intervensi yang berlaku di kawasan. Kehadiran komisi ini diharapkan menjadi terobosan baru karena jaringan masyarakat sipil yang selama ini termarjinalkan dapat dioptimalisasi menjadi jalur diplomasi memajukan perkembangan HAM di ASEAN.

Komisi HAM ASEAN memiliki kewenangan untuk berkonsultasi dan berdialog dengan badan HAM di negara anggota ASEAN, badan HAM kawasan lain atau bahkan Dewan HAM PBB. Sudah terbukti bahwa dalam beberapa kasus, pendekatan berbasis kritik dan pemaksaan tidak efektif dalam penyelesaian isu HAM. Dalam kasus pelanggaran HAM di Myanmar, contohnya, Amerika Serikat dan negara anggota Uni Eropa beramai-ramai menjatuhkan sanksi terhadap Myanmar. Namun sampai saat ini, efektifitas kebijakan sanksi tersebut masih diragukan. Mengutip pernyataan wakil Indonesia dalam Komisi Hak Asasi Manusia ASEAN, Rafendi Djamin, di Tempointeraktif.com (23 Oktober 2009), bahwa dialog antara pemimpin ASEAN dengan wakil masyarakat sipil adalah tradisi baru yang harus diberi apresiasi. Oleh karena itu, promosi dan penyelesaian masalah HAM di ASEAN diharapkan akan jauh lebih efektif dengan pendekatan dialog yang dilakukan oleh Komisi HAM ASEAN.

Komisi HAM ASEAN tentu masih memiliki banyak keterbatasan baik dalam segi fungsi, mandat maupun kesekretariatan seperti yang disuarakan oleh para penggiat HAM selama ini. Namun hal tersebut tidak menutup fakta bahwa Komisi HAM ASEAN memiliki modal awal yang cukup untuk tumbuh menjadi sebuah badan HAM kawasan yang penting di masa depan. Uni Eropa yang dikenal sebagai organisasi kawasan dengan tingkat proteksi HAM yang sangat tinggi ini pun melalui proses perkembangan yang sangat panjang. Oleh karena itu Indonesia harus mengambil peluang ini dengan memimpin transformasi Komisi HAM ASEAN menjadi sebuah badan HAM yang diperhitungkan di dunia internasional.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah bagaimana Indonesia memainkan perannya melalui Komisi HAM ASEAN ini. Di tengah kawasan yang memiliki keragaman politik hak asasi manusia yang kompleks, tentu bukan sesuatu yang mudah memperjuangkan Komisi HAM ASEAN sebagai institusi yang solid dan efektif dalam penyelesaian isu HAM. Diperlukan strategi yang tepat agar peran Komisi HAM ASEAN dapat semakin menguat di ASEAN dan diterima oleh negara anggota ASEAN.

Salah satu caranya adalah dengan menggunakan kekuatan norma. Menurut Ian Manner (2005), kekuatan norma adalah kekuatan yang berasal dan bekerja dari sebuah ide, gagasan, nilai dan norma yang dimiliki sebuah aktor internasional. Aspek utama yang terkandung dari kekuatan norma ini adalah penekanan kepada kekuatan dari nilai dan norma untuk mempengaruhi sikap dari negara lain. Berbekal reputasi penyelesaian konflik Aceh dan kasus pelanggaran HAM di Timor Leste, Indonesia seharusnya mampu memanfaatkan potensi kekuatan norma dengan memproyeksikan pengalamannya ke kancah internasional, dan dalam hal ini adalah ASEAN.

Diplomasi Indonesia harus diarahkan untuk mempertahankan komitmen negara anggota ASEAN menjadikan hak asasi manusia sebagai norma dan nilai bersama ASEAN (common values) sebagaimana tercantum dalam Piagam ASEAN. Komitmen tersebut harus disertai dengan dukungan nyata dari negara anggota ASEAN bagi eksistensi dan kemajuan Komisi HAM ASEAN. Tantangan riil yang harus dijawab sesegera mungkin adalah Pemilu Myanmar yang akan dilaksanakan pada tahun 2010 tanpa keikutsertaan tokoh demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi. Menjadi harapan masyarakat ASEAN agar Komisi HAM ASEAN menjadi sebuah solusi efektif bagi masalah-masalah HAM yang selama ini melemahkan peran dan citra ASEAN di kancah internasional.

Verdinand Robertua

Are sanctions toward Myanmar effective?

November 2, 2009 by verdinand  
Filed under diplomacy, headlines, non-konvensional

Jakarta Globe (April 11 2009) posted an analysis written by Roger Mitton entitled “Extending Sanctions Will Help No One; It’s Now Time to Try a Different Track”. The article is so long that might disinterest reader to read it. It’s surprising to know that the article is fully related to my thesis core problem on how to tackle human rights issue in Myanmar. I and my other fellow argue that economic sanctions will change the junta ruling and my gangster opposition against economic sanctions and support economic cooperation instead. Read more

Hubungan Masyarakat vs Hubungan Internasional?

July 11, 2009 by verdinand  
Filed under Life after HI, bloggerHI, headlines

Tulisan berawal dari kegusaran saya sebagai seorang alumnus HI yang bekerja di salah satu firma konsultasi hubungan masyarakat. Saya amat tertarik untuk mencari hubungan nyata antara pekerjaan saya dengan dunia ilmu hubungan internasional yang telah saya geluti sejak kurang lebih empat tahun yang lalu. Saya belum pernah mempelajari hal ini sebelumya, namun saya punya dua jawaban sementara, yaitu:

1. Public affairs
Inilah persinggunggan paling nyata antara pekerjaan saya dengan latar belakang ilmu saya. Keterkaitan antara korporasi, negara dan sistem internasional tentu bukan hal yang asing lagi bagi Anda dan komunitas hubungan internasional. Mata kuliah sistem perdagangan internasional, sistem ekonomi moneter internasional, hukum internasional atau kajian-kajian kawasan dapat membantu kita memecahkan masalah-masalah yang selama ini dihadapi oleh banyak korporasi dan badan publik. Tidak heran karenanya, lulusan HI juga banyak dibutuhkan oleh institusi non-negara karena relevansi ilmu hubungan internasional terhadap kepentingan institusi tersebut. Sebagai catatan Anda, di kantor saat ini saya bekerja, ada lebih dari empat konsultan aktif yang berlatar belakang ilmu hubungan internasional.

2. Hubungan Internasional/Masyarakat
Saya pernah bertanya kepada kolega saya, juga seorang alumnus HI, yang bekerja di divisi hubungan masyarakat di salah perusahaan perangkat lunak terkemuka dunia. Dia berkata kepada saya bahwa bahwa esensi hubungan internasional sebenarnya sama dengan ilmu hubungan masyarakat yaitu teknik/seni berhubungan antar aktor. Hanya selama ini ilmu hubungan internasional berfokus kepada aktor negara/non-negara sedangkan ilmu hubungan masyarakat lebih berfokus kepada individu dan korporasi.

Saya belum membaca satu tulisan yang menggali lebih dalam mengenai persinggungan antara ilmu hubungan masyarakat dan hubungan internasional. Tetapi dari penelitian singkat saya, dapat disimpulkan bahwa ilmu hubungan masyarakat dan ilmu hubungan internasional memiliki karakteristiknya masing-masing yang dapat saling melengkapi satu sama lain. Sehingga dibutuhkan penjabaran lebih detail melalui kajian literatur atau pembahasan kasus-kasus lintas-disiplin yang pernah terjadi di Indonesia.

Sebagai penutup, saya ingin mengatakan bahwa sangat menarik untuk meneliti dan mengeksplorasi keterkaitan antara ilmu hubungan internasional dan ilmu hubungan masyarakat. Ilmu hubungan masyarakat di satu sisi, sudah sangat berkembang lengkap dengan beragam kajian praktisnya sedangkan ilmu hubungan internasional sangat kaya akan literatur filosofinya. Bukan tidak mungkin akan banyak mahasiswa Hubungan Internasional yang mendalami ilmu hubungan masyarakat atau sebaliknya.

Satu hal yang pasti, apabila memang Anda seorang penggiat hubungan internasional dan tertarik untuk masuk ke dalam dunia hubungan masyarakat, maka Anda dapat menjadi salah satu kompetitor yang kuat dari pesaing-pesaing lainnya.

Salam perjuangan!

Fallen Air Force

June 25, 2009 by verdinand  
Filed under headlines, perang damai

June 12, 2009: A 30-year-old Puma H-3306 helicopter crashed in at the Air Force’s Atang Sendjaja air base in Bogor, killing four and injuring three.
June 8, 2009: Another helicopter crash in West Java killed three
May 20, 2009: C-130 Hercules plane accident in East Java killed more than 100 soldiers and civilians, including villagers on the ground.
… (You can continue the story)

The purpose of this article is not to investigate the cause of these aircraft accidents. But as international relation and defense scholar, what we need to answer is whether global politics contributed to our poorly armed Indonesian military.

Some parties blame the government who allocate fewer budgets for our underfunded army. The approved Rp 36.39 trillion of 2008 army budgets is a far cry of the minimum Rp 100 trillion the Defense Ministry had demanded to modernize Indonesia’s armory. “Ideally, the maintenance cost should be 20 to 25 percent of the overall military budget, but at present it is less than 10 percent,” Indonesian Defense Minister Juwono Sudarsono told to The Jakarta Post (May 22, 2009).

Yes, we agree that budget is a big problem for our army. But there is other influential factor that we need to highlight. Indonesia’s Air Force has been long handicapped by a US ban on weapons sales. Pak Bantarto Bandoro once has asked the availability of spare parts and pilot training which only we can obtain in US. Until to date, Indonesian army is still heavily dependent on US. The tragedy could possibly have been prevented if there were a US aid to upgrade obsolete components.

So, what we can see here that budget is not the only factor of the tragedy. There are some other factors, technical and political that cause this crash. I believe, as the defense specialist, you can add up more factors here. But I can assure that all of us didn’t want any aircraft accidents in the future anymore. On my highest appreciation, we send condolences to victim of the series of Indonesian aircraft accidents.

My Whereabouts

June 21, 2009 by verdinand  
Filed under bloggerHI, headlines, personal things

Dear my beloved bloggerHI,

I found an interesting article titled “Senja Kala Blogging di Indonesia”, written by Tutu Nugraha Dewanto, an online PR consultant regarding decreased blogging activities in Indonesia. He stated that Indonesian netter now choose to have fun with his Facebook/Twitter account rather than to update their blogs. As the impact of this new trend, he added that many blogs now was being ignored and unupdated. It reminds me to portalHI, indeed.

Through YM and Facebook, I got tones of protest why portalHI hadn’t new article for a long time. Actually I’m trying to update portalHI but it’s really difficult to manage my time effectively and efficiently. The transition from collegiate life to working professional is my big problem. Currently I’m working in a independent global PR firm IndoPacific Edelman as account executive in Public Affairs division. But now I have updated portalHI and continue this further.

Please rest assures that I’m still belongs to bloggerHI. I do love writing, discussing IR issues with you and blogwalking. Apology for not updating this blog for a long time. Congratulation for Bung Asrudin with your new book. Bung, I’m still waiting for your free book (Smile). In conclusion, I believe that the increasing popularity of Facebook and other social network will not make our bloggerHI die down. It’s our chance to prove that blogging for IR scholar is an habit, an established practice.

Looking forward to your reply.

Best,

Verdinand

Wordcamp Indonesia 2009

January 4, 2009 by verdinand  
Filed under bloggerHI, headlines

Wordcamp adalah pertemuan akbar para penggemar dan pengembang Wordpress, open-source blog engine yang sudah digunakan lebih dari 55 juta pengguna di dunia. Ibaratnya konferensi dalam organisasi internasional, Wordcamp akan dipenuhi oleh berbagai pakar dan ahli yang menekuni pengembangan Wordpress. Ada yang bergerak dalam pengembangan themes, plugins, peningkatan trafik atau sistem operasi Wordpress itu sendiri. Wordcamp sendiri sudah diselenggarakan di berbagai negara tetapi Wordcamp terbesar yang pernah diselenggarakan adalah Wordcamp San Fransisco. Khusus untuk Asia Tenggara, baru Thailand dan Filipina yang menyelenggarakan Wordcamp. Kini saatnya untuk Indonesia! Read more

Happy New Year?

December 31, 2008 by verdinand  
Filed under headlines, perang damai

Sebenarnya tidak tepat untuk mengatakan Happy New Year. Persis di ujung tahun ini kita justru dihadapkan kepada kesedihan dan ke-putus-asa-an. Sangat sedih mendengarkan berita sedikitnya 380 warga Palestina tewas ditembak F16 Israel di Jalur Gaza. Sikap putus asa mencuat ketika membaca koran yang penuh dengan berita PHK besar-besaran di berbagai negara termasuk Indonesia. Lantas dimana kata “happy”-nya ketika tangisan ibu dan anak-anak memenuhi dinding-dinding bangunan di Jalur Gaza? Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi kondisi ekonomi yang menjadi sangat sulit seperti sekarang ini?

Read more

Bush dilempar sepatu :)

December 15, 2008 by verdinand  
Filed under headlines, non-konvensional

Awalnya biasa-biasa saja mendengar Bush dilempar sepatu dari salah satu stasiun berita elektronik, tetapi melihat videonya di Liputan 6 membuat saya kaget dan heran. Kaget karena baru kali ini saya melihat seorang presiden dilempar sepatu ke wajahnya. Dua kali pula. Saya tidak sedih dengan kejadian tersebut. Bush bukan presiden Indonesia. Apalagi tokoh idola saya. Lemparan sepatu ini bisa dimengerti karena kemarahan yang amat dalam oleh masyarakat Irak atas kebijakan perang Irak yang telah dibuatnya. Keheranan saya muncul mengingat presiden AS termasuk presiden yang mendapat pengawalan paling ketat di dunia. Kemana semua agen Secret Service yang terkenal itu? Read more